Latest Program: Rupiah Hampir Tembus Rp18.000, BI Beri Tanggapan
Latest Program – TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Rupiah kembali melemah, dengan nilai tukar terhadap dolar AS mencapai level Rp17.917 per dolar pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Penguatan ini memperlihatkan tekanan yang terus menguat terhadap mata uang lokal, hampir menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Menurut laporan Bloomberg, kurs rupiah tercatat turun 78 poin atau 0,44 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya, yakni Rp17.839 per dolar. Ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi BI dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dalam konteks kondisi pasar keuangan global yang tidak menentu.
BI Fokus pada Stabilisasi Ekonomi Melalui Kebijakan Terkini
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa BI tetap aktif dalam mengelola berbagai alat kebijakan untuk menjaga konsistensi nilai tukar rupiah. “Latest Program ini menjadi bagian dari upaya BI dalam mengurangi tekanan eksternal dan memperkuat daya tahan ekonomi nasional,” ujarnya dalam pernyataan Rabu. BI memastikan bahwa penguatan nilai tukar rupiah tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang melalui langkah-langkah strategis yang terukur.
Terlepas dari tekanan kurs, BI menggarisbawahi bahwa stabilitas nilai tukar rupiah merupakan kunci dalam menjaga kepercayaan pasar dan mendorong investasi. “Latest Program ini melibatkan koordinasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan lembaga keuangan, untuk mengoptimalkan kebijakan moneter dan keuangan,” lanjut Ramdan. Dengan melakukan pengawasan ketat terhadap arus valuta asing, BI berharap dapat mengurangi dampak negatif dari kenaikan harga komoditas global dan inflasi yang memburuk.
Langkah Baru BI dalam Mengelola Pasar Valuta Asing
Sejak 2 Juni 2026, BI menerapkan kebijakan baru dalam mengatur pembelian valuta asing tanpa dokumen pendukung. Batas transaksi per pelaku per bulan diperketat hingga 25.000 dolar AS, sebagai bagian dari Latest Program yang bertujuan memperkuat konsistensi aliran dana ke pasar domestik. Kebijakan ini juga melibatkan penggalakan penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT), yang diterapkan secara bersamaan dengan negara-negara mitra seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Berikutnya, BI menyoroti peran kebijakan moneter dalam menopang stabilitas ekonomi. “Latest Program ini dirancang untuk menjaga fleksibilitas pasar, sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi tetap sehat,” terang Ramdan. Hal ini mencakup penyesuaian suku bunga dan intervensi pasar dalam skala besar jika diperlukan. Selain itu, BI juga terus memantau dinamika ekonomi global, termasuk tekanan dari inflasi, kenaikan harga energi, dan perang dagang yang berdampak pada kebutuhan valuta asing nasional.
Menurut data BI, kenaikan nilai tukar dolar AS mencerminkan ketidakstabilan pasar keuangan internasional yang terjadi akibat perubahan kebijakan moneter dari bank sentral utama. Rupiah yang melemah menjadi indikator bahwa tekanan eksternal terus meningkat, sehingga BI harus lebih proaktif dalam menyesuaikan kebijakannya. “Latest Program ini melibatkan kebijakan yang lebih intensif dan komprehensif untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar,” jelas Ramdan. Dengan adanya kebijakan baru ini, BI berharap dapat mengurangi risiko inflasi dan menjaga daya beli rakyat.
Koordinasi dengan pemerintah dan sektor swasta menjadi bagian penting dari Latest Program. BI menggandeng Kementerian Keuangan, OJK, dan bank-bank umum untuk memastikan bahwa kebijakan moneter dan fiskal saling melengkapi. “Kerja sama ini penting untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi secara holistik,” kata Ramdan. Dalam konteks ketidakpastian global, BI menggarisbawahi bahwa penguatan stabilitas nilai tukar rupiah tidak bisa dicapai hanya melalui kebijakan moneter saja, tetapi juga melalui koordinasi yang terstruktur dengan berbagai stakeholder.
Dalam kesimpulannya, BI menegaskan bahwa Latest Program merupakan upaya terus-menerus untuk menjaga konsistensi nilai tukar rupiah, sekaligus menjaga ketahanan ekonomi di tengah tantangan yang semakin kompleks. “Kita berkomitmen untuk memperkuat daya tahan eksternal melalui Latest Program ini, serta menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkas Ramdan. Dengan memperkuat kebijakan dan mekanisme pasar, BI yakin dapat mengatasi tekanan yang ada dan memastikan rupiah tetap stabil dalam jangka panjang.
