Regional

Kronologi Napi Seumur Hidup Anton Kurniawan Tewas – Sempat Ditemukan Menelungkup di Sel Isolasi

Kronologi Kematian Napi Seumur Hidup Anton Kurniawan di Lapas Palangkaraya Kronologi Napi Seumur Hidup Anton Kurniawan - Anton Kurniawan, mantan anggota

Desk Regional
Published Juni 1, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Kronologi Kematian Napi Seumur Hidup Anton Kurniawan di Lapas Palangkaraya

Kronologi Napi Seumur Hidup Anton Kurniawan – Anton Kurniawan, mantan anggota polisi yang divonis hukuman seumur hidup dalam kasus pembunuhan sopir ekspedisi, meninggal dunia di dalam sel isolasi Lapas Kelas II A Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada Sabtu (30/5/2026). Kematian bocah ini terjadi setelah ia sempat melakukan aktivitas sehari-hari di dalam ruangan tahanan. Pada hari kejadian, petugas pemasyarakatan mengatakan Anton tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau gangguan kesehatan hingga menjelang malam.

Proses Pemeriksaan dan Kondisi Terakhir

Saat kejadian, sel isolasi tempat Anton berada dijaga secara ketat oleh petugas. Menurut pernyataan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kalteng, I Putu Murdiana, tahanan tersebut sempat bergerak saat petugas melakukan inspeksi rutin di ruangan tersebut. “Yang bersangkutan masih aktif di dalam sel saat petugas memeriksa kondisinya,” ujarnya, Minggu (31/5/2026), seperti yang dilansir TribunKalteng.com.

“Sore hari, tahanan ini tetap bergerak dan menunjukkan sikap normal. Ia juga makan dan mandi di bawah pengawasan petugas,” jelas Putu, tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, Anton tiba-tiba tidak memberikan respons ketika nama beliau dipanggil oleh petugas dari luar sel. Hal ini terjadi sekitar satu jam setelah inspeksi pertama. Setelah mengamati situasi, petugas jaga segera berkoordinasi dengan perwira piket dan komandan jaga untuk mengecek langsung kondisi tahanan tersebut.

Pada pukul 23.35 WIB, sel isolasi yang menjadi tempat Anton dijelajahi secara mendalam oleh tim pemeriksa. Mereka menemukan tubuh tahanan dalam kondisi menelungkup, dengan kepala menghadap ke lantai. “Pemeriksaan menunjukkan bahwa Anton terlihat lemas dan masih bernapas, namun beberapa menit kemudian, jantungnya berhenti berdetak,” ungkap Putu.

Penyebab Kematian dan Pengambilan Jenazah

Sebelumnya, Anton telah diajukan untuk dipindahkan ke Nusa Kambangan, pulau yang dikenal sebagai tempat hukuman berat. Namun, perpindahan tersebut belum sempurna. Selama masa penahanannya di Palangkaraya, ia tetap berada dalam isolasi karena kondisi kesehatannya yang memburuk. Setelah ditemukan tewas, jenazah langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan autopsi.

“Hasil sementara dari autopsi menunjukkan bahwa kematian Anton disebabkan oleh gagal jantung,” kata Murdiana, Minggu (31/5/2026), menambahkan bahwa penyebab pasti masih akan ditentukan setelah proses pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut sumber, kondisi Anton semakin memburuk sejak beberapa hari sebelum kejadian. Meski tidak ada gejala kritis sebelumnya, ia diberikan pengawasan tambahan karena kondisi fisiknya yang lemah. Dalam proses pemeriksaan, para petugas menyebutkan bahwa Anton tidak mengeluh atau menunjukkan tanda-tanda kesulitan bernapas sebelum meninggal.

