Seleb

New Policy: Putuskan Kuliah di Usia 40 Tahun, Dewi Perssik: Cari Ilmu Nggak Pandang Usia

g Tidak Pandang Usia, 'New Policy' Masuk Kuliah di Usia 40 Tahun New Policy - Kebijakan baru yang diambil oleh presenter dan pedangdut ternama Dewi Perssik

Desk Seleb
Published Mei 29, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Dewi Perssik Jadi Ibu dan Host yang Tidak Pandang Usia, ‘New Policy’ Masuk Kuliah di Usia 40 Tahun

New Policy – Kebijakan baru yang diambil oleh presenter dan pedangdut ternama Dewi Perssik telah memicu perdebatan dan perhatian publik. Di usia 40 tahun, mantan istri Aldi Taher ini memutuskan mengikuti program studi S1 Psikologi, sebuah langkah yang menggambarkan semangat ‘New Policy’ dalam pendidikan. Meski banyak orang mengira usia 40 adalah batas akhir untuk memulai kuliah, Dewi menegaskan bahwa mencari ilmu tidak terbatas oleh usia, dan ia ingin menunjukkan bahwa hal tersebut bisa dilakukan kapan saja.

Penjelasan tentang Kebijakan Baru dalam Pendidikan

Dewi Perssik mengungkapkan bahwa ‘New Policy’ ini berawal dari keinginannya untuk terus berkembang di dunia hiburan. “Tidak ada batas usia untuk memperoleh pengetahuan, bahkan di usia 40 tahun, seseorang masih bisa memulai pendidikan tinggi,” jelasnya dalam wawancara dengan YouTube Intens Investigasi. Keputusan ini tidak hanya untuk meningkatkan kompetensi sebagai host, tetapi juga untuk memperkaya diri secara keseluruhan.

“Saya yakin ‘New Policy’ tentang mencari ilmu akan berdampak positif pada hidup saya. Tidak peduli usia, selama masih ada kemauan dan semangat, segalanya bisa dilakukan,” ujar Dewi, Jumat (29/5/2026).

Kebijakan ini juga menjadi inspirasi bagi banyak individu yang merasa terlambat untuk mengejar pendidikan. Dewi berharap melalui langkahnya, masyarakat akan lebih terbuka terhadap peluang belajar yang selama ini dianggap bersifat ‘New Policy’—baik dari segi waktu maupun kesempatan. “Banyak orang mengira usia 40 tahun adalah usia yang sudah terlalu tua, tapi saya membuktikan bahwa ‘New Policy’ bisa dijalani dengan baik,” tegasnya.

Peran Psikologi dalam Kariernya sebagai Host

Pemilihan jurusan Psikologi didasari oleh kebutuhan Dewi untuk lebih memahami dinamika manusia, terutama dalam lingkungan kerja di dunia hiburan. “Dengan latar belakang psikologi, saya bisa lebih sensitif dalam berinteraksi dengan tamu di acara-acara saya. ‘New Policy’ ini juga membantu saya dalam mengelola emosi dan hubungan dengan orang-orang di sekitar,” jelasnya.

“Ilmu psikologi akan memperkuat kemampuan saya sebagai host. Tidak hanya itu, ‘New Policy’ tentang belajar tanpa memandang usia akan memberi saya pandangan baru tentang cara berpikir dan menghadapi berbagai situasi,” tambah Dewi.

Menurut Dewi, kunci keberhasilan dalam proses belajar adalah keseriusan dan konsistensi. “Saya tidak pernah berpikir bahwa usia 40 tahun adalah penghalang. ‘New Policy’ ini justru menjadi motivasi saya untuk terus berkembang, meski harus membagi waktu antara kerja dan studi.”

