Regional

Latest Program: Profil Siswanto, Wakil Rektor UNY yang Viral karena Cekcok dengan Mahasiswa tentang SPPG

Latest Program: Profil Siswanto, Wakil Rektor UNY yang Viral karena Cekcok dengan Mahasiswa tentang SPPG Latest Program – Konflik antara Wakil Rektor Bidang

Desk Regional
Published Juni 27, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Latest Program: Profil Siswanto, Wakil Rektor UNY yang Viral karena Cekcok dengan Mahasiswa tentang SPPG

Latest Program – Konflik antara Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Hukum Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Siswanto, dengan sejumlah mahasiswa menjadi sorotan publik terutama setelah berita tersebut viral di media sosial. Aksi mahasiswa yang berlangsung di Rektorat UNY pada Rabu, 24 Juni 2026, dianggap sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dianggap tidak efektif dan berpotensi menimbulkan masalah. Pemicu utama konflik ini adalah penolakan mahasiswa terhadap pendirian SPPG yang menurut mereka justru mengubah kampus menjadi tempat penyampaian kebijakan daripada ruang kritik dan pemikiran.

Latar Belakang Aksi Mahasiswa

Konflik terjadi saat mahasiswa UNY melakukan aksi unjuk kegemparan di Rektorat. Mereka membawa spanduk berwarna putih dengan pesan yang menyentuh, seperti “REKTOR KAMPUS PENDIDIKAN TIDAK PAHAM PENDIDIKAN. KAMPUS DIJADIKAN TEMPAT MEMASAK MAKANAN BUKAN MEMASAK PIKIRAN. KAMI MAHASISWA UNY MENOLAK SPPG.” Aksi ini dilakukan di tengah acara wisuda, yang menurut mahasiswa adalah momen strategis untuk menyampaikan kritik karena terdapat banyak orang yang dapat menyaksikan dan merespons pernyataan mereka.

Siswanto, sebagai perwakilan dari universitas, memberikan tanggapan tajam terhadap spanduk mahasiswa. Ia menyebut spanduk tersebut sebagai “sampah” yang “mengotori lantai” dan menyatakan bahwa tampilannya tidak mencerminkan kejelasan. “Sampah itu, Mas. Sampah,” ujarnya sambil menunjuk-nunjuk spanduk. “Tanya aja sama teman-teman, itu bersih atau kotor. Kotor. Hanya orang yang mengatakan bersih itu yang enggak waras menurut saya.”

Analisis Kritik terhadap SPPG

Menurut mahasiswa, kebijakan SPPG dinilai tidak sesuai dengan visi kampus sebagai pusat pendidikan dan pengembangan kecerdasan. Mereka mengungkapkan bahwa program ini memiliki perencanaan yang kurang matang dan berpotensi menjadi celah bagi praktik korupsi. Selain itu, mahasiswa juga mengkhawatirkan dampak negatif dari SPPG terhadap kesehatan, terutama terkait kekhawatiran keracunan akibat program Makan Bergizi (MBG) yang diterapkan.

Dalam wawancara dengan Tribun Jogja, Andri, perwakilan Aliansi Mahasiswa UNY, menyesalkan sikap Siswanto yang dianggap terlalu keras dalam merespons aksi mahasiswa. “Kita kaget aja sih, khususnya saya sendiri syok dan diam gitu. Harusnya kan misal nggak boleh, bisa berkomunikasi lah dengan baik. Jangan sampai menghina aksi kami atau menghina peraga aksi. Itu (peraga aksi) juga kita buat, kita lelah, dan mengeluarkan biaya juga,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa aksi ini bukan sekadar protes, tetapi juga upaya untuk menunjukkan kampus sebagai wadah dialog dan kritik sosial.

Sebagai bagian dari Latest Program, SPPG dianggap sebagai upaya universitas untuk meningkatkan kualitas nutrisi mahasiswa. Namun, mahasiswa menilai kebijakan ini justru mengabaikan kebutuhan akan transparansi dan keterlibatan masyarakat akademik dalam pengambilan keputusan. Mereka juga menyoroti bahwa SPPG bisa dianggap sebagai bagian dari kebijakan pendidikan yang tidak berimbang, terutama karena tidak menjamin kesejahteraan mahasiswa melainkan justru memperumit birokrasi.

Sejumlah mahasiswa lainnya menyatakan bahwa SPPG memicu kebingungan di kalangan siswa karena kurangnya penjelasan tentang tujuan dan manfaat program tersebut. “Program ini justru membuat mahasiswa merasa tertekan dan tidak memiliki ruang untuk berpikir secara mandiri. Kampus seharusnya menjadi tempat penghasil gagasan, bukan tempat mengeksekusi kebijakan tanpa dialog,” kata salah satu mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya. Ia menilai konflik antara Siswanto dan mahasiswa menjadi bagian dari diskusi kritis yang diperlukan dalam rangka menyempurnakan kebijakan pendidikan.

Seiring berjalannya waktu, konflik ini memicu perdebatan di media sosial. Banyak netizen yang memihak mahasiswa karena menganggap aksi tersebut sebagai bentuk peneguhan sikap kritis. Namun, sebagian pihak juga mendukung Siswanto, mengatakan bahwa perlu ada kejelasan dalam menyampaikan pesan kebijakan. Dalam konteks Latest Program, aksi ini menunjukkan bahwa perubahan kebijakan pendidikan sering kali mengundang reaksi yang beragam dari berbagai pihak, terutama jika terkait dengan kepentingan masyarakat.

Leave a Comment