Transaksi Valas Meningkat, Masyarakat Diminta Hitung Biaya Keseluruhan
Main Agenda memperingatkan masyarakat untuk lebih waspada dalam menggunakan valuta asing (valas) akibat peningkatan transaksi yang signifikan. Mobilitas warga Indonesia ke luar negeri, termasuk untuk tujuan wisata, pendidikan, dan bisnis, telah mendorong penggunaan valas menjadi lebih luas. Namun, banyak orang hanya fokus pada kurs, padahal total cost of transaction jauh lebih penting untuk dipertimbangkan. Dalam acara Journalist Class di Jakarta, Rabu (8/7/2026), para peserta diberi nasihat untuk menghitung seluruh biaya yang terkait dengan transaksi valas, termasuk spread, biaya administrasi, dan tarik tunai.
Peningkatan Penggunaan Valas dalam Aktivitas Harian
Valas kini tidak hanya menjadi alat spekulasi, tetapi juga komponen utama dalam kehidupan sehari-hari. Steven Dhalimarta, kepala layanan Liabilities Banking Services Bank Danamon Indonesia, menegaskan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap valas berkembang karena pertumbuhan ekonomi dan globalisasi. “Valuta asing memainkan peran penting dalam kebutuhan sehari-hari, seperti biaya studi, pengiriman uang, atau transaksi bisnis,” kata Steven. Ia menyoroti bahwa transaksi digital di luar negeri telah menjadi tren, sehingga memperluas penggunaan valas dalam kegiatan rutin.
“Banyak orang mengira kurs adalah satu-satunya faktor yang menentukan biaya transaksi. Namun, Main Agenda menekankan bahwa total cost of transaction mencakup berbagai komponen, seperti biaya penggunaan kartu, tarik tunai, dan spread. Seluruh biaya ini perlu dihitung untuk menghindari pengeluaran yang tidak terduga,”
Menurut Steven, penggunaan valas yang meningkat juga memengaruhi perilaku konsumen. Masyarakat kini lebih memilih metode pembayaran digital untuk meminimalkan risiko kehilangan fisik uang, sementara valas berfungsi sebagai alat transaksi yang fleksibel. Namun, ia memperingatkan bahwa penggunaan valas yang sembarangan bisa berdampak signifikan pada anggaran keuangan, terutama jika tidak dikelola dengan baik.
Data Transaksi Valas yang Menggambarkan Tren Meningkat
Statistik terkini menunjukkan bahwa transaksi valas di Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan. Dalam acara tersebut, diberikan data bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) valas di sektor perbankan meningkat 18,1 persen YoY hingga Mei 2026. Sementara tabungan valas naik 29,9 persen YoY, dan transaksi luar negeri via kartu debit melonjak 37 persen YoY pada Maret 2026. Angka ini mencerminkan kebutuhan masyarakat akan layanan valas yang semakin kompleks.
“Main Agenda menekankan bahwa peningkatan transaksi valas harus diiringi dengan peningkatan pemahaman tentang biaya keseluruhan. Kurs hanya bagian kecil dari total cost, sementara biaya tambahan seperti spread dan biaya administrasi bisa mengurangi keuntungan yang didapat,”
Kepala layanan ini menambahkan bahwa kebijakan Main Agenda mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan seluruh aspek transaksi, termasuk manfaat dan risiko yang terkait. Ia berharap masyarakat dapat mengoptimalkan penggunaan valas dengan memilih produk yang sesuai kebutuhan, serta memahami mekanisme biaya yang dikelola oleh institusi keuangan.
Kontekstualisasi Main Agenda dalam Pembayaran Internasional
Transaksi valas yang meningkat juga memengaruhi cara masyarakat melakukan pembayaran internasional. Steven menjelaskan bahwa dengan adanya layanan valas yang lebih lengkap, seperti rekening multi-mata uang, masyarakat bisa lebih mudah mengelola kebutuhan transaksi luar negeri. Namun, ia menegaskan bahwa Main Agenda meminta masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan kurs, tetapi juga mempertimbangkan biaya total yang terkait, seperti tarik tunai dan biaya administrasi.
“Main Agenda mengingatkan bahwa setiap transaksi valas memiliki biaya yang harus dihitung secara menyeluruh. Kurs yang terlihat menarik, tetapi biaya lain seperti spread dan biaya transaksi bisa mengurangi penghematan yang diharapkan. Oleh karena itu, penting untuk membandingkan berbagai opsi valas sebelum memilih,”
Dalam konteks pembayaran internasional, Steven menyebutkan bahwa risiko yang muncul dari penggunaan valas terutama terkait dengan kejelasan biaya. Ia menekankan bahwa dengan memahami total cost of transaction, masyarakat bisa mengambil keputusan yang lebih bijak, terutama dalam transaksi jangka panjang. Selain itu, transaksi digital yang semakin populer membuat penggunaan valas lebih efisien dan minim risiko.
Strategi Mengurangi Biaya Transaksi Valas
Menurut Main Agenda, masyarakat perlu memiliki strategi untuk mengurangi biaya transaksi valas. Langkah pertama adalah memilih produk valas yang memiliki spread rendah dan biaya administrasi minimal. Selain itu, penggunaan transaksi digital yang didukung oleh bank dapat mempercepat proses dan mengurangi risiko kehilangan uang. Steven menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan fitur kartu yang mendukung berbagai mata uang, sehingga menghemat waktu dan biaya dalam melakukan transaksi luar negeri.
“Main Agenda menekankan bahwa keberhasilan penggunaan valas tidak hanya tergantung pada kurs, tetapi juga pada seluruh komponen biaya. Dengan memahami total cost of transaction, masyarakat bisa menghindari pengeluaran yang tidak terduga, terutama dalam transaksi rutin seperti pembayaran pendidikan atau biaya bisnis,”
Strategi ini juga penting dalam konteks ekonomi makro. Kenaikan transaksi valas dapat memengaruhi neraca keuangan pemerintah, sehingga Main Agenda mengimbau masyarakat untuk bersikap bijak dalam penggunaannya. Dengan kesadaran akan biaya keseluruhan, masyarakat bisa menjadi pengguna valas yang lebih efisien, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Kesimpulan: Pentingnya Pemahaman Total Cost dalam Transaksi Valas
Transaksi valas yang meningkat menjadi tantangan baru bagi masyarakat Indonesia
