Beritahitam.com – TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pendiri Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengungkap hasil riset yang menunjukkan Generasi Z (Gen Z) cenderung memiliki tingkat religiusitas lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Dalam riset yang sama, Gen Z juga dinilai lebih aktif di komunitas nonkeagamaan, seperti padel dan K-Pop. Temuan tersebut dipaparkan Burhanuddin saat menjadi pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Minggu (26/7/2026).
Generasi Z merujuk pada kelompok yang lahir sekitar 1997–2012. Adapun generasi yang berada tepat sebelum Gen Z adalah Generasi Milenial, yakni kelahiran sekitar 1981–1996. Burhanuddin mengatakan kesimpulan tersebut diperoleh dari analisis dua hingga tiga juta data survei yang dikumpulkan sejak 1999.
Hasil riset itu, kata Burhanuddin, membuatnya resah. Menurutnya, temuan tersebut semestinya menjadi perhatian ulama dan organisasi keagamaan karena menunjukkan kecenderungan menurunnya religiusitas di kalangan Gen Z. "Ada data yang cukup merisaukan saya yang seharusnya menjadi bahan pembicaraan oleh ulama, oleh Majelis Ulama Indonesia," ujar Burhanuddin.
MUI Bahas Usulan RUU Pemidanaan LGBT di KUII, Naskah Akademik Akan Diserahkan ke Presiden dan DPR Menurut Burhanuddin, analisis tersebut menemukan pola bahwa Gen Z umumnya less religious, atau memiliki tingkat religiusitas lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Perubahan itu, lanjut Burhanuddin, terlihat dari semakin jarangnya Gen Z menjadikan agama sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan. Partisipasi mereka dalam organisasi keagamaan juga cenderung menurun.
"Gen Z itu makin jarang memakai agama dalam mengambil keputusan. Aktivitas dalam organisasi keagamaan juga menurun. Gen Z sekarang lebih banyak aktif di organisasi seperti padel, K-Pop, sementara responden yang lebih tua umumnya aktif di majelis taklim, NU, HMI, PMII, IMM," katanya.
Burhanuddin menggunakan komunitas padel dan K-Pop sebagai contoh aktivitas yang kini lebih banyak diikuti sebagian Gen Z dibanding organisasi keagamaan. Gen Z Dinilai Lebih Kritis terhadap Otoritas Selain religiusitas, Burhanuddin juga menemukan Gen Z cenderung semakin kurang percaya terhadap otoritas atau hierarki dibanding generasi sebelumnya. "Gen Z dalam survei-survei kita makin kurang percaya terhadap otoritas atau hierarki.
Dan itu yang mungkin menjelaskan mengapa mereka punya pandangan untuk misalnya enggak menikah belakangan. Kalaupun menikah, mereka enggak mau punya anak, child-free," ujarnya. Istilah child-free yang digunakan Burhanuddin merujuk pada pilihan seseorang untuk tidak memiliki anak.
Menurut Burhanuddin, kecenderungan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terlihat di berbagai negara seiring munculnya generasi baru dengan karakter sosial yang berbeda. "Ini terjadi di seluruh dunia. Bukan hanya Islam yang mengalami kemerosotan, tetapi banyak agama di dunia yang menghadapi tren serupa karena lahirnya generasi baru," katanya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pendiri Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengungkap hasil riset yang menunjukkan Generasi Z (Gen Z) cenderung memiliki tingkat religiusitas lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Dalam riset yang sama, Gen Z juga dinilai lebih aktif di komunitas nonkeagamaan, seperti padel dan K-Pop. Temuan tersebut dipaparkan Burhanuddin saat menjadi pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Minggu (26/7/2026).
Generasi Z merujuk pada kelompok yang lahir sekitar 1997–2012. Adapun generasi yang berada tepat sebelum Gen Z adalah Generasi Milenial, yakni kelahiran sekitar 1981–1996. Burhanuddin mengatakan kesimpulan tersebut diperoleh dari analisis dua hingga tiga juta data survei yang dikumpulkan sejak 1999.
Hasil riset itu, kata Burhanuddin, membuatnya resah. Menurutnya, temuan tersebut semestinya menjadi perhatian ulama dan organisasi keagamaan karena menunjukkan kecenderungan menurunnya religiusitas di kalangan Gen Z. "Ada data yang cukup merisaukan saya yang seharusnya menjadi bahan pembicaraan oleh ulama, oleh Majelis Ulama Indonesia," ujar Burhanuddin.
MUI Bahas Usulan RUU Pemidanaan LGBT di KUII, Naskah Akademik Akan Diserahkan ke Presiden dan DPR Menurut Burhanuddin, analisis tersebut menemukan pola bahwa Gen Z umumnya less religious, atau memiliki tingkat religiusitas lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Perubahan itu, lanjut Burhanuddin, terlihat dari semakin jarangnya Gen Z menjadikan agama sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan. Partisipasi mereka dalam organisasi keagamaan juga cenderung menurun.
"Gen Z itu makin jarang memakai agama dalam mengambil keputusan. Aktivitas dalam organisasi keagamaan juga menurun. Gen Z sekarang lebih banyak aktif di organisasi seperti padel, K-Pop, sementara responden yang lebih tua umumnya aktif di majelis taklim, NU, HMI, PMII, IMM," katanya.
Burhanuddin menggunakan komunitas padel dan K-Pop sebagai contoh aktivitas yang kini lebih banyak diikuti sebagian Gen Z dibanding organisasi keagamaan. Selain religiusitas, Burhanuddin juga menemukan Gen Z cenderung semakin kurang percaya terhadap otoritas atau hierarki dibanding generasi sebelumnya. "Gen Z dalam survei-survei kita makin kurang percaya terhadap otoritas atau hierarki.
Dan itu yang mungkin menjelaskan mengapa mereka punya pandangan untuk misalnya enggak menikah belakangan. Kalaupun menikah, mereka enggak mau punya anak, child-free," ujarnya. Istilah child-free yang digunakan Burhanuddin merujuk pada pilihan seseorang untuk tidak memiliki anak.
Menurut Burhanuddin, kecenderungan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terlihat di berbagai negara seiring munculnya generasi baru dengan karakter sosial yang berbeda. "Ini terjadi di seluruh dunia. Bukan hanya Islam yang mengalami kemerosotan, tetapi banyak agama di dunia yang menghadapi tren serupa karena lahirnya generasi baru," katanya.

