Mohammed Awda, Tokoh Pendiri Brigade Al-Qassam yang Tewas dalam Serangan Israel
Key Strategy – TRIBUNNEWS.COM – Gerakan perlawanan Palestina, Hamas, mengumumkan kematian komandan senior Brigade Izzuddin Al-Qassam, Mohammed Awda, atau dikenal sebagai Abu Amr, dalam serangan Israel yang terjadi di Kota Gaza. Menurut pernyataan resmi dari Hamas, Awda gugur bersama istri dan anak-anaknya saat rumah mereka di wilayah barat Gaza City menjadi sasaran serangan. Kepergian tokoh strategis ini dianggap sebagai kehilangan besar bagi organisasi perlawanan Palestina.
Peran Strategis dalam Penguatan Militer
Operasi Tongkat Musa, yang diluncurkan Israel, telah menyebarkan kerusakan di sejumlah area di Jalur Gaza, termasuk pengambilan korban. Salah satu momen dramatis dalam operasi ini adalah kebakaran yang melibatkan seorang letnan Israel di dalam tank. Kematian Awda, sebagai komandan senior, mengguncang struktur organisasi karena ia dianggap sebagai salah satu tokoh utama yang membentuk dan mengarahkan kekuatan militer Al-Qassam. Selama bertahun-tahun, ia berkontribusi dalam pengembangan strategi dan operasi yang menjadi bagian dari Key Strategy Hamas.
“Dia menjalani lebih dari tiga dekade dalam perjuangan dan pengorbanan,” tulis Hamas dalam pernyataannya dikutip PC, Kamis (28/5/2026). Penegakan Key Strategy oleh Awda dinilai sangat vital dalam membentuk koordinasi taktis antar unit militer.
Dari laporan media Arab dan sumber dekat dengan Hamas, Awda dikenal sebagai figur lama yang aktif sejak awal berdirinya Brigade Al-Qassam. Ia pernah bekerja bersama tokoh-tokoh senior seperti Mohammed al-Deif dan Salah Shehadeh. Meski memiliki peran strategis, Awda lebih sering beroperasi di belakang layar, minim tampil di media, tetapi tetap menjadi roh penguatan Key Strategy organisasi tersebut.
Pengalaman dan Kontribusi dalam Operasi Militer
Dalam beberapa dekade terakhir, Awda menjabat posisi penting, mulai dari pengelolaan produksi senjata hingga memimpin komando brigade wilayah utara Gaza. Dari 2015 hingga 2020, ia bertugas sebagai komandan Brigade Utara dan turut berkontribusi pada peningkatan kapasitas militer kelompok tersebut. Sejak 2022 hingga sebelum wafat, Awda menangani dokumen dan analisis strategis krusial untuk kepemimpinan Hamas, yang menjadi inti dari Key Strategy mereka.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa Awda diharapkan menjadi calon pemimpin utama dalam struktur militer Hamas. Namun, ia lebih memilih bekerja kolektif dan fokus pada tugas teknis, daripada menjadi figur sentral organisasi. Kematian Awda terjadi di tengah eskalasi serangan Israel di Jalur Gaza, meski kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025. Kehadirannya dalam Key Strategy Hamas dianggap menjadi pelengkap dalam mengatur respons militer terhadap operasi Israel.
Sosok Awda juga dikenal karena kemampuannya dalam mengintegrasikan strategi luar negeri dengan operasi lokal. Ia terlibat dalam merancang taktik yang mengutamakan efisiensi sumber daya terbatas, seperti penggunaan senjata ringan dan terorisme langsung. Strategi ini menjadi bagian dari Key Strategy yang bertujuan memperkuat kemampuan pertahanan serta menekan pihak Israel secara psikologis dan politik.
Analisis dari peneliti kawasan menyatakan bahwa kematian Awda menciptakan kekosongan strategis yang signifikan. Sebagai bagian dari Key Strategy, ia membantu membangun jaringan komando yang efektif dan memastikan koordinasi antar unit di wilayah Gaza. Kepergian tokoh ini mungkin mengubah arah beberapa operasi, terutama dalam konteks perang gerilya dan strategi pertahanan yang terus berlanjut di bawah tekanan Israel.
