Kepala BPOM: Tingginya Kasus DBD Jadi Modal Indonesia Kembangkan Vaksin
Facing Challenges – Menghadapi tantangan kesehatan yang sering terjadi, Indonesia dipandang sebagai salah satu negara dengan potensi besar dalam pengembangan vaksin Demam Berdarah Dengue (DBD). Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, menyoroti bahwa meningkatnya jumlah kasus DBD tahunan memberikan peluang unik untuk mempercepat penelitian vaksin. “Tantangan ini justru menjadi bahan untuk memperkuat kolaborasi antarpeneliti dan instansi, karena kasus DBD yang tinggi menunjukkan kebutuhan akan solusi yang lebih efektif,” ungkapnya dalam peluncuran prototipe vaksin dengue berbasis mRNA di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Pengalaman Khusus dalam Penanganan DBD
BPOM memandang bahwa Indonesia memiliki keunggulan dalam menangani penyakit DBD, baik secara medis maupun dalam penelitian. Dengan pengalaman tenaga kesehatan dan sistem respons yang matang, negara ini bisa menjadi basis yang ideal untuk menguji keefektifan vaksin. Taruna menambahkan, tingginya angka infeksi DBD di Indonesia tidak hanya memicu kebutuhan akan vaksin, tetapi juga memperkaya data yang diperlukan dalam proses pengembangan. “Kasus DBD yang tinggi memberikan keuntungan dalam mengumpulkan data sekaligus mengevaluasi respons populasi terhadap vaksin,” jelasnya.
Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), DBD telah menyebabkan hampir 390 juta infeksi di seluruh dunia per tahun. Di Indonesia sendiri, jumlah penderita DBD mencapai sekitar 161 ribu orang, dengan rata-rata 700 kematian setiap tahun. Angka tersebut memperlihatkan bahwa DBD adalah penyakit tropis yang sangat memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama di daerah dengan iklim tropis dan kesulitan dalam pengendalian nyamuk.
“Kasus DBD di Indonesia memperlihatkan kebutuhan akan inovasi vaksin yang mampu menangani ancaman ini secara lebih tepat dan efisien,”
kata Taruna saat membahas dampak dari kejadian DBD yang tinggi. Ia menjelaskan bahwa populasi yang terpapar penyakit ini secara berkala memberikan kesempatan untuk mengamati efek vaksin di berbagai kondisi.
Langkah Kritis dalam Uji Klinis
Proses uji klinis vaksin DBD dinilai sangat kritis untuk memastikan keamanan dan manfaatnya. Taruna menekankan bahwa tahapan ini tidak bisa dilewati, karena merupakan ujian terakhir sebelum vaksin dapat digunakan secara luas. “Dengan jumlah pasien yang cukup tinggi, uji klinis di Indonesia bisa mempercepat proses verifikasi dan adaptasi vaksin ke lingkungan lokal,” tambahnya.
Vaksin berbasis mRNA yang sedang dikembangkan menggabungkan teknologi modern dengan pendekatan tradisional. Teknologi ini memungkinkan peneliti untuk menciptakan vaksin yang responsif terhadap variasi virus Dengue. Taruna menyebut bahwa penggunaan mRNA dalam vaksin DBD adalah inovasi yang berpotensi mengubah paradigma pengendalian penyakit ini di tingkat global.
Dalam sesi diskusi, para peneliti menyatakan bahwa vaksin ini masih dalam tahap evaluasi lanjutan. Meski demikian, hasil awal menunjukkan bahwa prototipe tersebut memiliki efikasi hingga 90% dalam mencegah infeksi DBD di populasi risiko tinggi. “Kita harus terus mengembangkan dan memperbaiki vaksin ini agar bisa memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat,” kata Taruna.
Upaya Kolaboratif untuk Mempercepat Progres
Kolaborasi antara Tsinghua University dan Universitas Indonesia menjadi salah satu kunci dalam keberhasilan pengembangan vaksin DBD. Dua institusi tersebut menyatukan sumber daya dan pengetahuan untuk menghasilkan vaksin yang efektif dan aman. “Kerja sama antar-negara memungkinkan kita memanfaatkan kekuatan akademik dan teknis di berbagai level,” jelas Taruna.
Dalam rangka mempercepat progres, BPOM juga berperan aktif dalam pengawasan dan pengujian vaksin. Selain mengkoordinasikan antara peneliti dan pemerintah, BPOM juga memastikan bahwa prototipe vaksin memenuhi standar kualitas dan keamanan. “Kita harus menggabungkan inovasi teknologi dengan sistem pengawasan yang ketat agar vaksin ini bisa segera digunakan,” tambahnya.
Harapan untuk Solusi Global
BPOM menargetkan vaksin DBD ini dapat menjadi solusi global untuk mengatasi penyakit yang sudah lama mengancam kesehatan masyarakat. “Vaksin berbasis mRNA ini bukan hanya milik Indonesia, tetapi bisa menjadi referensi bagi negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa,” ungkap Taruna. Ia optimis bahwa vaksin ini akan menjadi tonggak penting dalam pengendalian DBD, terutama di daerah tropis.
Di sisi lain, peneliti menyatakan bahwa vaksin DBD ini masih perlu melalui beberapa tahap uji lanjutan. Namun, mereka percaya bahwa kesuksesan uji klinis di Indonesia akan menjadi fondasi untuk pengembangan vaksin di tingkat internasional. “Kita tidak hanya memecahkan masalah lokal, tetapi juga menyumbangkan solusi yang bisa digunakan di negara lain,” kata salah satu peneliti yang hadir dalam acara tersebut.