Tujuan Khusus untuk Anak dan Diri Sendiri

Dewi juga menjelaskan bahwa keputusan ini tidak hanya untuk karier, tetapi juga untuk kebaikan keluarganya. “Tujuan utama saya mengambil jurusan ini adalah agar bisa menjadi ibu yang lebih memahami anak saya. ‘New Policy’ dalam pendidikan membantu saya merancang cara-cara baru untuk mengasah kemampuan menjadi orang tua yang baik,” ujarnya.

“Anak-anak membutuhkan perhatian yang lebih intens, dan ilmu psikologi akan membantu saya memahami bagaimana mereka berpikir dan bereaksi terhadap lingkungan. ‘New Policy’ ini juga membuat saya merasa bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus tumbuh,” kata Dewi.

Dalam perspektifnya, Dewi percaya bahwa belajar di usia 40 tahun justru memberikan keuntungan unik. “Di usia yang lebih matang, saya lebih mampu mengelola waktu dan fokus. ‘New Policy’ ini tidak hanya tentang usia, tetapi juga tentang komitmen terhadap peningkatan diri, terlepas dari status sosial atau kondisi sebelumnya.”

Pengalaman Belajar di Usia yang Lebih Dewasa

Kehidupan kuliah di usia 40 tahun menurut Dewi berbeda dari generasi muda. “Saya harus mengatur jadwal yang lebih ketat, dan kadang-kadang merasa lebih tekanan karena harus beradaptasi dengan pola belajar yang berbeda. Namun, ‘New Policy’ ini justru memperkuat semangat saya untuk berjuang. Setiap tantangan dianggap sebagai kesempatan belajar,” katanya.

“Belajar di usia 40 tahun bukan hanya tentang mencatat materi, tetapi juga tentang refleksi diri dan penerapan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. ‘New Policy’ ini membantu saya menghadapi perubahan dengan lebih tenang dan penuh persiapan,” terang Dewi.

Kebijakan ini juga menjadi contoh nyata bahwa pendidikan tinggi tidak hanya untuk anak muda. Dewi berharap melalui pengalamannya, ada lebih banyak orang yang percaya bahwa ‘New Policy’ dalam pendidikan bisa dijalani kapan saja, terlepas dari masa lalu atau usia. “Saya ingin menunjukkan bahwa usia bukan penghalang, tetapi alat untuk mengejar hal-hal yang lebih besar,” pungkasnya.

Impak ‘New Policy’ pada Perubahan Diri dan Masyarakat

Dewi Perssik memandang bahwa ‘New Policy’ ini tidak hanya mengubah dirinya sendiri, tetapi juga memengaruhi cara orang lain memandang pendidikan. “Banyak teman dan kenalan yang kaget dengan keputusan saya. Mereka bertanya-tanya, ‘Apakah dewasa ini masih bisa kuliah?’ Saya menjawab dengan semangat ‘New Policy’—ya, bisa, dan harus dilakukan,” katanya.

“Saya ingin menegaskan bahwa ‘New Policy’ tentang pendidikan tinggi bisa dijalani oleh siapa pun, asalkan memiliki tekad. Usia 40 tahun justru bisa menjadi kekuatan, karena pengalaman dan kejelasan tujuan membuat proses belajar lebih efektif,” terang Depe.

Dewi juga menyebutkan bahwa proses belajar di usia yang lebih tua memperkuat kemampuan analisis dan penerapan ilmu. “Dengan kejelasan mengenai kebutuhan dan tujuan, saya bisa lebih cepat menangkap inti materi. ‘New Policy’ ini membuat saya percaya bahwa usia adalah bagian dari proses belajar, bukan penghalang.”

Terakhir, Dewi berharap keputusan ini bisa menjadi wawasan bagi para orang tua dan anak-anak. “Saya ingin menunjukkan bahwa ‘New Policy’ dalam pendidikan tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan, tetapi juga untuk memperkuat hubungan dengan anak. Karena itu, saya berkomitmen untuk melanjutkan studi, meski harus menghadapi berbagai tantangan.”

Leave a Comment