Nasional

Key Strategy: Alumni Bicara Sosok Ahmad Ghazy yang Dukung MBG, Ternyata Sudah Lulus dari UNJ Dua Tahun Lalu

a Lulus Dua Tahun Lalu Key Strategy – JAKARTA – Persoalan status sosok Ahmad Ghazy dalam aksi Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perbincangan hangat setelah

Desk Nasional
Published Juni 17, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Ahmad Ghazy, Alumni UNJ Dukung MBG Ternyata Lulus Dua Tahun Lalu

Key Strategy – JAKARTA – Persoalan status sosok Ahmad Ghazy dalam aksi Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perbincangan hangat setelah seorang alumni mengungkap fakta mengejutkan. Ghazy, yang dikenal sebagai pengusung program MBG, diklaim sebagai perwakilan BEM Fakultas Psikolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Namun, berdasarkan informasi terbaru, Ghazy sebenarnya telah menyelesaikan studinya dua tahun lalu. Fakta ini mengubah dinamika pengambilan keputusan dalam gerakan yang memperoleh dukungan luas.

Perjalanan Ahmad Ghazy dan Konflik Status

Ahmad Ghazy dikenal sebagai salah satu tokoh muda yang aktif dalam isu kesehatan masyarakat. Ia terdaftar sebagai mahasiswa UNJ sejak September 2020, namun statusnya sebagai anggota BEM Psikologi terbongkar setelah sumber alumni, M Gofahrul Ikhsan, mengungkap bahwa Ghazy telah lulus pada 2023/2024. “Key Strategy dalam MBG membutuhkan kejelasan peran setiap individu, dan Ghazy tidak memenuhi syarat,” jelas Gofahrul dalam posting Instagram @lambe_turah.

Pernyataan ini memicu pertanyaan mengenai kredibilitas dukungan Ghazy terhadap MBG. Banyak masyarakat mempertanyakan apakah Ghazy benar-benar memiliki wewenang untuk mewakili BEM dalam aksi tersebut. Menurut informasi yang dihimpun, Ghazy tidak pernah terlibat secara aktif dalam kegiatan BEM selama masa studi. Ini menunjukkan adanya kesenjangan antara peran yang diambil dan status aktual Ghazy.

Respons dari Pihak BEM dan Masyarakat

Sebagai tanggapan, pihak BEM Psikologi UNJ menyatakan bahwa Ghazy hanya memperoleh kepercayaan sementara sebagai koordinator aksi. “Key Strategy dalam MBG melibatkan kerja sama lintas fakultas, dan Ghazy dianggap mampu memimpin kegiatan,” kata salah satu perwakilan BEM. Namun, kritik dari alumni terus mengalir, menyoroti bahwa Ghazy tidak punya pengalaman langsung dalam mengelola kegiatan BEM.

Ketidaksesuaian ini menimbulkan kontroversi di media sosial. Banyak netizen mengkritik Ghazy atas keputusannya mencatut nama BEM untuk kepentingan pribadi. “Pemimpin yang tidak pernah turun ke jalan, tiba-tiba mengambil alih Key Strategy MBG, itu terkesan tidak konsisten,” tulis salah satu akun Twitter. Reaksi ini memperkuat dugaan bahwa keberadaan Ghazy dalam aksi MBG bersifat simbolis, bukan berdasarkan kualifikasi yang memadai.

Sejarah MBG dan Peran Alumni

MBG sebagai gerakan sosial telah mengalami perkembangan pesat dalam dua tahun terakhir. Program ini dimulai dengan Key Strategy yang mengutamakan keterlibatan mahasiswa dari berbagai fakultas. Alumni UNJ, termasuk Ghazy, diharapkan menjadi bagian dari Key Strategy tersebut untuk memastikan keberlanjutan program. Namun, pengungkapan status Ghazy memicu munculnya kecurigaan bahwa ada pergeseran peran dalam pengambilan keputusan.

Dalam konteks ini, alumni UNJ menjadi sumber informasi yang kredibel karena mereka lebih memahami dinamika internal kampus. “Key Strategy MBG perlu didukung oleh anggota BEM yang benar-benar mewakili mahasiswa, bukan hanya nama belakang,” tegas Gofahrul dalam wawancara eksklusif dengan Tribunnews. Ia menekankan bahwa status alumni yang baru saja lulus tidak memberikan wewenang untuk memimpin aksi yang berdampak besar bagi masyarakat.

Kontroversi ini juga memicu refleksi mengenai relevansi alumni dalam Key Strategy gerakan sosial. Meski alumni sering dianggap sebagai pihak yang paling memahami isu kampus, mereka juga perlu memastikan bahwa partisipasinya tidak terkesan mengambil alih peran utama mahasiswa aktif. Fakta bahwa Ghazy telah lulus dua tahun sebelumnya membuat statusnya sebagai representasi BEM terasa kurang kuat, terutama dalam konteks Key Strategy yang menuntut komitmen jangka panjang.

Dengan munculnya fakta ini, masyarakat mulai menilai kembali kontribusi alumni dalam Key Strategy MBG. Apakah mereka benar-benar menjadi bagian dari perencanaan awal, atau hanya terlibat sebagai penyokong yang terkesan pasif? Respons dari pihak BEM dan alumni terus berlangsung, dengan harapan bisa memperjelas peran Ghazy dalam keberhasilan program tersebut. Selain itu, ini juga menjadi pelajaran untuk memastikan transparansi dalam Key Strategy ke depan, agar tidak terulang kesalahan serupa.

Leave a Comment