Regional

Ketua Geng Motor Brutaliti Menangis saat Diborgol – Sebelumnya Pimpin Konvoi Bawa Celurit Teror Warga

Ketua Geng Motor Brutaliti Menangis Saat Diborgol, Sebelumnya Terlibat Konvoi Teror Warga Ketua Geng Motor Brutaliti Menangis saat - Seorang remaja 17 tahun

Desk Regional
Published Mei 31, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Ketua Geng Motor Brutaliti Menangis Saat Diborgol, Sebelumnya Terlibat Konvoi Teror Warga

Ketua Geng Motor Brutaliti Menangis saat – Seorang remaja 17 tahun, MAR, yang dikenal sebagai ketua geng motor Brutaliti, menunjukkan emosi tinggi saat diikat borgol di Mapolsek Rogojampi, Banyuwangi. Momen tersebut terjadi di tengah penyelidikan kepolisian terhadap aksi konvoi yang sempat menghebohkan warga sekitar. Sebelum ditahan sebagai tersangka, MAR tampak berlinang air mata sambil memeluk orang tua yang menunggu di depan polsek. Aksi geng motor ini memicu perhatian publik karena berpotensi menyebarkan ketakutan di kalangan masyarakat.

Aksi Konvoi yang Viral

Konvoi geng motor Brutaliti terjadi di Jalan Raya Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari, pada dini hari Minggu (25/5/2026). Dalam video yang beredar, para anggota geng terlihat berkendara berkelompok sambil membawa celurit dan senjata tajam, menciptakan suasana yang mencekam. Aksi ini diketahui mengganggu keamanan warga, bahkan menimbulkan kekhawatiran akan serangan di masa depan. Berdasarkan laporan kepolisian, konvoi tersebut berlangsung selama beberapa jam, dengan para pelaku memasuki wilayah desa secara berkelompok.

Kanit Reskrim Polsek Rogojampi, Iptu Ocky Heru Prasetyo, mengungkapkan bahwa penyelidikan terhadap aksi konvoi ini membutuhkan waktu beberapa hari. “Kita mengumpulkan bukti-bukti melalui saksi, CCTV, dan bukti visual dari video viral,” jelas Ocky. Proses penyelidikan mengarah pada penetapan MAR sebagai ketua geng motor Brutaliti, yang dinilai menjadi pusat aksi kekerasan tersebut.

Langkah Penyelidikan dan Keterlibatan Anggota Lain

Dalam penyelidikan, polisi mengamankan dua anggota geng lainnya, yaitu NAS (16 tahun) dari Desa Tembokrejo dan JMA (15 tahun) asal Desa Kedungrejo. Kedua remaja ini menjadi saksi serta tersangka dalam kasus yang sama. Meski status mereka sebagai anak di bawah umur, keduanya tetap dijebloskan ke dalam proses hukum. Ocky menegaskan bahwa penanganan terhadap MAR lebih ketat karena ia dinyatakan sebagai pelaku utama.

“Kita berikan kesempatan untuk berbicara sepatah dua patah dengan orang tuanya. Ya mudah-mudahan jadi kebaikan, jadi efek cerah, jadi edukasi untuk semuanya,” ujar Ocky, mengutip pernyataannya pada hari Minggu (31/5/2026).

Kasus ini juga menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat tentang perlunya penegakan hukum terhadap remaja yang terlibat kekerasan. Selain itu, aksi konvoi ini menjadi contoh bagaimana geng motor bisa memanfaatkan senjata tajam sebagai alat intimidasi. Menurut warga sekitar, kejadian tersebut membuat sebagian besar penduduk merasa ketakutan, terutama saat malam hari.

Proses Hukum dan Pelajaran yang Diharapkan

MAR akan diperiksa lebih lanjut sebagai tersangka, sementara anggota lainnya diberi masa penahanan sementara. Proses ini diharapkan bisa menjadi pelajaran bagi para remaja dan warga yang terlibat langsung. “Kita ingin menunjukkan bahwa tindakan kekerasan, terutama dengan senjata tajam, akan ditindak tegas,” kata Ocky. Selain itu, polisi juga menyiapkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesadaran hukum.

Kasus geng motor Brutaliti ini menjadi sorotan karena dampaknya terhadap keamanan daerah. Sejumlah warga mengatakan bahwa aksi konvoi tersebut mengganggu kegiatan sehari-hari, terutama di sekitar Jalan Raya Desa Bomo. Mereka meminta pihak kepolisian untuk lebih aktif dalam mengawasi aktivitas geng motor di wilayah tersebut. “Harus ada tindakan preventif agar kejadian serupa tidak terulang,” tambah salah satu warga, yang tidak ingin disebutkan namanya.

Penetapan MAR sebagai tersangka juga menimbulkan reaksi dari keluarganya. Orang tua MAR mengatakan bahwa mereka terkejut dengan aksinya, tetapi tetap mendukung penegakan hukum. “Kami mengharapkan keadilan, dan juga ingin menunjukkan bahwa anak kami bisa bertindak dengan cara yang tidak benar,” ujarnya. Meski demikian, keluarga mengaku sedih melihat MAR menangis saat diborgol.

Leave a Comment