Menakar Urgensi Kunjungan Prabowo ke Prancis: Tiga Kali Lawatan dalam Lima Bulan Terakhir
Profil Penulis
Latest Program – Subhan Yusuf, seorang pengamat hubungan internasional, mengantarkan gelar Master of Arts di bidang Relasi Internasional dari Collegium Civitas.
Kunjungan Kenegaraan ke Prancis
Presiden Prabowo Subianto kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan lawatan diplomatik ke Prancis. Pada hari Sabtu (30/5/2026), pesawat Garuda Indonesia GA-1 yang dibawanya mendarat di Base Ops Halim Perdanakusuma, Jakarta. Ia turun dari pesawat sekitar pukul 10.19 WIB dan disambut oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita.
Lawatan tersebut berbuah kesepakatan bisnis berjumlah 3,5 miliar dolar AS atau setara Rp62 triliun, yang difokuskan pada bidang ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan.
Konteks Penguatan Kerja Sama
Kunjungan Prabowo ke Prancis bukan pertama kalinya. Dalam kurun waktu kurang dari lima bulan terakhir, ia telah melakukan tiga lawatan ke negara tersebut. Aksi ini disebut memiliki urgensi khusus, karena Presiden sedang memaksimalkan strategi untuk melindungi kepentingan nasional dan memperkuat kerja sama di berbagai sektor.
Salah satu aspek penting yang dibahas adalah IEU CEPA, yaitu perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa. Kesepakatan ini bertujuan meningkatkan nilai perdagangan serta investasi dengan mengurangi tarif bea masuk hingga nol persen untuk sebagian besar komoditas. Hal ini menandai komitmen resmi Indonesia terhadap investasi Prancis di berbagai bidang.
Di sisi lain, Indonesia menjadi salah satu negara yang mengoperasikan produk pertahanan Prancis, seperti pesawat Rafale, kapal selam Scorpene, dan teknologi senjata lainnya. Penguatan hubungan bilateral dalam bidang pertahanan dianggap sangat strategis untuk memperkuat keberadaan nasional.
