Bisnis

Rupiah Diprediksi Masih Tertekan Pekan Depan – Berpotensi Sentuh Rp17.430 per Dolar AS

an Depan Rupiah Diprediksi Masih Tertekan Pekan Depan - Analisis terkini menunjukkan bahwa rupiah akan terus menghadapi tekanan selama pekan depan, dengan

Desk Bisnis
Published Mei 10, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Rupiah Diprediksi Masih Tertekan Pekan Depan

Rupiah Diprediksi Masih Tertekan Pekan Depan – Analisis terkini menunjukkan bahwa rupiah akan terus menghadapi tekanan selama pekan depan, dengan potensi menyentuh level Rp17.430 per dolar AS. Perdagangan mata uang asing pada hari Jumat (8/5/2026) mencatatkan rupiah ditutup di Rp17.382 per dolar AS, turun 49 poin dari penutupan sebelumnya di Rp17.359. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa kenaikan nilai tukar rupiah masih belum terlihat jelas, terutama seiring tekanan dari berbagai faktor global dan domestik.

Politik dan Ekonomi Global sebagai Faktor Utama

Ketegangan politik di wilayah Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, menjadi salah satu penyebab utama pelemahan rupiah. Konflik tersebut berdampak signifikan pada kestabilan pasar keuangan global, terutama di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting pengiriman minyak dan gas. “Pertempuran kembali pecah antara AS dan Iran mengancam gencatan senjata yang rapuh, sehingga menghambat harapan pembukaan kembali Selat Hormuz,” terang Ibrahim Assuaibi, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas. Dengan keadaan ini, harga komoditas energi meningkat, yang berpotensi memperparah inflasi di Indonesia.

Di sisi lain, kebijakan moneter Bank Sentral Amerika (The Fed) juga memengaruhi dinamika rupiah. Meski The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga acuan untuk menghadapi risiko ekonomi global, keputusan tersebut belum sepenuhnya mendorong kenaikan nilai rupiah. Faktor ini memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang lokal, terutama di tengah kekhawatiran pasar akan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas inflasi.

Kondisi Domestik yang Menyulitkan

Situasi ekonomi domestik Indonesia turut berkontribusi pada pelemahan rupiah. Utang pemerintah hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp9.920,42 triliun, naik hampir 3% dari utang periode Desember 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun. Angka ini memperlihatkan tekanan fiskal yang terus meningkat, terutama karena pemanfaatan dana untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang hingga kuartal I/2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut Ibrahim Assuaibi, utang pemerintah saat ini mencapai 40,75% dari total PDB. Rasio ini dihitung berdasarkan utang terkini sebesar Rp9.637,9 triliun dan PDB harga berlaku terbaru, kuartal I/2026 sebesar Rp6.187,2 triliun. Dengan kondisi ini, tekanan pada rupiah terus berlanjut, karena perluasan utang bisa meningkatkan permintaan dana, yang berdampak pada pertumbuhan inflasi dan daya beli masyarakat.

Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah juga terpengaruh oleh pergerakan nilai tukar mata uang asing lainnya, seperti yen dan euro. Pergerakan ini berdampak pada persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, sehingga mengurangi minat mereka untuk berinvestasi dalam rupiah. “Kami memperkirakan rupiah akan terus terbebani selama pekan depan, terutama dalam lingkungan ekonomi global yang tidak stabil,” jelas Ibrahim Assuaibi.

Berbagai dampak dari tekanan tersebut, pasar modal Indonesia juga terdampak. Indeks saham mencatatkan penurunan, karena investor lebih memilih menyimpan dana di mata uang yang dianggap lebih aman. Meski demikian, ada harapan bahwa kenaikan produksi minyak dalam negeri dan peningkatan nilai ekspor bisa mendorong peningkatan daya tarik rupiah. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian politik masih menjadi hambatan utama.

Kondisi rupiah yang terus tertekan juga berdampak pada sektor riil, terutama pada perusahaan-perusahaan yang mengandalkan impor. Biaya produksi meningkat karena harga bahan baku impor naik, yang bisa mendorong kenaikan harga barang di pasaran. Selain itu, daya beli masyarakat berpotensi terkikis, karena peningkatan inflasi yang dipicu oleh tekanan global. Faktor-faktor ini perlu diperhatikan oleh pemerintah dan otoritas moneter untuk menghindari dampak lebih besar terhadap perekonomian.

Leave a Comment