Kebanggaan Sebagai ‘Raja Tanpa Mahkota’ yang Selama Ini Diakui oleh Timnas Belanda
Kiprah sang Raja Tanpa Mahkota di Piala – Predikat ‘Raja Tanpa Mahkota’ yang melekat pada Timnas Belanda ternyata didasari oleh sejarah prestasi yang luar biasa. Meski tidak pernah meraih gelar juara, tim ini selalu menunjukkan kemampuan luar biasa di level turnamen internasional, termasuk Piala Dunia. Namun, secara konsisten, mereka mengalami kegagalan saat perebutan gelar terakhir.
Ronald Koeman: Pelatih yang Memimpin Upaya Menghapus Status Raja Tanpa Mahkota
Dalam Piala Dunia 2026, Belanda akan menghadapi tantangan baru di bawah arahan pelatih mereka, Ronald Koeman, yang juga merupakan legenda sepak bola nasional. Dengan kesempatan di Grup F, yang terdiri dari Jepang, Swedia, dan Tunisia, tim ini berharap bisa menciptakan perubahan dalam sejarahnya.
“Kebanggaan sebagai ‘Raja Tanpa Mahkota’ memiliki dasar yang kuat, namun kegagalan di babak final tetap menjadi penyesalan yang tak terlupakan.”
Rekam jejak Belanda sebagai tim yang berkali-kali mencapai babak final Piala Dunia mencatat tiga kali penyisihan, yaitu pada 1974, 1978, dan 2010. Sayangnya, dalam setiap final tersebut, mereka selalu kalah. Hal ini membuat Belanda menjadi salah satu tim yang dikenang sebagai pecundang sejati di babak akhir turnamen.
Di bawah bimbingan Koeman, De Oranye memperkuat skuadnya dengan kombinasi pemain muda dan veteran. Virgil Van Dijk, sebagai kapten utama, menjadi pilar kunci dalam upaya memperpanjang perjalanan tim di Piala Dunia 2026. Dengan permainan yang matang, mereka diharapkan bisa menciptakan kesuksesan berbeda.
Sebagai persiapan, Belanda sempat berlaga di babak penyisihan grup Euro 2024. Dalam pertandingan Grup D di Stadion Leipzig pada 21 Juni 2024, Xavi Simons (nomor punggung 07) sempat bereaksi terhadap keputusan wasit Inggris Anthony Taylor, yang anulir gol Simons setelah tinjauan VAR. Kondisi ini menjadi catatan kecil tentang tekanan yang dihadapi tim.
Dengan fondasi kuat dan pelatih berpengalaman, Belanda siap untuk menyongsong Piala Dunia 2026. Mereka memulai perjuangan dari Grup F, di mana keberhasilan di fase awal menjadi harapan utama untuk meraih prestasi yang lebih baik daripada sebelumnya.
