Solution For: Ruben Onsu Berhenti Nafkahi Anak Sejak Akhir 2025 sebagai Bentuk Protes
Perdebatan Kewajiban Nafkah dan Hak Bertemu Anak Mengemuka Kembali
Solution For – Perselisihan antara presenter Ruben Onsu dan mantan istrinya, Sarwendah, kembali menjadi sorotan publik setelah mereka resmi bercerai. Setelah sebelumnya isu hak bertemu anak mendapat perhatian, kini fokus berpindah ke masalah kewajiban nafkah dan biaya pemeliharaan anak-anak mereka. Ruben Onsu menyatakan bahwa ia tidak lagi menafkahi anak-anak sejak akhir tahun 2025, sebagai bentuk protes terhadap keputusan Sarwendah.
Dalam sebuah wawancara terbaru, Sarwendah mengklaim bahwa Ruben Onsu melanggar kesepakatan yang telah disepakati saat perceraian. Ia menyebutkan bahwa Ruben memutus hubungan finansial dengan anak-anaknya, meski dalam konferensi pers sebelumnya, tim kuasa hukumnya, Minola Sebayang, mengatakan bahwa Ruben terus memenuhi kewajibannya hingga Rp200 juta per bulan. Solution For ini menjadi isu utama dalam perdebatan antara kedua pihak.
“Sejak bercerai, kami sudah memberikan bukti bahwa Ruben memberikan nafkah hingga Rp200 juta per bulan, termasuk uang sampah,” ujar Minola, yang dikutip dari YouTube Intens Investigasi, Senin (1/6/2026).
Minola menjelaskan bahwa Ruben Onsu menghentikan nafkah anak sejak enam bulan lalu sebagai bentuk keberatan atas keputusan Sarwendah. Ia menyatakan bahwa Ruben tidak merasa terlayani dalam hak bertemu anak, meski sudah memenuhi kewajibannya secara finansial. “Ini bukan tentang uang, tapi tentang kesetaraan dalam pengasuhan anak,” tambahnya.
Penjelasan Legal dan Skenario Terkini
Dalam proses perceraian, pemenuhan nafkah dan hak bertemu anak menjadi dua aspek yang saling terkait. Solution For mengungkapkan bahwa Ruben Onsu menekankan bahwa tindakannya berhenti menafkahi anak merupakan bentuk protes terhadap pernyataan Sarwendah yang dianggap tidak adil. Ia mengklaim bahwa kewajibannya sebagai orang tua tidak terpenuhi, meski uang nafkah tetap diberikan.
“Ini masalah hak dan kewajiban. Ruben berpikir, kewajibanku ku bayar terus, bahkan melampaui apa yang seharusnya. Hak aku, aku enggak dapat,” terang Minola.
Minola juga menyebutkan bahwa Sarwendah terkesan terlalu cepat menuntut kebijakan Ruben. “Baru enam bulan sudah teriak, anaknya juga yang mau dikasih makan. Jadi jangan coba mencari hal-hal yang seperti itu,” tegasnya. Dalam konteks Solution For ini, ia menegaskan bahwa Ruben tetap menjalankan tanggung jawab finansial, meski berbeda cara.
Menurut hukum keluarga, nafkah adalah kewajiban orang tua untuk memastikan kesejahteraan anak. Jadi, penghentian nafkah oleh Ruben Onsu menjadi bahan pertimbangan dalam menilai apakah ia mengambil langkah yang tepat atau memperumit situasi.
Reaksi Publik dan Dampak Sosial
Perdebatan antara Ruben Onsu dan Sarwendah memicu reaksi publik yang beragam. Beberapa pihak mendukung tindakan Ruben sebagai bentuk penegakan hak, sementara lainnya menganggap ia memperkecil peran sebagai ayah. Solution For ini juga menjadi bahan pembicaraan di media sosial, di mana netizen membagikan pendapat mengenai perlakuan kedua orang tua.
“Pemutusan nafkah Ruben Onsu menunjukkan keberaniannya menyampaikan kekecewaannya,” komentar seorang warganet di media sosial.
Di sisi lain, Sarwendah dianggap sebagai pihak yang berusaha menegaskan perannya sebagai ibu. Namun, keputusan Ruben untuk berhenti menafkahi anak-anaknya sejak akhir 2025 menimbulkan ketidakpastian, terutama dalam hal pengasuhan anak yang sebelumnya diatur oleh kesepakatan bersama.
Kesetaraan dalam Pengasuhan Anak dan Tindakan Protes
Ruben Onsu mengklaim bahwa tindakannya berhenti menafkahi anak-anak sejak akhir 2025 adalah upaya untuk menegaskan hak dan kewajibannya sebagai orang tua. Ia menyebutkan bahwa kewajiban nafkah yang diberikan oleh Sarwendah tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga ia mengambil langkah untuk memprotes.
“Aku tidak ingin tindakanku dianggap sebagai pengabaian. Ini adalah bentuk protes terhadap kebijakan Sarwendah,” ujar Ruben Onsu.
Menurut pengacara Ruben, Minola Sebayang, penghentian nafkah tidak dilakukan secara tiba-tiba, melainkan sebagai langkah untuk menegaskan komitmen sebagai orang tua. “Ini semua dilakukan dengan hati-hati, agar tidak merugikan anak-anak,” jelasnya. Solution For ini menunjukkan bagaimana Ruben mencoba mempertahankan keadilan dalam hubungan dengan anak-anaknya.
Sebagai kakak dari Jordi Onsu, Ruben juga mengungkapkan bahwa ia ingin memastikan anak-anaknya tetap mendapatkan perhatian dan kepedulian dari kedua orang tua. Meski tindakannya berhenti menafkahi anak memicu kontroversi, ia berpendapat bahwa ini adalah bagian dari perjuangan untuk memperoleh hak yang seimbang.
Analisis Hukum dan Rekomendasi untuk Pemecahan Konflik
Dari segi hukum, pemutusan nafkah oleh Ruben Onsu memerlukan analisis lebih lanjut. Dalam perjanjian perceraian, kewajiban nafkah biasanya ditetapkan untuk memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi. Jadi, langkah Ruben untuk berhenti menafkahi anak-anaknya memicu pertanyaan tentang apakah keputusannya sesuai dengan aturan yang berlaku.
“Jika Ruben Onsu benar-benar tidak memenuhi kewajibannya, maka tindakan Sarwendah mengklaim hal ini wajar. Tapi jika ia masih memberikan nafkah, maka berhenti menafkahi anak bisa dianggap sebagai bentuk protes,” tutur pakar hukum keluarga.
Sebagai Solution For, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik ini. Pertama, kedua pihak perlu menjelaskan alasan masing-masing secara jelas. Kedua, pihak yang berwenang, seperti pengadilan atau mediator, bisa menengahi untuk mencapai kesepakatan yang lebih adil. Terakhir, komunikasi terbuka antara Ruben dan Sarwendah diperlukan agar anak-anak tetap merasa didukung oleh kedua orang tua.
Dengan mengambil langkah-langkah ini, Solution For bisa membantu mengurangi ketegangan dan memastikan anak-anak tidak menjadi korban dari perdebatan orang tua. Kedua pihak perlu memperhatikan kepentingan anak-anak sebagai pusat dari konflik ini.
