Bisnis

Di Balik Besek Bambu – Jadah Tempe Mbah Carik Berjuang Menolak Punah

Di Balik Besek Bambu, Jadah Tempe Mbah Carik Berjuang Menolak Punah Di Balik Besek Bambu - Aktivitas yang sibuk terlihat jelas di dapur Outlet Jadah Tempe

Desk Bisnis
Published Juni 27, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Di Balik Besek Bambu, Jadah Tempe Mbah Carik Berjuang Menolak Punah

Di Balik Besek Bambu – Aktivitas yang sibuk terlihat jelas di dapur Outlet Jadah Tempe Mbah Carik, Jalan Kaliurang Nomor 37, Kayen, Condongcatur, Depok, Sleman, DIY, Selasa (14/4/2026) siang. Dua karyawan bekerja sama, membagi tugas untuk menyiapkan ratusan bungkus pesanan jadah tempe yang menunggu. Di sudut dapur, sepasang tangan lincah mengambil jadah yang baru matang dari dalam dandang. Saat masih mengeluarkan uap panas, jadah langsung dibentuk menjadi bentuk bulat datar agar teksturnya tetap sempurna. Sementara itu, karyawan lain menata jadah bersama tempe bacem di atas daun pisang, lalu mengikatnya rapi sebelum dimasukkan ke dalam besek—wadah tradisional berbentuk kotak dari anyaman bambu.

Warisan Rasa yang Berusia Ratusan Tahun

Untuk generasi keempat Jadah Tempe Mbah Carik, Angga Kusuma Ariwibowo, jadah tempe bukan sekadar camilan biasa. Menurutnya, makanan khas Yogyakarta ini merupakan bagian dari warisan rasa yang bertahan sejak era dulu, meski terus menghadapi persaingan makanan modern. Angga menjelaskan, jadah yang terbuat dari ketan dan kelapa telah ada sejak abad ke-10 Masehi. Rasa gurih yang khas dan tekstur lembut serta kenyal membuatnya menjadi pilihan masyarakat Jawa sejak lama.

“Jadah bukan sekadar makanan, tapi cerita rasa yang mengakar dalam budaya kita.”

Tempe bacem, sebagai pendamping jadah, juga memiliki akar sejarah yang dalam. Olahan tempe yang direndam dalam larutan gula merah, garam, dan bumbu rempah telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram. Keberadaannya bahkan tercatat dalam manuskrip Serat Centhini pada abad ke-18. Awalnya, jadah dan tempe bacem dinikmati secara terpisah. Namun, suatu hari muncul ide sederhana namun kreatif dari Ngadikem Sastrodinomo, seorang carik atau juru tulis Desa Kaliurang.

“Saya mencoba menggabungkan sepotong jadah dengan tempe bacem dalam satu gigitan. Hasilnya menciptakan rasa yang unik dan menarik.”

Ide ini menjadi awal dari kombinasi khas yang kini dikenal sebagai jadah tempe. Perpaduan tekstur kenyal dari jadah dan gurih-manis tempe bacem memicu popularitas makanan ini. Angga menambahkan, keberlanjutan jadah tempe bukan hanya soal tradisi, tapi juga perjuangan untuk menjaga identitas kuliner lokal di tengah perubahan zaman.

Leave a Comment