Latest Program: Kritik Keras Pengamat MBG, Ambar Tegaskan Ini Pemikiran Naif
Latest Program – Jakarta, TRIBUNNEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah menjadi sorotan tajam dari sejumlah pengamat yang menilainya sebagai beban fiskal berlebihan. Namun, Ambar Chrisdiana, Wakil Bendahara Umum Depinas SOKSI, menolak kritik tersebut dengan keras. Menurutnya, pandangan yang menyebut MBG bukan investasi adalah pemikiran yang tidak menyeluruh dan keblinger, karena tidak mempertimbangkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
MBG sebagai Investasi untuk Kedaulatan Nutrisi
Ambar menekankan bahwa MBG adalah investasi strategis yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan memperkuat kedaulatan pangan bangsa. “Latest Program ini bukan hanya sekadar distribusi makanan, tetapi upaya menciptakan ekosistem sehat yang bisa memengaruhi generasi mendatang,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa program tersebut dirancang untuk mengatasi masalah gizi di kalangan masyarakat miskin, yang jika dibiarkan, bisa menyebabkan dampak serius terhadap kesehatan dan produktivitas.
“Kritik yang menyebut MBG sebagai beban fiskal tanpa mempertimbangkan hasil jangka panjang adalah pemikiran yang sangat naif. Mereka lupa bahwa investasi dalam kesehatan dan nutrisi bisa mengurangi biaya kesehatan jangka panjang di masa depan,” tegas Ambar saat diwawancara pers pada Rabu, 13 Mei 2026. Ia juga menyebutkan bahwa logika pendekatan analis yang mengabaikan faktor ekonomi makro dan sosial sangat berisiko menyesatkan masyarakat.
Langkah Penguatan Program MBG
Dalam upaya menjaga keberlanjutan Latest Program, Ambar mengusulkan langkah-langkah konkret untuk memastikan program tersebut tidak hanya menjadi kebijakan yang sesaat, tetapi berkelanjutan. Salah satu rekomendasinya adalah memperkuat kapasitas Badan Keuangan Nasional (BGN) bekerja sama dengan Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar ada pengawasan yang lebih ketat terhadap pengelolaan dana.
Ambar juga menekankan pentingnya pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) daerah. Menurutnya, pasokan bahan pangan seperti telur, susu, daging, dan ikan harus berasal dari produsen lokal agar ekonomi masyarakat terbantu secara langsung. “Dengan membangun ekosistem lokal, Latest Program bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor pangan,” tambahnya.
MBA: Motor Penggerak Ekonomi Daerah
Program MBG, yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, telah menunjukkan dampak positif hingga Mei 2026. Dengan aliran dana sekitar Rp1 triliun per hari, program ini menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 1,2 juta tenaga kerja di Sentra Pangan Prima Gizi (SPPG). Selain itu, MBG juga berpotensi meningkatkan ekspor produk pertanian berkualitas tinggi, karena masyarakat akan lebih memperhatikan nilai gizi dalam konsumsi sehari-hari.
Ambar menegaskan bahwa Latest Program tidak bisa diukur hanya dari perspektif keuangan pendek, tetapi harus dinilai dari dampak jangka panjang. “Bila kita mengabaikan manfaat investasi ini, kita justru menambah beban fiskal dengan membiarkan masalah kesehatan dan nutrisi terus berkembang,” lanjutnya. Ia juga menyoroti bahwa program ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial melalui pendekatan holistik.
Respons Pemikiran Publik terhadap MBG
Selain kritik dari sejumlah pengamat, Ambar menyebutkan bahwa masyarakat secara umum menyambut baik adanya Latest Program. Banyak orang tua dan pelajar yang mengapresiasi kebijakan ini karena membantu memperbaiki kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak. “Program ini memberi ruang untuk mengedepankan kesejahteraan rakyat, bukan sekadar keuntungan politik atau kesejahteraan jangka pendek,” ujarnya.
Menurut Ambar, ada beberapa tantangan yang harus diatasi agar MBG tetap berjalan optimal. Di antaranya adalah perluasan jangkauan distribusi ke daerah terpencil, pengawasan terhadap penggunaan dana, dan peningkatan kualitas bahan pangan yang disuplai. “Dengan mengoptimalkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP), termasuk royalti dari sektor pertambangan, kita bisa menciptakan dana tambahan untuk mendukung program ini,” tambahnya.
Perbandingan dengan Program Lain
Ambar juga membandingkan MBG dengan program serupa di masa lalu, seperti Program Pangan Nasional (P2N) yang sempat mengalami hambatan. “Latest Program ini lebih terstruktur dan memiliki visi yang jelas, yaitu mengedepankan kesehatan dan kualitas nutrisi sebagai prioritas nasional,” katanya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah, serta keberlanjutan dalam pengelolaan keuangan.
Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, Ambar yakin MBG bisa menjadi contoh sukses dalam menggabungkan kebijakan sosial dan ekonomi. “Latest Program ini bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang transformasi masyarakat menjadi lebih sehat, produktif, dan mandiri,” pungkasnya. Ia menegaskan bahwa kritik yang muncul harus didasarkan pada data dan analisis mendalam, bukan sekadar pandangan permukaan.
