Nasional

New Policy: 5 Dampak Harga Pertamax Naik: Kenaikan Barang dan Jasa hingga Potensi Ancaman PHK

an Harga Pertamax pada Ekonomi dan Masyarakat New Policy - Seiring penerapan New Policy yang menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax, dampak ekonomi

Desk Nasional
Published Juni 10, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

New Policy: Dampak Kenaikan Harga Pertamax pada Ekonomi dan Masyarakat

New Policy – Seiring penerapan New Policy yang menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax, dampak ekonomi dan sosial mulai terasa secara signifikan. Kebijakan ini memicu perubahan perilaku konsumen, tekanan terhadap anggaran pemerintah, dan ancaman kenaikan biaya hidup. Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, serta Pertamax Green 95 yang naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter, terjadi setelah pemerintah memutuskan untuk menerapkan kebijakan baru yang bertujuan menyesuaikan harga bahan bakar dengan kondisi global dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Analisis Kebijakan New Policy

Kenaikan harga BBM Pertamax tidak terlepas dari tekanan global terhadap harga minyak mentah, yang mencapai USD 90 per barel, serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dr. Firre An Suprapto, S.AP., dosen Fisipol Universitas Negeri Surabaya dan anggota Masyarakat Kebijakan Publik Indonesia (MAKPI), mengungkapkan bahwa keputusan New Policy ini merupakan hasil dari keputusan fiskal yang terus menumpuk hingga mencapai ambang kritis. “Peningkatan harga ini dianggap sebagai keputusan yang tak terhindarkan, namun memiliki dampak luas terhadap kehidupan masyarakat,” jelas Firre dalam wawancara dengan Tribunnews.com.

Berikut ini beberapa dampak utama yang diakibatkan oleh New Policy kenaikan harga Pertamax. Pertama, inflasi di sektor transportasi dan logistik meningkat karena biaya bahan bakar yang lebih tinggi. Kedua, konsumen menengah ke bawah mengalami kesulitan dalam pengeluaran sehari-hari, terutama karena transportasi umum dan kendaraan pribadi menjadi lebih mahal. Ketiga, produsen yang mengandalkan bahan bakar Pertamax mengalami tekanan operasional, yang berpotensi memengaruhi produktivitas dan keuntungan perusahaan. Keempat, anggaran pemerintah dalam sektor subsidi terancam karena kebijakan ini mengurangi subsidi BBM yang sebelumnya digunakan untuk menopang harga bahan bakar.

Konsekuensi Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Kenaikan harga Pertamax sebagai bagian dari New Policy juga berdampak pada mobilitas masyarakat. Banyak warga yang memilih mengurangi penggunaan kendaraan bermotor atau beralih ke BBM bersubsidi seperti Pertalite, yang harganya lebih terjangkau. Namun, pergeseran ini menyebabkan kelangkaan BBM subsidi dan peningkatan konsumsi BBM premium. “Perubahan perilaku konsumen ini mengisyaratkan adanya pergeseran struktur penggunaan bahan bakar di Indonesia,” tambah Firre.

Di sisi lain, New Policy juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada subsidi BBM. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, subsidi BBM tahun ini mencapai Rp100 triliun, yang sebagian besar dialokasikan untuk Pertamax. Dengan kenaikan harga, pemerintah dapat memanfaatkan dana yang sebelumnya dialokasikan untuk subsidi untuk keperluan pembangunan infrastruktur atau peningkatan layanan publik. Namun, risiko kenaikan harga bahan bakar berdampak pada kemampuan beli masyarakat, terutama di daerah-daerah dengan ekonomi yang kurang stabil.

Para ahli ekonomi mengkhawatirkan bahwa kebijakan ini bisa memicu kenaikan biaya hidup yang lebih luas. Dengan Pertamax yang harganya melonjak 32 persen, biaya transportasi untuk barang dan jasa meningkat, yang berdampak pada harga-harga barang kebutuhan sehari-hari. Hal ini bisa berpotensi memicu peningkatan inflasi hingga 2-3 persen dalam beberapa bulan ke depan. “Kenaikan harga Pertamax hanya salah satu faktor, tetapi kombinasi dengan kenaikan harga bahan baku lainnya akan memperparah tekanan inflasi,” kata ekonom lainnya yang tidak disebutkan.

Potensi Ancaman Terhadap Perekonomian

Kebijakan New Policy dalam kenaikan harga Pertamax juga mengancam sektor-sektor yang bergerak di sekitar bahan bakar. Misalnya, industri transportasi, logistik, dan perdagangan harus beradaptasi dengan biaya operasional yang lebih tinggi. Selain itu, kebijakan ini bisa memengaruhi konsumsi masyarakat dalam skala besar, terutama mereka yang memiliki penghasilan tetap dan terbatas.

Perusahaan-perusahaan transportasi umum, seperti angkutan umum dan penyewaan kendaraan, mengalami tekanan signifikan karena biaya operasional meningkat. Dampaknya, tarif yang dikenakan kepada penumpang atau pengguna jasa bisa naik, yang berpotensi mengurangi jumlah pengguna dan menurunkan kepuasan pelanggan. Sementara itu, usaha mikro dan kecil menengah (UKM) yang bergantung pada transportasi jadi lebih sulit bersaing dalam pasar. “Kenaikan harga Pertamax memperkuat ancaman PHK karena biaya operasional perusahaan meningkat, dan mereka bisa memutuskan untuk mengurangi karyawan untuk menghemat anggaran,” kata Firre.

Masih ada potensi konsekuensi jangka panjang jika New Policy tidak diimbangi dengan kebijakan lain yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Pemerintah perlu memastikan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak menyebabkan krisis ekonomi atau kenaikan tingkat pengangguran. Selain itu, perlu adanya strategi pengamanan bagi masyarakat menengah ke bawah, seperti subsidi langsung atau bantuan pemerintah untuk mengurangi beban pengeluaran. “Selain kenaikan harga, kebijakan ini perlu diiringi dengan peningkatan produktivitas dan daya saing sektor riil,” kata Firre.

Seorang ekonom dari Institut Teknologi Bandung menambahkan bahwa New Policy dalam kenaikan harga Pertamax bisa menjadi titik perubahan pola konsumsi dan investasi di Indonesia. “Kenaikan harga ini tidak hanya memengaruhi perekonomian, tetapi juga mengubah kebijakan publik dalam jangka panjang,”

Leave a Comment