Superskor

What Happened During: Dejavu 2022 Rawan Terulang, Korea Selatan Masuk Mode Hitung-hitungan di Piala Dunia 2026

Menghantui: Korea Selatan di Piala Dunia 2026 What Happened During kembali mencuri perhatian setelah timnas Korea Selatan (Korsel) kembali menghadapi situasi

Desk Superskor
Published Juni 25, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Dejavu 2022 Kembali Menghantui: Korea Selatan di Piala Dunia 2026

What Happened During kembali mencuri perhatian setelah timnas Korea Selatan (Korsel) kembali menghadapi situasi menegangkan di babak grup Piala Dunia 2026. Setelah kalah 0-1 dari Afrika Selatan, Korsel kini berada dalam mode hitung-hitungan, dengan destinasi ke fase gugur tergantung pada hasil pertandingan kelompok lain. Kekalahan tersebut menimbulkan kekhawatiran yang mengulangi momen kelam dari Piala Dunia 2022, ketika Korsel harus bergantung pada pertandingan akhir grup untuk mengamankan tiket ke babak 16 besar.

Format Turnamen 48 Negara: Peluang dan Tantangan

Piala Dunia 2026 yang diadakan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada akan menampilkan format baru dengan 48 tim peserta. Perubahan ini diharapkan membuka peluang lebih luas bagi tim-tim dari kawasan Asia, termasuk Korea Selatan. Namun, kenyataannya, Korsel tetap berada dalam posisi yang rentan. Rekor satu kemenangan dan dua kekalahan membuat mereka hanya mengumpulkan tiga poin, dengan selisih gol minus satu. Hal ini memicu kritik terhadap performa tim, yang sebelumnya dianggap kuat.

“Korea Selatan mungkin salah satu kandidat Asia terkuat, tapi hasil pertandingan terakhir mereka memperlihatkan ketidakstabilan,” ujar pelatih Pandawa Football Academy, Muhammad Khoirullah, saat wawancara Tribunnews pada (14/6/2026). “Kontingen mereka butuh konsistensi lebih baik untuk menghindari keulangan Dejavu 2022.”

Berbeda dengan edisi sebelumnya di Qatar, dimana Korsel terjebak dalam laga head-to-head dengan Qatar dan Katar, kali ini mereka menghadapi tantangan berbeda. Korsel harus mempertahankan keunggulan melawan Afrika Selatan, yang menurut sejumlah analis, mengulangi kesulitan yang dialami pada 2022. Meski demikian, performa tim yang dihiasi pemain elit Eropa seperti Son Heung-min dan Hwang Hee-chan masih menjadi harapan utama bagi penonton.

Kekalahan di Fase Grup: Dari Harapan ke Ketakutan

What Happened During fase grup Piala Dunia 2026 menggambarkan skenario yang serupa dengan tahun lalu. Setelah menang atas Brasil dan Panama, Korsel kalah dari Afrika Selatan, yang menutup harapan mereka untuk lolos otomatis. Tantangan ini mengingatkan pada 2022, ketika Korsel juga gagal memastikan tiket ke fase gugur meski tampil baik di awal turnamen.

Banyak yang memperkirakan Korsel akan menjadi salah satu tim kuat di grup E, tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan perbedaan signifikan. Pemain seperti Kim Min-jae dan Park Ji-sung dianggap sebagai penopang utama, namun performa mereka belum menunjukkan konsistensi. Situasi ini memicu diskusi di media lokal, dengan beberapa analis menilai bahwa Korsel harus memperbaiki strategi untuk menghindari kegagalan yang sama.

Bagi Korsel, kemenangan di pertandingan kelompok lain akan menjadi kunci. Misalnya, jika Irak atau Iran juga mengalami kekalahan, mereka bisa meraih tiket ke babak 32 besar. Namun, jika tim-tim Asia lainnya tampil stabil, Korsel mungkin terjebak dalam persaingan sengit. What Happened During putaran ini menunjukkan bahwa Korsel tidak lagi dianggap sebagai favorit utama di benua Asia.

Analisis Pemain dan Komentar Expert

Kekalahan di fase grup menjadi momen penting untuk mengevaluasi performa pemain Korsel. Pemain muda seperti Kang In-gwon dan Lee Kang-in mulai menunjukkan kemampuan, tetapi belum bisa menggantikan kekuatan lini depan yang sempat menurun. Beberapa pakar sepak bola menilai bahwa kegagalan Korsel di Piala Dunia 2026 bisa menjadi pembelajaran bagi pelatih Hong Myung-bo untuk memperkuat strategi pertahanan.

“Korea Selatan memiliki fondasi kuat, tetapi kurangnya adaptasi terhadap lawan-lawan baru jadi masalah,” kata mantan pemain Korsel, Kim Young-joon, dalam sesi diskusi di Jakarta. “Pertandingan terakhir melawan Afrika Selatan menunjukkan bahwa mereka butuh pertahanan yang lebih solid untuk menghindari skenario yang sama.”

Dari segi mental, Korsel dianggap lebih matang dibandingkan 2022. Namun, tekanan dari publik dan media membuat mereka lebih rentan terhadap kesalahan. Beberapa penonton mulai berspekulasi apakah Korsel bisa melangkah ke babak 16 besar, atau apakah mereka akan kembali mengalami momen kelam seperti tahun lalu. What Happened During putaran ini menjadi bahan perbandingan untuk mengukur kemajuan tim.

Di sisi lain, banyak yang menilai bahwa Korsel memiliki peluang besar di babak grup. Dengan strategi permainan yang terstruktur dan pemain yang berpengalaman, mereka bisa mengambil keuntungan dari kesempatan yang ada. Namun, kegagalan di fase grup akan menjadi pengingat bahwa Piala Dunia 2026 justru memperlihatkan tantangan yang lebih berat dibandingkan edisi sebelumnya.

Leave a Comment