Bisnis

Ekonom Ungkap Alasan Investor Masih Ragu terhadap Ketahanan Ekonomi Indonesia

Indonesia saat ini telah diklasifikasikan sebagai negara dengan peringkat investment grade, yang menandakan risiko gagal bayar utang berada dalam kategori

Desk Bisnis
Published Juli 23, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments
Foto : James Miller - beritahitam.com

Investor Masih Menunjukkan Keraguan atas Fondasi Ekonomi Indonesia

Beritahitam.com – Indonesia saat ini telah diklasifikasikan sebagai negara dengan peringkat investment grade, yang menandakan risiko gagal bayar utang berada dalam kategori rendah. Pengakuan ini datang dari tiga lembaga pemeringkat kredibel, yaitu S&P Global Ratings dengan kategori BBB, Moody’s Ratings yang memberikan Baa2, serta Fitch Ratings yang juga menempatkan Indonesia di level BBB.

Kendati demikian, terdapat kekhawatiran dari dua lembaga di antaranya. Moody’s dan Fitch sama-sama memberikan outlook negatif yang mengisyaratkan potensi pelemahan ekonomi dalam jangka waktu satu hingga dua tahun mendatang. Kondisi ini akan semakin memburuk jika tantangan yang dihadapi tidak ditangani secara optimal.

Analisis dari INDEF

Sia Nawir, seorang peneliti di Center for Macroeconomics and Finance INDEF, menjelaskan bahwa status investment grade yang dipertahankan tidak serta merta berarti kondisi ekonomi sudah sepenuhnya stabil atau kepercayaan investor telah terbentuk kuat.

“Dipertahankannya status investment grade Indonesia tidak otomatis menjadikan kondisi ekonomi telah sepenuhnya nyaman atau kepercayaan investor sudah kuat,” kata Nawir dikutip Kamis (13/7/2026).

Menurutnya, Indonesia memang belum memasuki fase kritis, namun margin keselamatan terhadap peringkat kredit terus menyusut. Fenomena ini terlihat dari beberapa indikator, antara lain defisit neraca pembayaran, penurunan posisi daya saing dalam IMD World Competitiveness Ranking, serta tekanan pada nilai tukar rupiah yang dipengaruhi kombinasi faktor internal dan eksternal.

Ketika pengeluaran pemerintah mengalami peningkatan, investor cenderung mempertanyakan sumber pendanaan dan keberlanjutan fiskal negara. Salah satu tolok ukur premi risiko yang diperhatikan pasar adalah spread yang mencapai sekitar 270 basis poin antara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dengan aset acuan.

“Sementara, rendahnya kepemilikan asing di pasar obligasi memberi ketahanan terhadap gejolak arus modal keluar, namun juga mencerminkan masih terbatasnya partisipasi investor asing,” paparnya.

Di sisi lain, investor di pasar saham mempertimbangkan aspek yang lebih komprehensif. Faktor-faktor seperti prospek keuntungan, valuasi, tata kelola perusahaan, dan outlook sektoral menjadi pertimbangan utama. Valuasi yang rendah bisa diartikan sebagai peluang investasi sekaligus sinyal adanya risiko.

“Status investment grade yang terjaga tidak otomatis menjamin masuknya investor hanya karena adanya insentif, keputusan investasi tetap ditentukan oleh fundamental ekonomi, stabilitas fiskal dan moneter, prospek pertumbuhan, serta kepastian kebijakan,” tuturnya.

Tekanan Fiskal yang Meningkat

Riza Annisa Pujarama, peneliti lain di Center for Macroeconomics and Finance INDEF, menekankan bahwa tekanan fiskal utama saat ini bersumber dari pertumbuhan belanja pemerintah yang melampaui penerimaan negara. Sementara itu, laju penerimaan perpajakan justru menunjukkan tren perlambatan.

Dalam laporan APBN Semester I-2026, Riza menyoroti bahwa peningkatan belanja yang tercermin dalam outlook APBN 2026 jauh lebih signifikan dibandingkan APBN 2026 yang tidak diimbangi dengan peningkatan outlook penerimaan perpajakan yang sebanding.

Sebagai informasi tambahan, Surat Utang RI juga baru saja mendapatkan rating AAA di China, dengan Panda Bond yang terbit pada tanggal 23 Juli 2026. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada keraguan, Indonesia masih memiliki daya tarik di pasar internasional.

Leave a Comment