Menjaga Tren: New Policy Perkuat Jakarta, Pasar Kondominium Lesu
New Policy – Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, New Policy yang diumumkan pemerintah pada awal tahun 2026 memberikan dampak signifikan terhadap dinamika pasar properti ritel di Jakarta. Kebijakan ini, yang berfokus pada insentif pajak dan relaksasi birokrasi, menjadi penyemangat bagi tenant baru yang memperluas kehadiran mereka di pusat perbelanjaan. Hasilnya, permintaan ruang sewa mencapai 10.000 meter persegi dalam kuartal pertama tahun ini, dengan peningkatan okupansi mencapai 86 persen. Analisis terbaru oleh JLL menunjukkan bahwa kenaikan ini tidak hanya memperkuat aktivitas ritel, tetapi juga meningkatkan keterlibatan bisnis lokal dan internasional dalam membangun ekosistem dagang yang lebih kompetitif.
New Policy: Membuka Peluang Bagi Tenant Baru di Jakarta
Penyebaran New Policy di Jakarta menimbulkan reaksi positif dari sejumlah pelaku bisnis, khususnya sektor makanan dan minuman. Merek teh asal Tiongkok, misalnya, menjadi salah satu penggerak utama peningkatan ruang sewa, dengan sejumlah toko kafe dan warung yang membuka cabang baru di mall premium. Selain itu, keterlibatan merek parfum mewah asing juga menunjukkan peningkatan, dengan toko pertama mereka di kawasan perkotaan. “New Policy menciptakan peluang yang lebih besar bagi pengembang dan tenant baru,” kata Panji Aziz, Head of Tenant Representation JLL, dalam laporan riset terbarunya.
“Kebijakan ini mempercepat proses pengembangan pusat perbelanjaan dengan mengurangi beban pajak, sehingga memikat investasi dari luar kota hingga daerah terpencil di Indonesia.”
Dalam beberapa bulan terakhir, New Policy juga membuka ruang bagi pengembang lokal untuk memperluas layanan dan memperbaiki infrastruktur. Misalnya, di Jakarta Selatan, sebuah pusat perbelanjaan semioutdoor baru dengan luas 9.000 meter persegi telah diresmikan, memberi ruang bagi tenant ritel yang ingin mengembangkan strategi penjualan. Dalam konteks ini, New Policy tidak hanya meningkatkan okupansi mall, tetapi juga memperluas pilihan konsumen dengan pengenalan merek dan produk yang lebih beragam.
Kondominium: Kenaikan Penuh, Tapi Tak Bisa Menyamai Pusat Perbelanjaan
Sementara itu, pasar kondominium di Jakarta mengalami peningkatan yang lebih terbatas. Meski terjadi sedikit kenaikan dibandingkan kuartal sebelumnya, penjualan properti jenis ini masih berada di 82 persen. Faktor utama yang memengaruhi perubahan ini adalah persaingan dengan bangunan vertikal lainnya dan anggapan bahwa kondominium bertingkat rendah lebih cocok untuk kebutuhan hunian sementara. Milda Abidin, Senior Director Strategic Consulting JLL, mengatakan bahwa New Policy memberikan dorongan khusus bagi pengembangan kondominium, tetapi jumlah penjualan tetap tergantung pada ketersediaan unit dan daya beli masyarakat.
Dalam wilayah Bodetabek, pertumbuhan pasar kondominium melambat kecil, dengan proyek baru di Depok menjadi pencahayaan sementara setelah kuartal sebelumnya tidak ada peluncuran properti. Di Tangerang, sejumlah proyek kondominium sudah menyelesaikan pembangunan dan memasuki tahap serah terima, sementara satu proyek di Bogor kembali aktif setelah sempat terhenti. Milda menilai perpanjangan insentif New Policy hingga 2027 diharapkan dapat meningkatkan minat pembelian unit kondominium, terutama untuk menarik investor dan pembeli akhir yang mencari alternatif hunian dengan harga lebih terjangkau.
Analisis pasar properti menunjukkan bahwa New Policy memiliki dampak yang lebih luas dari sebelumnya. Selain mendorong bisnis
