Lifestyle

New Policy: Tubuh Kurus Belum Tentu Kurang Gizi, Ini Penjelasan Ahli Gizi soal Cara Sehat Menaikkan Berat Badan

icy: Tubuh Kurus Belum Tentu Kurang Gizi, Ini Penjelasan Ahli Gizi Soal Cara Sehat Menaikkan Berat Badan New Policy memperkenalkan pandangan baru bahwa tubuh

Desk Lifestyle
Published Juli 11, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

New Policy: Tubuh Kurus Belum Tentu Kurang Gizi, Ini Penjelasan Ahli Gizi Soal Cara Sehat Menaikkan Berat Badan

New Policy memperkenalkan pandangan baru bahwa tubuh kurus tidak selalu berarti kekurangan gizi. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menganggap bentuk tubuh ramping sebagai tanda kurang nutrisi, tetapi Ahli Gizi dr. Yaze, Sp.GK, menegaskan bahwa hal ini bisa jadi salah. Menurutnya, berat badan seseorang tidak selalu mencerminkan status nutrisi secara utuh. Dengan New Policy, penilaian kesehatan tubuh lebih holistik, melibatkan indeks massa tubuh (BMI), komposisi tubuh, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan. Pandangan ini bertujuan menghindari kesalahan persepsi yang bisa memicu pola makan yang tidak sehat.

Mitos Tubuh Kurus dan Kekurangan Gizi

Mitos tentang tubuh kurus dan kurang gizi masih melekat dalam masyarakat. Banyak orang merasa dirinya terlalu kurus karena membandingkan bentuk tubuh dengan orang lain atau mendengar komentar dari lingkungan sekitar. Padahal, secara medis, kondisi ini bisa tetap sehat, terutama jika BMI dalam rentang normal. “Kalau memang under, baru saya akan usahakan dia naik supaya normal. Kalau misalnya normal, sebenarnya enggak perlu juga harus kita naikkan,” kata dr. Yaze dalam live streaming Healthy Talk di kanal YouTube Tribun Health, Jumat (10/7/2026). Dengan New Policy, kini fokus lebih pada penyesuaian pola makan dan gaya hidup, bukan hanya pada peningkatan berat badan.

Salah satu faktor penting yang sering diabaikan adalah genetik. Orang dengan tubuh kecil, misalnya, bisa tetap sehat meskipun berat badannya tidak terlalu tinggi. Bagi kelompok ini, tujuan utamanya bukan menambah berat badan, melainkan memperkuat massa otot dan kesehatan secara keseluruhan. New Policy menekankan bahwa setiap individu memerlukan pendekatan berbeda, tergantung pada kebutuhan dan kondisi tubuh masing-masing. Ini menghindari keseragaman dalam menilai kesehatan dan mengurangi risiko penggunaan metode yang tidak efektif.

Pola Makan yang Tepat untuk Menaikkan Berat Badan

Mengikuti New Policy, pola makan harus disesuaikan dengan tujuan individu. Banyak orang salah mengira bahwa mengonsumsi nasi atau makanan tinggi karbohidrat adalah solusi utama untuk menambah berat badan. Padahal, kebutuhan nutrisi setiap orang berbeda. Jika BMI sudah dalam rentang normal, menambah porsi makan dalam jumlah besar justru bisa menyebabkan masalah kesehatan lain, seperti obesitas. dr. Yaze menjelaskan bahwa peningkatan berat badan sehat memerlukan peningkatan asupan protein, lemak sehat, serta nutrisi lain yang diperlukan tubuh, bukan hanya bergantung pada karbohidrat.

Dalam New Policy, ahli gizi merekomendasikan konsumsi makanan bergizi tinggi, seperti daging tanpa lemak, ikan, kacang, dan buah-buahan. Selain itu, pengaturan waktu makan dan frekuensi konsumsi juga menjadi faktor penting. Contohnya, makan 5-6 kali sehari dalam porsi kecil bisa membantu meningkatkan berat badan secara bertahap tanpa menyebabkan rasa kenyang berlebihan. Selain itu, konsistensi dan keteraturan dalam pola makan menjadi kunci keberhasilan, sesuai dengan prinsip New Policy yang menekankan pendekatan holistik dan berkelanjutan.

Di samping itu, New Policy juga mendorong konsumsi makanan yang mengandung serat dan vitamin, agar tubuh tetap seimbang. Makanan olahan atau junk food, meskipun kalorinya tinggi, justru bisa merusak sistem pencernaan dan meningkatkan risiko penyakit kronis. Dengan menerapkan New Policy, seseorang bisa mencapai peningkatan berat badan yang sehat tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang. dr. Yaze menekankan bahwa kesehatan tubuh harus diukur dari keseluruhan aspek, bukan hanya dari angka berat badan di skala.

Implementasi New Policy dalam kehidupan sehari-hari memerlukan kesadaran masyarakat akan kebutuhan nutrisi yang berbeda. Misalnya, bagi orang yang aktif secara fisik, peningkatan berat badan bisa diperoleh melalui konsumsi protein dalam jumlah cukup. Namun, bagi individu yang lebih sedikit bergerak, makanan tinggi kalori bisa menjadi pilihan. Dengan memahami perbedaan ini, New Policy membantu masyarakat menghindari kebiasaan makan yang terburu-buru atau tidak seimbang, sehingga meminimalkan risiko gangguan kesehatan.

Menurut dr. Yaze, New Policy juga memperkenalkan metode pengukuran kesehatan yang lebih akurat. Alat seperti alat ukur BMI dan analisis komposisi tubuh bisa memberikan gambaran lebih jelas tentang status nutrisi. “Dengan New Policy, kita bisa mengidentifikasi apakah peningkatan berat badan diperlukan atau tidak, tergantung pada hasil pengukuran,” ujarnya. Selain itu, New Policy menyarankan untuk memantau progres secara berkala, agar tidak terjadi peningkatan berlebihan atau tidak cukup. Dengan pendekatan ini, kesehatan tubuh tetap terjaga, dan tujuan peningkatan berat badan bisa tercapai secara optimal.

Leave a Comment