Seleb

Main Agenda: Belajar Dialek Sunda, Tantangan Widuri Puteri Perankan Asa di Film ‘Aku Sebelum Aku’

ngan Widuri Puteri Perankan Asa di Film 'Aku Sebelum Aku' Main Agenda memperhatikan peran penting Widuri Puteri dalam film 'Aku Sebelum Aku', di mana

Desk Seleb
Published Juli 12, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Belajar Dialek Sunda, Tantangan Widuri Puteri Perankan Asa di Film ‘Aku Sebelum Aku’

Main Agenda memperhatikan peran penting Widuri Puteri dalam film ‘Aku Sebelum Aku’, di mana tantangan utamanya adalah mempelajari dialek Sunda. Putri dari aktor ternama Dwi Sasono dan Widi Mulia ini mengungkapkan bahwa memerankan tokoh Asa menghadirkan pengalaman unik dan menantang.

“Ini bisa jadi salah satu agenda utama syuting kami,” kata Widuri di Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (11/7/2026).

Proses adaptasi terhadap dialek yang berbeda dari bahasa sehari-hari menjadi kunci untuk menghadirkan karakter dengan lebih hidup, sekaligus menggali lebih dalam tentang budaya Sunda yang menjadi tema utama film ini.

Proses Syuting dan Teknik Pemeranannya

Sebelum film ‘Aku Sebelum Aku’ tayang, Widuri Puteri menghabiskan waktu lama untuk mempersiapkan diri secara matang. Menurutnya, menekuni dialek Sunda bukan hanya tentang menguasai kosakata, tapi juga memahami nuansa dan intonasi yang khas.

“Main Agenda meminta kami benar-benar memahami peran, termasuk cara berbicara dalam dialek lokal,” tambahnya.

Meski lahir dari keluarga Sunda-Jawa, Widuri mengakui bahwa dalam kehidupan sehari-hari, dia lebih terbiasa dengan bahasa Indonesia yang baku. Untuk mengatasi hal ini, ia menghabiskan banyak waktu berlatih, mulai dari menghafal dialog hingga memahami konteks budaya yang ada di balik karakter Asa.

Dalam proses syuting, Widuri juga menjalani pelatihan intensif bersama acting coach. “Main Agenda memberikan kesempatan untuk berkembang, dan aku merasa senang bisa menguasai dialek Sunda ini,” ujarnya. Pelatihan ini tidak hanya membantu dalam menjaga konsistensi karakter, tetapi juga memperkaya wawasan tentang tradisi dan kehidupan masyarakat Sunda. Widuri menganggap bahwa menggabungkan bahasa lokal dalam film adalah langkah penting untuk memperdalam identitas budaya dalam cerita.

Motivasi dari Ibu dan Pengembangan Diri

Beliau memperoleh bantuan dari ibunya, Widi Mulia, dalam proses belajar dialek Sunda. “Aku sering bertanya ke ibu, meski dia juga masih sedikit kaku dalam pengucapannya,” katanya. Meski begitu, bantuan dari orang tua menjadi sumber semangat yang kuat.

“Main Agenda membutuhkan usaha ekstra, dan aku berharap bisa menyelesaikannya dengan baik,” tutur Widuri.

Ia menyebutkan bahwa belajar bahasa ini tidak hanya menjadi bagian dari pengambilan peran, tetapi juga momen penting untuk memperkaya diri secara pribadi. Dengan menekuni dialek Sunda, Widuri merasa lebih dekat dengan akar budaya keluarga dan mampu mengeksplorasi sisi baru dalam kariernya.

Lebih dari itu, pengalaman ini juga memicu rasa penasaran terhadap sejarah keluarga. “Main Agenda membuka peluang untuk mengeksplorasi latar belakang keluarga sendiri, bahkan setelah selesai syuting,” katanya sambil tertawa. Ia berharap bahwa kehadiran Asa dalam film ini dapat menginspirasi penonton untuk lebih mengenal budaya Sunda. Dengan memperkenalkan karakter yang berakar pada tradisi lokal, Widuri menganggap ini sebagai langkah awal menuju kontribusi yang lebih besar dalam dunia hiburan.

Pengaruh Film terhadap Peran Artis

Film ‘Aku Sebelum Aku’ menjadi titik balik dalam kariernya, karena untuk pertama kalinya ia memerankan tokoh yang menggunakan bahasa Sunda secara utuh. “Main Agenda memberikan tantangan baru, dan aku merasa bersemangat untuk melalui semua proses ini,” ungkap Widuri. Pengalaman ini tidak hanya menguji kemampuan aktingnya, tetapi juga memperluas wawasan tentang keanekaragaman budaya Indonesia. Dengan memahami cara berbicara Sunda, ia merasa lebih mudah merasakan emosi dan kehidupan tokoh yang diperankannya.

Widuri juga mengungkapkan bahwa film ini memberikan pelajaran berharga tentang kerja keras dan komitmen. “Main Agenda mengajarkanku bahwa penting untuk tidak hanya fokus pada ekspresi luar, tetapi juga pada ke dalam,” katanya. Ia berharap bahwa melalui film ini, penonton dapat lebih menyadari keunikan dialek Sunda dan mendorong minat untuk mengeksplorasi lebih dalam. “Ini menjadi salah satu agenda utama dalam perjalanan aku sebagai aktor,” tambah Widuri dengan nada antusias.

Persiapan dan Hasil yang Diraih

Sebelum memulai syuting, Widuri melakukan riset ekstensif tentang kehidupan tokoh Asa. “Main Agenda meminta kami benar-benar menghidupkan karakter, jadi aku harus memahami latar belakang dan motivasi Asa secara mendalam,” jelasnya. Proses ini mencakup pembelajaran dialek Sunda, penyesuaian gaya berbicara, dan pengamatan terhadap kebiasaan masyarakat Sunda dalam kehidupan sehari-hari.

“Main Agenda membutuhkan konsistensi dan kesabaran, tapi hasilnya sangat memuaskan,” katanya.

Hasil dari upaya ini terlihat dalam adegan-adegan yang menampilkan Asa, di mana Widuri mampu memadukan bahasa lokal dengan karakteristik emosional yang kuat.

Widuri Puteri juga berharap pengalaman ini dapat menjadi referensi bagi artis lain yang ingin menggabungkan budaya lokal dalam karya mereka. “Main Agenda ingin mengajak penonton untuk lebih mengenal kekayaan bahasa dan budaya Indonesia,” katanya. Ia percaya bahwa peran seperti Asa dalam film ini tidak hanya memperkaya perfilman, tetapi juga memperkuat identitas budaya dalam masyarakat. “Ini menjadi bagian dari agenda utama saya dalam berakting,” tutup Widuri, sambil menunjukkan semangatnya untuk terus belajar dan berkembang di industri hiburan.

Leave a Comment