Main Agenda: Densus 88 Fokus Pada Ancaman Ekstremisme di Ruang Siber
Main Agenda – Dengan main agenda yang terus diperbarui, Densus 88 Antiteror Polri melakukan Rakernis 2026 guna menghadapi tantangan ekstremisme yang semakin intensif mengancam remaja dan anak melalui platform digital. Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, juru bicara lembaga ini, menyatakan bahwa rakernis tersebut menguatkan pendekatan kolaboratif dan adaptif untuk menangkal ancaman yang berkembang di dunia maya. Fokus utama adalah menjaga kesadaran anak-anak dan generasi muda terhadap risiko terpapar ideologi ekstrem, yang belakangan ini banyak menyebar melalui media sosial dan permainan online.
Perkembangan Ekstremisme di Dunia Digital
Menurut laporan Badan Siber dan Sandi National (BSSN), manipulasi informasi menjadi ancaman utama di ruang siber nasional. Mayndra menjelaskan bahwa teknologi digital telah mengubah cara kelompok ekstrem menyebarkan pahamnya, dari metode tradisional hingga sarana seperti video, chat, dan aplikasi social media. “Ancaman ini bukan hanya tentang perayaan, tapi juga penyisipan kebiasaan dan keyakinan yang bertahap mengarah ke tindakan ekstrem,” tutur Mayndra dalam siaran pers, Selasa (19/5/2026).
“Kelompok ekstrem saat ini memanfaatkan ruang digital untuk rekrutmen, perawatan, propaganda, dan normalisasi kekerasan kepada generasi muda yang rentan,” ujar Mayndra dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).
Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi tidak hanya menggeser cara berkomunikasi, tetapi juga memperkuat mekanisme penyebaran radikalisme.
Berdasarkan data 2026, sebanyak 132 anak terpapar radikalisme dan 115 di antaranya terpapar paham kekerasan. Densus 88 bekerja sama dengan Polda, pemerintah daerah, serta organisasi pendidikan untuk mengintervensi kasus tersebut. Contohnya, komunitas True Crime Community (TCC) yang diduga mendorong evolusi dari ideologi ke tindakan fisik. Perubahan ini membutuhkan strategi adaptif yang terus ditingkatkan sebagai bagian dari main agenda nasional.
Kapolri: Ancaman Baru Melalui AI
Rakernis dibuka oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang menyoroti ancaman baru berupa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) oleh kelompok ekstrem. Teknologi ini digunakan untuk mempercepat proses radikalisasi, menyebarkan ideologi salingan, dan mengubah kekerasan menjadi bentuk interaktif yang lebih menarik bagi remaja. “AI memberi kemampuan kelompok ekstrem untuk mengotomatisasi propaganda, merayu target, serta memperkuat pengaruh mereka,” kata Prabowo dalam sambutan pembukaan.
Menurut Kapolri, penggunaan AI memperlihatkan pola ancaman yang lebih cair dan sulit dideteksi. Metode ini menargetkan kelompok rentan, termasuk perempuan dan anak, melalui platform digital yang terus berkembang. Dengan main agenda yang diprioritaskan, Densus 88 berupaya memperkuat sistem pengawasan dan respons cepat untuk mengatasi ancaman ini.
Strategi Kolaboratif untuk Mencegah Radikalisme
Mayndra menekankan bahwa keberhasilan menghadapi ancaman ekstremisme di ruang siber bergantung pada kerja sama lintas sektor. Densus 88 menggandeng berbagai pihak, seperti lembaga pendidikan, media, dan komunitas lokal, untuk menciptakan lingkungan cyber yang sehat. “Dengan komunikasi yang terus-menerus, kita bisa mengurangi daya tarik radikalisme bagi generasi muda,” tutur Mayndra.
Dalam main agenda ini, strategi juga mencakup pengembangan pendidikan digital yang menekankan kritis terhadap konten yang tidak sehat. Selain itu, Densus 88 memperkenalkan program pembinaan kegiatan offline sebagai bagian dari upaya menutup celah ancaman. “Kita perlu menyatukan langkah untuk mencegah ekstremisme sejak dini,” pungkas Mayndra.
Pengaruh Ruang Siber pada Perilaku Remaja
Banyak penelitian menunjukkan bahwa ruang siber memainkan peran kritis dalam membentuk perilaku dan pikiran remaja. Tren penggunaan media sosial yang meningkat membuat kelompok ekstrem lebih mudah mengakses target. Mayndra menambahkan bahwa ancaman ini sering kali berkembang secara tidak terduga, sehingga keberadaan Densus 88 dalam main agenda nasional sangat penting.
Salah satu perubahan signifikan adalah peningkatan jumlah remaja yang terlibat dalam aksi ekstrem. Pemakaian teknologi tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga alat untuk menyampaikan pesan radikal. Dengan memperkuat kesadaran masyarakat dan membangun sistem yang responsif, Densus 88 berharap bisa mengurangi dampak dari ancaman ekstremisme di ruang siber.
Kesiapan Masa Depan untuk Menghadapi Ancaman Baru
Mayndra menegaskan bahwa Densus 88 terus meningkatkan kesiapan untuk menghadapi bentuk ekstremisme yang lebih canggih. “Main agenda ini harus selalu relevan dengan perubahan di ruang siber,” jelasnya. Upaya ini mencakup pelatihan bagi petugas, pengembangan teknologi deteksi, dan peningkatan kemitraan dengan pihak swasta.
Menurut laporan terkini, ancaman ekstremisme digital terus berkembang, termasuk pemanfaatan platform baru yang belum terjangkau oleh metode tradisional. Dengan main agenda yang terintegrasi, Densus 88 berkomitmen untuk menjaga keselamatan digital dan membentuk generasi muda yang tangguh terhadap pengaruh negatif. “Kita harus bersiap menghadapi perubahan yang terus terjadi,” tegas Mayndra.
