Nasional

IDI Respons Wacana Prabowo Datangkan Dokter Asing: Jangan Gantikan SDM Kesehatan Indonesia

IDI Respons Wacana Prabowo Datangkan Dokter Asing - Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) resmi menyampaikan pandangan mendalam mengenai rencana

Desk Nasional
Published Agustus 16, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
ujian-S3-Dokter-Tifa
Foto : David Wilson - beritahitam.com
Table of Contents
  1. IDI Respons Wacana Prabowo Datangkan Dokter Asing
  2. Related Reading

IDI Respons Wacana Prabowo Datangkan Dokter Asing

Beritahitam.com – IDI Respons Wacana Prabowo Datangkan Dokter Asing – Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) resmi menyampaikan pandangan mendalam mengenai rencana Presiden Prabowo Subianto yang ingin mendatangkan tenaga medis dari luar negeri. Pernyataan strategis ini muncul setelah Prabowo menyampaikan wacana penting tersebut dalam pidatonya terkait RUU APBN 2027 pada hari Jumat, 14 Agustus 2026. Langkah ini menjadi perhatian serius bagi dunia kesehatan Indonesia mengingat skala kekurangan tenaga medis yang cukup signifikan.

dr Cashtry Meher, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Humas PB IDI, menegaskan dengan tegas bahwa kehadiran dokter internasional tidak boleh menggantikan pembangunan sumber daya manusia kesehatan di dalam negeri. Menurutnya, strategi penguatan sistem kesehatan nasional harus tetap menjadi prioritas utama dalam jangka panjang. Kehadiran dokter asing seharusnya bersifat komplementer, bukan substitutif terhadap upaya pengembangan SDM kesehatan lokal.

“Dokter asing sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari strategi penguatan sistem kesehatan Indonesia, bukan sebagai pengganti pembangunan sumber daya manusia kesehatan nasional,” jelas dr Cashtry saat dihubungi media, Sabtu (15/8/2026).

Pendekatan Selektif dan Terukur

Menurut dr Cashtry, kebijakan importasi dokter asing harus didasarkan pada kebutuhan riil yang ada di lapangan. Pendekatan ini harus dilakukan secara selektif dan terukur, terutama untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis di wilayah-wilayah tertentu yang masih mengalami defisit tenaga medis. Setiap keputusan harus mempertimbangkan aspek efektivitas dan efisiensi dalam jangka panjang.

“Kalau memang ada kekurangan dokter spesialis tertentu, terutama di wilayah tertentu, kehadiran dokter asing dapat dipertimbangkan secara selektif, terukur, berbasis kebutuhan, dan dengan standar kompetensi yang jelas,” paparnya.

Transfer Pengetahuan Jadi Kunci

Salah satu poin penting yang ditekankan oleh dr Cashtry adalah pentingnya transfer pengetahuan dan teknologi. Dokter asing yang datang harus mampu berbagi ilmu kepada tenaga kesehatan Indonesia, bukan sekadar bekerja lalu pergi meninggalkan masalah yang sama. Kolaborasi ini menjadi fondasi utama untuk keberlanjutan sistem kesehatan nasional.

“Jangan sampai dokter asing datang, bekerja, kemudian pergi. Sementara persoalan kekurangan dokter di Indonesia masih tetap sama,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa idealnya, dokter internasional memiliki misi ganda: memberikan pelayanan medis sekaligus membangun kapasitas dokter lokal. Yang perlu dikembangkan bukan hanya kemampuan mendatangkan tenaga medis dari luar, tetapi juga sistem kesehatan yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata dan berkualitas.

Statistik Kekurangan Tenaga Medis

Sebelumnya, Presiden Prabowo menyebutkan bahwa Indonesia mengalami kekurangan sebanyak 84.781 dokter umum dan 127.580 dokter gigi. Angka-angka ini menjadi dasar pertimbangan untuk membuka opsi mendatangkan dokter asing guna memenuhi kebutuhan tenaga medis yang mendesak. Data tersebut menunjukkan betapa besarnya tantangan yang harus dihadapi oleh sektor kesehatan nasional.

Tidak Ada Kekhawatiran Berlebihan

Mengenai kekhawatiran masyarakat terhadap masuknya dokter asing, dr Cashtry menyatakan bahwa IDI belum memiliki kekhawatiran khusus. Fokus utama organisasi adalah memastikan adanya transfer pengetahuan yang efektif antara dokter asing dan dokter Indonesia. Hal ini sejalan dengan visi jangka panjang untuk memperkuat ekosistem kesehatan nasional.

Contoh konkretnya terlihat dalam penanganan penyakit tuberkulosis (TBC) dan kusta yang masih banyak ditemukan di Indonesia. dr Cashtry menyoroti pentingnya kolaborasi dalam mendiagnosis dan menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut, mengingat di beberapa negara penyakit ini sudah jarang ditemukan. Kerja sama internasional dalam bidang kesehatan menjadi peluang berharga.

“Bagaimana mereka bisa berdampingan untuk menyembuhkan dan mendiagnosis penyakit-penyakit TBC dan Kusta misalnya. Karena di sebagian negara penyakit tersebut tidak ada,” ujar dr Cashtry.

FAQ: Pertanyaan Seputar Wacana Dokter Asing

Apa posisi resmi IDI mengenai kedatangan dokter asing? IDI Respons Wacana Prabowo Datangkan Dokter Asing dengan menyatakan bahwa kehadiran dokter internasional bersifat pelengkap, bukan pengganti SDM kesehatan Indonesia. Pendekatan selektif dan terukur menjadi kunci utama.

Berapa jumlah kekurangan dokter di Indonesia? Berdasarkan data Presiden Prabowo, Indonesia kekurangan 84.781 dokter umum dan 127.580 dokter gigi. Angka ini menjadi dasar pertimbangan kebijakan importasi tenaga medis.

Apa syarat utama dokter asing yang datang? Dokter asing harus memiliki standar kompetensi yang jelas dan mampu melakukan transfer pengetahuan kepada tenaga kesehatan Indonesia. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga berbagi ilmu.

Apakah IDI khawatir dengan masuknya dokter asing? dr Cashtry menyatakan IDI tidak memiliki kekhawatiran berlebihan. Fokus utama adalah memastikan kolaborasi efektif dan transfer pengetahuan yang berkelanjutan.

Bagaimana peran dokter asing dalam penanganan penyakit TBC dan kusta? Dokter asing dapat berkontribusi dalam mendiagnosis dan menyembuhkan penyakit TBC dan kusta, mengingat di beberapa negara penyakit ini sudah jarang ditemukan. Kolaborasi internasional menjadi solusi penting.

Leave a Comment