Nasional

Kemenag Sambut Sekber Aksi Iklim Lintas Iman, Soroti Pentingnya Kolaborasi

Jakarta – Kementerian Agama secara resmi menyambut baik pembentukan Sekretariat Bersama Aksi Iklim Lintas Iman Indonesia. Inisiatif ini dinilai sebagai

Desk Nasional
Published Juli 28, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Foto : Emily Rodriguez - beritahitam.com

Kemenag Sambut Sekber Aksi Iklim Lintas Iman Indonesia

Beritahitam.com – Jakarta – Kementerian Agama secara resmi menyambut baik pembentukan Sekretariat Bersama Aksi Iklim Lintas Iman Indonesia. Inisiatif ini dinilai sebagai langkah penting dalam membangun sinergi antar komunitas keagamaan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim. Melalui forum ini, berbagai pihak diharapkan dapat bekerja sama secara lebih terstruktur dalam merancang program-program lingkungan yang berkelanjutan. Selain itu, kehadiran sekber ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kerukunan antarumat beragama di seluruh Indonesia.

Pernyataan dukungan tersebut disampaikan oleh Muhammad Ali Ramdhani, Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenag. Ia menyampaikan apresiasi setelah upacara penandatanganan Nota Kesepahaman serta Piagam Pembentukan Sekretariat Bersama Aksi Iklim Lintas Iman Indonesia. Upacara tersebut diselenggarakan di The Hermitage Hotel, Jakarta, pada hari Selasa, 28 Juli 2026. Kehadiran Kemenag dalam acara ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung gerakan lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan.

Kolaborasi lintas iman dalam aksi iklim merupakan ikhtiar kolektif untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Semoga Sekretariat Bersama Aksi Iklim Lintas Iman menjadi ruang perjumpaan yang mengokohkan harmoni dan menguatkan kerukunan bagi seluruh umat beragama untuk menopang Indonesia maju.

Enam Komunitas Keagamaan Bergabung dalam Forum

Acara penandatanganan piagam tersebut dihadiri oleh perwakilan dari enam komunitas agama yang ada di Indonesia. Setiap komunitas membawa perspektif unik dalam membangun koordinasi dan kerja sama untuk mengembangkan aksi iklim berbasis komunitas. Pembentukan sekretariat ini merupakan tindak lanjut dari serangkaian diskusi yang telah berlangsung sejak Maret hingga April 2026. Lebih dari 200 peserta dari berbagai organisasi keagamaan turut terlibat dalam proses pembentukan forum ini, menunjukkan antusiasme tinggi dari berbagai kalangan.

Rizal Algamar, inisiator sekber sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Amanah Daya Nusantara (AYANA), menjelaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang perubahan iklim. Menurutnya, yang lebih penting adalah memastikan aksi iklim dipahami, dipercaya, dimiliki, dan dipimpin oleh masyarakat itu sendiri. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat untuk menjadi agen perubahan yang aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Tantangan kita adalah membuat aksi iklim dipahami, dipercaya, dimiliki, dan dipimpin oleh masyarakat.

Menurut Rizal, dampak perubahan iklim kini semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari banjir, perubahan musim, penurunan hasil panen, hingga meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan keluarga. Oleh karena itu, pihaknya mendorong pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai teologi, ekologi, dan ekonomi agar masyarakat mampu merancang serta mengomunikasikan aksi iklim di komunitas masing-masing. Integrasi ketiga aspek ini diharapkan dapat menciptakan solusi yang holistik dan berkelanjutan.

Masyarakat juga perlu mengetahui dukungan apa yang harus mereka terima. Intinya, melalui integrasi teologi, ekologi, dan ekonomi, kami berharap masyarakat semakin mampu mengomunikasikan aksi-aksi iklim yang mereka rencanakan sendiri di komunitas masing-masing sehingga suara mereka semakin didengar.

Kolaborasi Lintas Iman Berlandaskan Ajaran Agama

Dalam forum tersebut, berbagai organisasi keagamaan juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas iman dalam menjaga kelestarian lingkungan. KH Abdullah Syamsul Arifin, Ketua Lembaga Dakwah PBNU, menyatakan bahwa kerja sama lintas agama memiliki landasan kuat dalam ajaran keagamaan. Menurutnya, setiap agama memiliki pesan yang sama tentang pentingnya menjaga alam sebagai amanah dari Tuhan. Hal ini menjadi dasar bagi setiap komunitas untuk terlibat aktif dalam gerakan lingkungan.

Kami memandang kerja bersama lintas iman dari seluruh komunitas umat manusia dalam menjaga bumi yang dianugerahkan Allah untuk kepentingan manusia merupakan panggilan iman yang dapat kita kontekstualisasikan dalam kehidupan kemanusiaan.

Sementara itu, Jacklevyn “Jacky” Frits Manuputty, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), menilai bahwa isu lingkungan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis penyelamatan alam, tetapi juga menyangkut pembentukan kesadaran moral masyarakat. Menurutnya, perubahan perilaku manusia terhadap lingkungan harus dimulai dari perubahan mindset dan nilai-nilai yang diyakini. Pendekatan ini memastikan bahwa aksi iklim tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Perjumpaan ini sangat menjanjikan bagi gerakan bersama. Persoalan lingkungan bukan semata-mata soal teknis penyelamatan lingkungan, melainkan juga soal mental dan moral.

Setelah penandatanganan piagam, para peserta melanjutkan kegiatan dengan lokakarya untuk menyusun tata kelola organisasi, rencana aksi selama tiga tahun, serta strategi pendanaan dan kemitraan. Hasil dari pembahasan tersebut akan menjadi dasar penyusunan program prioritas Sekretariat Bersama sebelum disampaikan kepada Kementerian Agama dan diselaraskan dengan agenda Kementerian Lingkungan Hidup. Melalui kolaborasi ini, diharapkan gerakan lingkungan berbasis agama dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi krisis iklim di Indonesia.

Leave a Comment