Tak Cukup Gizi Dokter Sebut Pemantauan Tumbuh Kembang Penting
Beritahitam.com – JAKARTA – Tak Cukup Gizi Dokter Sebut pemantauan tumbuh kembang anak menjadi langkah krusial dalam upaya pencegahan stunting di Indonesia. Menurunkan angka stunting tidak hanya bergantung pada pemenuhan asupan nutrisi harian anak, tetapi juga memerlukan perhatian serius terhadap perkembangan fisik dan mental mereka. dr. Diana Nubatonis, Sp.A, dokter spesialis anak, menekankan bahwa deteksi dini melalui pemantauan rutin dapat mengidentifikasi masalah pertumbuhan sebelum menjadi lebih serius. Stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, seringkali disertai dengan infeksi yang terjadi berulang kali selama masa pertumbuhan anak.
“Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan yang tidak sesuai dengan standar usia. Kondisi ini juga memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, serta produktivitas anak di masa depan. Oleh karena itu, pencegahan dan deteksi dini memegang peranan sangat penting dalam memastikan anak tumbuh optimal,” jelas dr. Diana dalam kegiatan Festival Sehat Ceria si Kecil di Aula El Tari, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur akhir pekan lalu.
Pentingnya Pemantauan Rutin untuk Deteksi Dini
Pemantauan tumbuh kembang yang dilakukan secara berkala memungkinkan orang tua dan tenaga kesehatan untuk mengenali tanda-tanda gangguan pertumbuhan sejak dini. dr. Diana menjelaskan bahwa setiap anak memiliki pola pertumbuhan yang berbeda-beda, namun tetap harus berada dalam rentang normal sesuai dengan usia mereka. Orang tua disarankan untuk rutin mengukur tinggi dan berat badan anak, serta mencatat perkembangannya dalam buku kesehatan anak. Konsultasi dengan dokter atau bidan juga diperlukan untuk memastikan bahwa perkembangan anak sesuai dengan tahapan usianya.
Selain pemantauan fisik, perkembangan kognitif dan motorik anak juga perlu diperhatikan. dr. Diana menambahkan bahwa anak yang mengalami stunting cenderung memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah dibandingkan anak yang tumbuh normal. Hal ini dapat berdampak pada prestasi akademik mereka di sekolah dan produktivitas saat memasuki dunia kerja. Semakin cepat gangguan pertumbuhan terdeteksi, semakin besar peluang anak mendapatkan intervensi yang tepat untuk memperbaiki kondisi mereka.
Stunting: Tantangan Kesehatan Nasional yang Perlu Penanganan Komprehensif
Stunting masih menjadi salah satu hambatan utama dalam pembangunan kesehatan Indonesia. Faktor yang memengaruhi kondisi ini tidak hanya terbatas pada kecukupan gizi, tetapi juga mencakup akses layanan kesehatan, sanitasi lingkungan, pola asuh anak, serta tingkat pendidikan keluarga. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stunting dapat berdampak jangka panjang pada kemampuan kognitif, prestasi belajar, hingga produktivitas seseorang saat dewasa. Oleh karena itu, pemerintah menjadikan percepatan penurunan stunting sebagai salah satu program prioritas nasional.
Intervensi difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini dianggap sebagai jendela emas bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak. dr. Diana menekankan bahwa nutrisi yang cukup selama masa kehamilan dan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama merupakan langkah awal yang sangat penting. Selain itu, pemberian makanan pendamping ASI yang bergizi dan seimbang juga diperlukan untuk mendukung pertumbuhan anak.
“Kegiatan edukasi seperti Festival Sehat Ceria si Kecil memberikan ruang bagi orang tua untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya peran mereka dalam menjaga tumbuh kembang optimal anak. Setiap langkah kecil yang dilakukan orang tua akan memberikan dampak besar bagi masa depan anak,” ujarnya.
Meskipun prevalensi stunting secara nasional terus menurun, sejumlah daerah masih menghadapi tantangan besar, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih mencatatkan angka stunting relatif tinggi dibandingkan provinsi lain. drg. Iien Adriany, M.Kes., Kepala DP3AP2KB Provinsi NTT, yang mewakili Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, menyatakan bahwa penanganan stunting harus menjadi tanggung jawab bersama. Menurutnya, persoalan stunting bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia sehingga memerlukan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, K-24 Group bersama PT Sarihusada Generasi Mahardhika menggelar Festival Sehat Ceria si Kecil dalam rangka Hari Anak Nasional 2026 di Kota Kupang. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak dan pencegahan stunting. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan orang tua dapat lebih memahami peran mereka dalam memastikan anak tumbuh sehat dan berkembang optimal.

