Latest Program: Great Institute Addresses LPEM UI’s Criticism on BPS Data – Non-Linier Insight
Latest Program – JAKARTA – Peneliti ekonomi dari Great Institute, Adhamaski Pangeran, mengungkapkan penjelasan terkait perbedaan data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan kritik dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI. Dalam laporan khususnya, Great Institute menekankan bahwa kontraksi sektor listrik, gas, dan air dalam triwulan pertama 2026 tidak berarti terjadi inkonsistensi dalam pertumbuhan sektor manufaktur yang mencapai 5,04 persen secara tahunan. Penjelasan ini diluncurkan sebagai bagian dari Latest Program yang bertujuan memberikan wawasan lebih mendalam tentang data ekonomi.
Latest Program juga membahas cara interpretasi data BPS yang perlu diperhatikan secara kritis. Kritik dari LPEM UI berfokus pada ketidakselarasan antara pertumbuhan industri pengolahan dan kontraksi nilai tambah di sektor energi. Adhamaski menjelaskan bahwa fenomena ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor, termasuk dinamika permintaan dan pasokan energi, serta dampak kebijakan pemerintah terhadap sektor-sektor tertentu. “Data BPS perlu dipahami dalam konteks luas, bukan hanya melalui analisis linier,” tegas Adhamaski.
Analisis Kontraksi Sektor Energi
Latest Program menyebutkan bahwa kontraksi pada sektor listrik, gas, dan air di triwulan pertama 2026 terjadi karena beberapa alasan. Pertama, turunnya konsumsi listrik selama masa libur Lebaran, terutama Idulfitri, menyebabkan penurunan permintaan energi. Perusahaan-perusahaan bisnis dan industri komersial, yang biasanya menjadi konsumen listrik utama, mengalami penurunan aktivitas selama periode tersebut. “Tren ini bukanlah hal yang tidak normal, karena aktivitas ekonomi secara alami mengalami perubahan selama hari raya besar,” jelas Adhamaski.
“Sektor manufaktur tetap tumbuh, dan kontraksi pada sektor energi tidak bertentangan dengan hal tersebut. Kita harus memahami bahwa data BPS menampilkan perubahan kuantitatif, bukan kualitatif,” kata Adhamaski kepada media, Kamis (14/5/2026).
Latest Program juga mengungkapkan bahwa volatilitas harga energi global, seperti fluktuasi harga gas alam, memberi tekanan pada industri energi-intensif. Namun, kebijakan pemerintah dalam mengalihkan prioritas pasokan gas domestik tidak mengurangi pertumbuhan manufaktur secara signifikan. “Kita tidak boleh mengabaikan kontraksi sektor energi, tapi juga tidak perlu menilainya secara hiperbolik,” lanjut Adhamaski.
Proses Normalisasi Data BPS
Latest Program menyoroti proses normalisasi dalam pengolahan data BPS sebagai faktor penting. Adhamaski menjelaskan bahwa setelah berakhirnya stimulus tarif listrik pada triwulan pertama 2025, permintaan listrik di sektor industri mengalami koreksi yang mencerminkan keadaan sebenarnya. “Perubahan ini bisa dianggap sebagai normalisasi, bukan penurunan performa secara absolut,” tambahnya.
“Ketika stimulus tarif listrik dihilangkan, konsumen secara statistik mengalami penyesuaian kebutuhan energi, yang bisa mengakibatkan kontraksi nilai tambah tetapi tidak berarti volume fisiknya turun secara signifikan,” ujar Adhamaski.
Latest Program menggarisbawahi bahwa kritik terhadap data BPS harus melibatkan pemahaman mendalam tentang metode perhitungan dan konteks ekonomi. LPEM UI berargumen bahwa hubungan antara pertumbuhan sektor manufaktur 5,04 persen dan kontraksi sektor energi 0,99 persen perlu dianalisis lebih seksama. Menurut penulis laporan khusus mereka, Mohamad Ikhsan dan Teuku Riefky, data ini bisa memberikan gambaran yang berbeda tergantung pada perspektif yang digunakan.
Evaluasi Konsistensi Data Ekonomi
Latest Program juga memperjelas bahwa konsistensi data ekonomi tidak selalu terlihat dalam angka nominal. Adhamaski menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi mengandung variasi antar-sektor, dan interpretasi yang salah bisa memicu kesalahpahaman. “Kita harus memisahkan pertumbuhan sektor manufaktur dengan kontraksi sektor energi, karena keduanya memiliki dinamika yang berbeda,” katanya.
“Dalam konteks makroekonomi, kontraksi sektor energi bisa menjadi indikator kecil dari perubahan kebijakan, sementara pertumbuhan manufaktur menunjukkan stabilitas struktural,” ujar Adhamaski.
Latest Program menegaskan pentingnya transparansi dalam pengolahan data ekonomi. Adhamaski meminta agar LPEM UI dan pihak lain menggunakan pendekatan yang lebih holistik untuk menganalisis data BPS. “Jika kita hanya membaca data secara linier, kita bisa melewatkan informasi kritis yang terkandung di dalamnya,” imbuhnya. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat memberikan rekomendasi yang lebih tepat untuk kebijakan pemerintah dan pembangunan ekonomi Indonesia.