Perjalanan Jenazah dan Penyelidikan Selanjutnya

Setelah pengambilan jenazah selesai, tubuh Anton dibawa ke rumah duka yang terletak di Jalan Pasir Panjang, Palangkaraya. Dalam beberapa jam, jenazah akan dimakamkan di kampung halamannya di Wonosobo, Jawa Tengah. Keluarga dan teman-teman dekatnya menunggu hasil lengkap dari autopsi untuk memahami penyebab pasti kematian sang mantan polisi.

Pihak penjara juga menegaskan bahwa prosedur penjara tetap diikuti dengan ketat. “Semua langkah telah diambil sesuai aturan, termasuk pemeriksaan rutin di sel isolasi setiap hari,” kata Murdiana, menjelaskan bahwa kematian Anton tidak terjadi karena kelalaian petugas, melainkan karena kondisi kesehatannya yang tidak stabil.

“Pada pukul 20.35 WIB, tim pemeriksa melaksanakan kontrol rutin, termasuk mengunjungi sel isolasi tempat Anton. Saat itu, ia masih dapat bergerak dan menunjukkan reaksi terhadap pemanggilan petugas,” kata Murdiana, menjelaskan proses awal.

Kematian Anton mencuri perhatian publik karena ia merupakan tahanan berat yang dikenal memiliki riwayat kesehatan. Sebelum masuk penjara, ia pernah menjalani beberapa kali pemeriksaan medis, tetapi tidak ada indikasi serius yang ditemukan. Selama berada di dalam sel isolasi, ia mengalami penurunan kondisi yang terus menerus, meski tidak ada tanda-tanda kecelakaan atau kekerasan.

Dalam upaya mengungkap penyebab kematian, tim penyelidik juga memeriksa kondisi lingkungan sel isolasi serta riwayat medis Anton. Dikabarkan bahwa ia memiliki riwayat penyakit jantung sejak beberapa tahun silam, yang mungkin memperparah kondisinya saat berada di bawah tekanan penjara. Selain itu, kondisi psikologisnya juga dianggap berpengaruh, terutama setelah beberapa bulan berada di dalam sel.

Kondisi Lingkungan dan Penanganan Darurat

Setelah jenazah ditemukan, seluruh petugas di lapas langsung bergerak untuk mengambil langkah darurat. Mereka memastikan bahwa sel isolasi tidak mengalami kebocoran atau kelembapan yang berpotensi memengaruhi kondisi tubuh Anton. “Sistem ventilasi dan kebersihan sel dijaga secara ketat, sehingga tidak ada indikasi kelembapan atau kebocoran air yang menyebabkan kematian,” kata Putu.

Pada hari kejadian, jenazah Anton langsung dibawa ke RS Bhayangkara untuk dilakukan autopsi lebih lanjut. Tim medis mencoba memeriksa kondisi tubuh, namun tidak ada tanda-tanda hidup yang ditemukan. Hasil autopsi sementara mengindikasikan bahwa gagal jantung menjadi penyebab langsung kematian, tetapi penyebab terkait kelelahan atau stres juga dipertimbangkan.

Peristiwa ini memicu wacana tentang sistem pemasyarakatan dan perlakuan terhadap tahanan berat. Beberapa ahli mengkritik kebijakan penjara yang mengharuskan tahanan isolasi di sel yang sempit tanpa pemeriksaan berkala. Sementara itu, keluarga Anton menyatakan kekecewaan atas kematian sang mantan polisi, yang sebelumnya dianggap berkontribusi besar dalam penyelamatan keamanan di lapas.

Meninggalnya Anton Kurniawan menjadi sorotan karena kasusnya terkait pembunuhan yang menimbulkan kontroversi. Sejumlah warga Wonosobo, kampung halamannya, mengungkapkan dukungan terhadap hukuman yang diberikan, meski ada yang mempertanyakan keadilan dalam proses persidangan. Kini, jenazahnya telah disiapkan untuk dimakamkan secara kehormatan di kampung halamannya, diharapkan menjadi momen penutup untuk kasus yang telah memakan banyak perhatian selama ini.

Leave a Comment