New Policy: Gasifikasi Batu Bara Bisa Tekan Impor LPG hingga 75%
New Policy – Sebuah new policy terkini memberikan harapan besar untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG hingga 75 persen. Menurut para pakar, keberhasilan transformasi energi ini sangat bergantung pada perubahan kebijakan subsidi yang saat ini menghambat kompetitivitas teknologi gasifikasi batu bara. Dengan new policy yang mendorong transisi dari LPG ke alternatif seperti DME, pemerintah dapat menciptakan sistem yang lebih efisien secara ekonomis dan ramah lingkungan. Selain itu, kebijakan ini akan memberikan dampak signifikan pada keberlanjutan energi nasional, terutama di tengah meningkatnya permintaan energi yang tidak bisa dipenuhi oleh pasokan dalam negeri.
Peran Kebijakan Subsidi dalam Pembangunan Energi
Beberapa ahli menilai bahwa kebijakan subsidi energi yang berbasis komoditas masih menjadi penghalang utama bagi pengembangan teknologi gasifikasi batu bara. Dengan new policy yang mengubah pendekatan subsidi ke arah berbasis individu, pemerintah dapat memastikan distribusi energi yang lebih adil dan berkelanjutan. “Pola subsidi saat ini memberikan insentif berlebihan bagi LPG, sehingga mengurangi motivasi masyarakat untuk beralih ke DME atau jaringan gas rumah tangga,” kata Iwa Garniwa, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), dalam diskusi terkini. Ia menekankan bahwa new policy harus diiringi dengan konsistensi dalam kebijakan energi jangka panjang.
Proyek DME sebagai Bagian dari Strategi Energi Nasional
Proyek hilirisasi batu bara ke DME sudah menjadi bagian dari roadmap energi nasional, yang secara resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto di akhir April 2026. Namun, Iwa Garniwa menyatakan bahwa proyek ini memerlukan dukungan fiskal yang lebih besar agar dapat bersaing dengan LPG. “DME akan menjadi solusi yang efektif jika harga batu bara stabil di bawah 60 dolar AS per ton, dan subsidi yang diberikan tidak lagi menguntungkan LPG secara berlebihan,” ujarnya. Dengan new policy yang mengatur subsidi secara lebih rasional, DME bisa menjadi pilihan utama untuk kebutuhan energi rumah tangga di daerah-daerah yang tidak memiliki akses ke jaringan gas.
Meningkatkan Kompetitivitas Energi dengan Regulasi yang Lebih Efektif
Pengamat energi dan migas, Hadi Ismoyo, menambahkan bahwa new policy harus mencakup perubahan pada mekanisme harga LPG. “Ketidakstabilan harga LPG yang dipengaruhi subsidi membuat konsumen tidak memperhatikan biaya produksi DME. Jika subsidi diubah, DME akan lebih menarik secara ekonomis,” jelas Hadi. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, Danantara, dan Pertamina dalam membangun infrastruktur DME. “Kolaborasi ini akan mempercepat proses hilirisasi dan menekan ketergantungan pada impor LPG,” tambahnya.
Manfaat Diversifikasi Energi untuk Kepentingan Nasional
Dengan new policy yang mendorong diversifikasi energi, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada impor LPG yang mencapai 6,34 juta ton pada 2021. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari 75 persen kebutuhan energi rumah tangga masih dijajah oleh LPG. Mengganti LPG dengan DME atau jaringan gas rumah tangga tidak hanya akan menghemat subsidi, tetapi juga membantu mencapai target keberlanjutan energi nasional. “Selain itu, penggunaan DME juga mengurangi emisi karbon dan memperkuat kapasitas energi lokal,” jelas Iwa.
Strategi Berdasarkan Wilayah untuk Meningkatkan Keterjangkauan
Menurut Iwa, new policy harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah. Jaringan gas rumah tangga lebih cocok dikembangkan di kota besar dengan akses transmisi yang baik, sementara DME menjadi solusi yang tepat untuk daerah-daerah yang jauh dari infrastruktur gas. “Dengan strategi yang tepat, kita bisa memastikan setiap wilayah memiliki akses ke energi yang lebih murah dan berkelanjutan,” katanya. Ia menambahkan bahwa new policy juga harus memperhatikan faktor ekonomi dan sosial, agar transisi ke DME tidak menimbulkan ketimpangan.
Kemajuan Teknologi dan Kesiapan Industri
Menurut data dari Kementerian ESDM, industri hilirisasi batu bara ke DME telah mencapai kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan new policy yang memberikan insentif bagi pengembangan teknologi ini, pemerintah dapat memastikan industri DME mampu bersaing di pasar nasional. “Kesiapan industri dan pengalaman dari proyek skala kecil telah menunjukkan bahwa DME bisa menjadi alternatif yang layak,” ujar Hadi Ismoyo. Ia berharap new policy bisa diimplementasikan secara bertahap, agar sektor energi bisa beradaptasi dengan baik.
“Konsistensi new policy dalam jangka panjang akan menjadi penentu utama keberhasilan diversifikasi energi. Tanpa kebijakan yang stabil, transformasi ini akan sulit terwujud,” tambah Iwa Garniwa.