Uji Coba Perlinsos Digital Surabaya Capai 99,94 Persen
Beritahitam.com – Kota Surabaya mencatatkan pencapaian luar biasa dalam Uji Coba Perlinsos Digital di Surabaya pada tahun 2026. Sebagai salah satu dari 42 wilayah percontohan nasional, daerah ini berhasil menyelesaikan tahap pendataan dengan tingkat keberhasilan mencapai 99,94 persen. Pencapaian ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan presisi penyaluran bantuan sosial, sekaligus mengurangi kesalahan dalam menentukan penerima yang tepat.
Program yang dilaksanakan antara tanggal 20 Juni hingga 7 Juli 2026 tersebut merupakan bagian integral dari transformasi nasional menuju sistem perlindungan sosial yang lebih modern dan berbasis teknologi digital. Integrasi data dari berbagai kementerian serta lembaga pemerintah memungkinkan proses verifikasi penerima bantuan memanfaatkan beberapa komponen teknologi terkini, termasuk Nomor Induk Kependudukan (NIK), Identitas Kependudukan Digital (IKD), dan sistem pengenalan wajah.
Verifikasi Lebih Cepat dan Akurat
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyampaikan bahwa penerapan teknologi digital dalam Perlinsos merupakan langkah krusial untuk menciptakan sistem perlindungan sosial yang lebih efisien, presisi, dan transparan. Ia menjelaskan bahwa proses verifikasi yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan kini dapat dipersingkat secara drastis.
“Melalui penerapan sistem tersebut, proses verifikasi yang selama ini memerlukan waktu berbulan-bulan diharapkan dapat dipangkas secara signifikan menjadi sekitar 15 hingga 45 menit. Hasil verifikasi akan langsung menunjukkan tingkat kelayakan seseorang sebagai penerima bantuan sosial,” ujar Wali Kota Eri pada Kamis (30/7/2026).
Dalam mendukung operasional program ini, Pemerintah Kota Surabaya telah mengerahkan sebanyak 13.094 agen Perlinsos. Personel tersebut terdiri dari aparatur sipil negara, pendamping Program Keluarga Harapan, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan, perwakilan RT/RW, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Apresiasi dari Bakom RI
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia, Muhammad Qodari, memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan Surabaya. Apresiasi ini disampaikan saat ia melakukan peninjauan langsung terhadap proses pendataan dan uji coba aplikasi di Kantor Kecamatan Tambaksari pada Selasa (28/7/2026).
Menurut Qodari, digitalisasi sistem bantuan sosial merupakan program strategis yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya adalah memastikan anggaran perlindungan sosial senilai Rp1.300 triliun atau setara dengan 30 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat disalurkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Prinsipnya harus adil kepada yang berhak menerima, dan yang tidak layak tidak boleh menerima. Selama ini ada inclusion error atau mereka yang tidak berhak malah masuk, serta exclusion error di mana yang berhak justru terlewat,” ujar Qodari.
Akurasi Penerima Meningkat Signifikan
Berdasarkan informasi dari aplikasi Sayang Warga, dari total lebih dari satu juta kepala keluarga di Surabaya, sebanyak 334.560 KK terdaftar melalui agen Perlinsos, sementara 62.673 KK melakukan pendaftaran secara mandiri. Secara keseluruhan, capaian pendataan telah menyentuh angka 99,94 persen.
Hasil pendataan mengungkapkan bahwa sebanyak 119.000 KK di Surabaya memenuhi kriteria untuk menerima bantuan sosial. Menariknya, terdapat fenomena positif di mana sejumlah warga secara sukarela menolak bantuan karena menyadari diri tidak layak menerimanya.
“Di Surabaya ada sebanyak 119.000 KK yang berhak menerima bantuan, dan hebatnya lagi ada yang menolak karena sadar diri tidak berhak menerima bansos sebanyak 359.856 KK,” terangnya.
Qodari menambahkan bahwa sistem baru ini berhasil memperbaiki akurasi data penerima bantuan secara substansial. Dari data lama yang mencatat sekitar 101.000 KK sebagai penerima, ditemukan inclusion error sebesar 25 persen atau sekitar 25.000 KK yang sebenarnya tidak memenuhi syarat sehingga dikeluarkan dari daftar penerima.
Sebaliknya, Perlinsos Digital berhasil mengidentifikasi sekitar 51.000 KK atau setara dengan 43 persen dari total 119.000 KK penerima yang selama ini belum tercatat dalam sistem, padahal mereka berhak memperoleh bantuan. Kondisi ini dikenal sebagai exclusion error.
“Bayangkan, ada sekitar 51.000 KK atau setara 175.000 jiwa yang selama ini harusnya dapat tapi tidak menerima. Hari ini mereka mendapatkan keadilan lewat digitalisasi perlinsos,” tegasnya.
Selama peninjauan tersebut, Qodari juga mencoba langsung proses verifikasi menggunakan aplikasi Sayang Warga. Ia mengapresiasi antusiasme masyarakat Surabaya yang aktif berpartisipasi dalam program ini. Baca juga: Perkembangan Program Perlinsos di Indonesia
FAQ: Uji Coba Perlinsos Digital di Surabaya
Berapa persen keberhasilan Uji Coba Perlinsos Digital di Surabaya? Uji Coba Perlinsos Digital di Surabaya mencapai keberhasilan 99,94 persen dalam tahap pendataan.
Berapa lama waktu verifikasi dengan sistem baru? Proses verifikasi yang sebelumnya berbulan-bulan kini dapat dipersingkat menjadi sekitar 15 hingga 45 menit.
Berapa jumlah agen Perlinsos yang dikerahkan di Surabaya? Pemerintah Kota Surabaya mengerahkan sebanyak 13.094 agen Perlinsos dari berbagai elemen masyarakat.
Berapa banyak KK yang berhak menerima bantuan di Surabaya? Sebanyak 119.000 KK di Surabaya memenuhi kriteria untuk menerima bantuan sosial melalui sistem baru.
Apa yang dimaksud dengan inclusion error dan exclusion error? Inclusion error adalah mereka yang tidak berhak malah masuk sebagai penerima, sedangkan exclusion error adalah yang berhak justru terlewat dari daftar penerima.
