Key Discussion: Kolaborasi Jakarta-Milan di Bidang Seni, Pangan, dan Stadion
Key Discussion – Kota besar Jakarta dan Milan, Italia, semakin meningkatkan upaya kolaborasi global dalam meningkatkan kualitas kehidupan perkotaan. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno melakukan kunjungan ke Milan pada Mei 2026 untuk berdiskusi mengenai inisiatif kebijakan dalam tiga sektor utama: seni publik, ketahanan pangan, serta tata kelola infrastruktur olahraga. Key Discussion ini menjadi momen penting dalam memperkuat hubungan strategis antara dua kota yang membidik tujuan menjadi pusat inovasi dan keunggulan global.
Kerja Sama dalam Pembangunan Ruang Publik dan Budaya
Dalam Key Discussion pertama, Jakarta dan Milan memfokuskan perhatian pada revitalisasi ruang publik sebagai sarana ekspresi masyarakat. Sebagai bagian dari program Leadership Exchange Programme Jakarta–Milan, kedua kota berbagi pengalaman dalam mengembangkan kawasan bersejarah, museum, serta area kreatif yang bisa menjadi magnet budaya.
“Membangun ruang publik yang inklusif dan dinamis adalah kunci untuk mewujudkan kota global yang relevan dengan kebutuhan warga. Seni harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,”
kata Rano Karno selama pertemuan di Balai Kota Milan.
Contoh keberhasilan dari Milan adalah MUDEC – Museo delle Culture, yang menunjukkan bagaimana ruang kota bisa menjadi pendidikan dan peran aktif masyarakat. Jakarta, di sisi lain, ingin mengadopsi model pengelolaan ruang terbuka yang terintegrasi dengan inisiatif ekonomi kreatif. Rano menegaskan, kolaborasi ini akan membantu mengubah desain kota menjadi lebih ramah dan bermakna bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya untuk pengunjung.
Penguatan Ketahanan Pangan melalui Kolaborasi Urban Farming
Kota besar sering kali menghadapi tantangan ketahanan pangan yang kompleks. Key Discussion ini membahas cara Jakarta dan Milan meningkatkan keberlanjutan pangan melalui urban farming dan pengurangan sampah makanan. Pertemuan antara delegasi DKI Jakarta dan pihak kota Milan menyasar kebijakan distribusi pangan yang lebih efisien, terutama di tengah dinamika populasi yang cepat.
Stabilitas pangan menjadi prioritas utama dalam agenda Key Discussion. Rano Karno menjelaskan, upaya Jakarta untuk menanamkan pendekatan agroekologi di permukiman kota bertujuan meningkatkan akses makanan sehat secara lokal. Dalam diskusi, kota Milan berbagi wawasan tentang program Milan Urban Food Policy Pact yang telah diimplementasikan untuk mengurangi kebutuhan pengiriman pangan dari luar kota. “Kolaborasi ini akan membuka peluang membangun ekosistem pangan yang mandiri dan terjangkau,” ujarnya.
Kemajuan teknologi seperti sistem pembibitan rumput dan keamanan pasokan makanan juga menjadi topik utama. Dengan memadukan keahlian dari kedua kota, Key Discussion ini diharapkan dapat menciptakan model pengelolaan pangan yang bisa diterapkan di kota-kota lain, termasuk Jakarta. Pemerintah kota Milan secara aktif mendukung Jakarta dalam menjadi bagian dari inisiatif tersebut, yang bertujuan menekan angka pengangguran di sektor pertanian perkotaan.
Transformasi Stadion dan Keterlibatan Komunitas
Key Discussion tidak hanya berfokus pada ruang publik dan pangan, tetapi juga mengeksplorasi pengelolaan stadion internasional. Delegasi DKI Jakarta bertemu dengan manajemen San Siro Stadium, tempat kebanggaan klub AC Milan dan Inter Milan, untuk merancang kolaborasi bersama Jakarta International Stadium (JIS). Diskusi mencakup teknologi penyelenggaraan acara, pengembangan museum, dan strategi meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga.
Stadion menjadi simbol kebanggaan sebuah kota, dan Jakarta ingin menyalin model manajemen San Siro untuk memperkaya pengalaman penggemar sepak bola. General Manager San Siro, Fabrizio Caruso, menekankan pentingnya integrasi teknologi dan keterlibatan komunitas dalam membangun pengalaman olahraga yang bermakna. Rano Karno menyampaikan, Jakarta dan Milan akan mengadakan lokakarya dan instalasi seni kota bersama seniman kedua kota pada Juli 2026 sebagai bagian dari Key Discussion ini.
Dalam Key Discussion, pendekatan kolaboratif dianggap sebagai kunci dalam meningkatkan daya saing kota-kota besar. Stadion tidak hanya sebagai tempat pertandingan, tetapi juga sebagai ruang untuk ekspresi budaya dan pendidikan. Diskusi ini membuka jalan untuk membangun ekosistem olahraga yang lebih inklusif dan berkelanjutan, dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat lokal sekaligus mengakomodasi kegiatan internasional.
