Regional

Solution For: Ibu Hamil Dianiaya Pak Ogah di Sumut: Korban Ungkap Pernah Keguguran

Pak Ogah di Sumut Solution For - TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Seorang wanita hamil, Mulana Kartina br Nainggolan, menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok

Desk Regional
Published Juni 5, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Solution For: Ibu Hamil Dianiaya Pak Ogah di Sumut

Solution For – TRIBUNNEWS.COM, MEDAN – Seorang wanita hamil, Mulana Kartina br Nainggolan, menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok preman di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Kejadian terjadi ketika ia dan suaminya, Mangongap Purba, melintasi Jalan Baru Pasar, Kecamatan Medan Tembung, pada Rabu (3/6/2026). Insiden ini memicu perhatian masyarakat setempat dan menimbulkan pertanyaan tentang langkah-langkah penyelesaian konflik di area rawan tersebut.

Kondisi Saat Kejadian dan Penjelasan Korban

Kartina menjelaskan bahwa kejadian berawal saat ia dan suami baru saja selesai bekerja. Mereka memutuskan melewati Jalan Baru Pasar karena area tersebut biasanya sepi. Namun, tiba-tiba mereka melihat perkelahian di sekitar bantaran rel kereta api. “Di sana selalu terjadi tawuran, jadi kami takut melewati jalan tersebut, apalagi saya sedang hamil,” ujar Kartina, Kamis (4/6/2026). Dalam situasi yang kritis, suaminya memutuskan berhenti karena ketakutan terkena batu yang dilempar oleh para pelaku.

“Saya dan suami takut melewati rel kereta itu karena selalu ada tawuran. Jadi, dia menghampiri kami setelah kami tak terima dengan sikapnya,” terang Kartina.

Para pelaku kemudian memaksa mereka melintasi jalan yang sedang dipenuhi kerumunan. Meski kondisi jalan tidak sempit, Kartina dan suaminya merasa terancam. “Kami dipaksa melintasi jalan itu, padahal tidak ada kemacetan sama sekali,” tambahnya. Tindakan ini berujung pada penganiayaan yang menyebabkan korban mengalami cedera serius.

Detail Penganiayaan dan Dampak pada Kesehatan

Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat pelaku menyerang wajah Mangongap Purba sementara satu dari mereka menendang perut Kartina. Korban mengalami rasa sakit yang parah, dengan perutnya menjadi titik paling terkena dampak. “Cedera yang saya alami cukup berat, bahkan sempat membuat saya mengkhawatirkan keguguran,” ungkap Kartina. Kejadian ini menjadi bukti bagaimana kekerasan terhadap ibu hamil dapat berdampak serius pada kesehatan mereka.

“Saya memang takut karena hamil, tapi yang dijegal itu seorang pria. Dia menghampiri kami dan memulai perkelahian, lalu menendang perut saya,” kata Kartina.

Menurut saksi mata di sekitar lokasi, aksi penganiayaan berlangsung cukup cepat. Pelaku berjumlah sekitar lima orang, dengan satu di antaranya mengambil peran utama dalam menyerang Kartina. Korban juga menyebut bahwa kejadian ini terjadi di dekat area yang sering menjadi tempat pertemuan para preman. “Di sana memang rawan, tapi kami tidak menyangka akan mengalami kekerasan seperti itu,” tambahnya.

Langkah Penyelesaian dan Dukungan Masyarakat

Setelah insiden terjadi, warga sekitar langsung memberi tahu polisi. Tim penyidik dari Polresta Medan datang ke lokasi untuk mengambil laporan dan memeriksa kondisi korban. “Kami berharap kasus ini segera dituntaskan agar penganiayaan terhadap ibu hamil tidak terulang,” kata Kapolresta Medan, Iptu Yudianto. Dukungan dari masyarakat dan organisasi perempuan menjadi penting dalam mencari solusi untuk mengatasi situasi serupa.

“Kami berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi warga sekitar, agar lebih waspada dan menyelesaikan masalah secara bijak,” imbuh Yudianto.

Kartina dan suaminya kini berharap ada perbaikan pada keamanan di area bantaran rel tersebut. Mereka meminta pihak setempat untuk melakukan penguatan pengawasan dan sosialisasi peningkatan kesadaran tentang kekerasan terhadap ibu hamil. “Jika tidak ada solusi untuk mengatasi situasi ini, kami takut akan mengalami keguguran kembali,” tutur Kartina.

Analisis dan Rekomendasi Solusi

Kasus penganiayaan terhadap ibu hamil ini menjadi contoh bagaimana konflik kecil bisa berkembang menjadi kekerasan berat jika tidak ditangani dengan cepat. Solusi untuk mengatasi hal ini melibatkan beberapa aspek, termasuk peningkatan pengawasan di area rawan, pelatihan pengelolaan konflik untuk masyarakat sekitar, dan perlindungan khusus bagi wanita hamil. Penyidik menyarankan agar korban segera mengajukan laporan ke polisi untuk memulai proses hukum.

“Solusi untuk mengatasi kekerasan di area bantaran rel adalah dengan melibatkan warga sekitar dalam pencegahan dan menegaskan bahwa penganiayaan terhadap ibu hamil adalah tindakan yang tidak bisa diterima,” ujar Kapolresta Medan.

Kartina berharap kejadian ini menjadi peringatan bagi warga lainnya. “Saya ingin melihat solusi untuk keamanan di sini, agar ibu hamil lain tidak mengalami hal yang sama,” katanya. Pihak kepolisian juga berencana memperketat patroli di lokasi yang sering terjadi konflik, termasuk melibatkan warga dalam berbagai program pencegahan kekerasan.

Contoh Kesadaran Masyarakat dan Upaya Mencegah Serupa

Para warga sekitar Jalan Baru Pasar menyatakan bahwa mereka akan lebih waspada setelah kejadian ini. Beberapa dari mereka mengatakan akan ikut serta dalam program pencegahan kekerasan yang diinisiasi oleh pihak kepolisian. “Kami bisa menjadi penjaga keamanan, asal ada solusi untuk mengatasi konflik di sini,” ujar warga setempat, Surya. Upaya ini diharapkan dapat mencegah penganiayaan serupa terjadi kembali.

“Dengan solusi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, kita bisa mengurangi kejadian seperti ini di masa depan,” kata Surya.

Kasus ini juga menarik perhatian organisasi perlindungan perempuan yang berencana meninjau kondisi keamanan di area tersebut. Mereka menyarankan adanya kerja sama dengan pihak kepolisian untuk memberikan perlindungan khusus kepada ibu hamil yang tinggal di daerah rawan. “Solusi untuk perempuan hamil harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah hingga warga sekitar,” tegas Ketua Organisasi Perlindungan Perempuan, Dina.

Leave a Comment