Bisnis

Facing Challenges: Menguji Nyali ESG Sektor Batu Bara: Antara Laporan Hijau dan Fakta Lapangan

Menguji Nyali ESG Sektor Batu Bara: Antara Laporan Hijau dan Fakta Lapangan Facing Challenges - TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Workshop media bertema "Mengawal ESG

Desk Bisnis
Published Mei 14, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Menguji Nyali ESG Sektor Batu Bara: Antara Laporan Hijau dan Fakta Lapangan

Facing Challenges – TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Workshop media bertema “Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan” digelar oleh Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI) dan Katadata Green di Jakarta, Rabu (13/5/2026). Kegiatan ini membahas tantangan keberlanjutan sektor batu bara, yang sering kali hanya diukur melalui angka-angka di kertas. Padahal, realitas keberlanjutan sektor ini membutuhkan evaluasi menyeluruh, mulai dari proses penggalian hingga dampak sosial di sekitar area tambang.

Kesenjangan Laporan Hijau dan Fakta Lapangan

Komunitas media dan akademisi mempertanyakan komitmen ESG perusahaan batu bara, yang menurut Jessica Hanafi, Life Cycle Expert Panel KESGI, sering kali terlalu sempit. “ESG yang baik harus mencakup siklus hidup lengkap; mulai dari transportasi, pengelolaan limbah B3, hingga dampak pembakaran di pembangkit listrik (hilir). Tanpa data yang bisa dipercaya, target pengurangan emisi hanyalah klaim tanpa bukti,” jelas Jessica. Dalam Facing Challenges, sektor batu bara dihadapkan pada tugas berat untuk menjawab pertanyaan tentang keberlanjutan, terutama dalam mengatasi konflik antara kepentingan lingkungan dan ekonomi.

“Kita harus melihat siklus hidup lengkap; dari transportasi, pengelolaan limbah B3, hingga dampak pembakaran batu bara di pembangkit listrik (hilir). Tanpa monitoring data yang kredibel, target pengurangan emisi hanyalah klaim tanpa bukti,”

Langkah Strategis untuk Meningkatkan Kepercayaan ESG

Victoria Fanggidae, Direktur Eksekutif The PRAKARSA, menyoroti ketidakakuratan komitmen ESG yang tidak terverifikasi di lapangan. “ESG yang baik harus bisa diukur dan dirasakan manfaatnya. Jika tidak, itu hanya narasi,” tegas Victoria. Ia menyarankan jurnalis dan masyarakat sipil untuk memeriksa mandiri mekanisme keluhan serta dampak sosial nyata, bukan hanya menerima laporan tahunan secara pasif. Dalam alur ini, Facing Challenges memaksa perusahaan batu bara untuk lebih transparan dalam menyajikan realitas lingkungan dan sosial.

“ESG yang baik itu harus bisa diukur dan dirasakan manfaatnya. Kalau tidak, itu cuma narasi,”

Lusye Marthalia dari IBCSD memaparkan perbedaan kesiapan antara perusahaan besar dan kecil dalam menerapkan ESG. Menurutnya, perusahaan raksasa sudah terbiasa dengan standar kepatuhan global, sementara perusahaan tambang kecil masih kesulitan bahkan untuk menghitung jejak karbon mereka. “Kunci utama ada di tangan manajemen puncak,” kata Lusye. Dalam situasi yang dihadapkan oleh Facing Challenges, perusahaan kecil harus beradaptasi dengan sistem pengukuran yang lebih ketat, termasuk mengintegrasikan data lapangan ke dalam laporan ESG.

Isu kesehatan masyarakat akibat debu tambang, seperti gangguan pernapasan, kerap tidak tercatat dalam laporan keberlanjutan. Statistik kecelakaan kerja yang menurun justru lebih menarik perhatian dibandingkan konsekuensi kesehatan yang terus-menerus terjadi. Jessica mengingatkan bahwa transisi energi yang mengabaikan nasib pekerja bisa memicu munculnya kota mati. Di tengah Facing Challenges, sektor batu bara harus menyeimbangkan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan kesehatan masyarakat.

Dalam rangka meningkatkan kepercayaan publik, beberapa perusahaan batu bara mulai mengadakan audit eksternal terhadap laporan ESG mereka. Namun, proses ini masih jauh dari sempurna. Dengan menghadapi tantangan dalam mengukur dampak lingkungan, perusahaan-perusahaan harus menyelesaikan beberapa kesenjangan antara target laporan hijau dan kondisi nyata di lapangan. Dalam konteks ini, Facing Challenges menjadi momentum untuk memicu perubahan yang lebih signifikan.

Selain itu, upaya menerapkan ESG di sektor batu bara juga menghadapi tantangan teknis dan logistik. Misalnya, pengumpulan data tentang emisi karbon yang akurat memerlukan sistem monitoring yang kompleks dan konsisten. Jessica menekankan bahwa keberhasilan ESG tidak bisa diukur hanya melalui angka, tetapi juga melalui partisipasi masyarakat dan kesesuaian dengan kebutuhan lokal. Dengan menghadapi tantangan ini, sektor batu bara harus bergerak lebih cepat dalam menciptakan keberlanjutan yang benar-benar berdampak.

Leave a Comment