Kronologi Sutrimo Dibawa ke Rumah Sakit: Tewas Sebelum Tiba
Beritahitam.com – Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring di Jakarta Selatan telah merilis informasi resmi mengenai kasus kematian seorang pria bernama Sutrimo. Berdasarkan kronologi Sutrimo Dibawa ke Rumah Sakit yang telah diverifikasi, pria tersebut ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di depan klinik kecantikan Mordent sebelum kemudian diangkut menggunakan ambulans menuju fasilitas kesehatan tersebut.
Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis, 23 Juli 2026, sekitar pukul sembilan pagi waktu Indonesia Barat. Sutrimo dibawa langsung ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit yang berlokasi di Kebayoran Baru. Proses pengangkutan dilakukan menggunakan ambulans yang datang dari luar, bukan dari rumah sakit itu sendiri.
“Pasien atas nama Tuan Sutrimo ya, dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring menggunakan ambulans dari luar, bukan dari rumah sakit kita,” jelas Ahmad dari Tim Divisi Hukum RS Muhammadiyah Taman Puring saat memberikan pernyataan kepada Tribunnews.com pada hari Selasa, 28 Juli 2026.
Status DOA Saat Kedatangan di Fasilitas Kesehatan
Ketika Sutrimo tiba di rumah sakit, kondisi yang ditemukan oleh tim medis menunjukkan bahwa pria tersebut sudah tidak bernyawa. Berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh di gawat darurat, pasien dinyatakan telah meninggal dunia sebelum mencapai rumah sakit atau yang dikenal dengan istilah death on arrival (DOA).
“Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh tim medis kami di gawat darurat, pasien dinyatakan telah meninggal dunia sebelum sampai rumah sakit. Jadi namanya death on arrival atau DOA,” tuturnya.
Tim dokter tetap menjalankan prosedur standar untuk memastikan tidak ada kesalahan diagnosis. Salah satu pemeriksaan yang dilakukan adalah rekam jantung atau Elektrokardiogram (EKG) untuk mendeteksi kemungkinan gangguan jantung seperti aritmia, serangan jantung, maupun penyakit jantung koroner. Pemeriksaan ini penting untuk memberikan gambaran lengkap mengenai kondisi kesehatan pasien sebelum kematiannya.
Ahmad menjelaskan bahwa dalam proses pemeriksaan tersebut, ia tidak dapat memastikan apakah ada busa yang keluar dari mulut dan hidung Sutrimo. Hal ini karena area tersebut sudah ditutupi selimut saat pasien tiba. Jumlah orang yang mengantarkan jenazah Sutrimo diperkirakan mencapai empat orang, namun identitas mereka belum diketahui secara pasti.
Pengambilan Jenazah dan Proses ke Banyumas
Para pengantar jenazah tidak memberikan informasi lengkap mengenai hubungan mereka dengan Sutrimo. Ketika ditanya oleh tim rumah sakit, mereka tidak menyebutkan apakah termasuk keluarga atau bukan. Ketidakjelasan ini menjadi catatan penting dalam proses penanganan jenazah.
“Ya, ini kita minta kepada orang yang mengantarnya. Nah orang yang mengantarnya kita enggak tahu siapa namanya. Yang ditanya oleh tim kami mereka tidak menyebutkan itu keluarga atau bukan,” ungkapnya.
Setelah seluruh proses penanganan di rumah sakit selesai, para pengantar langsung mengambil kembali jenazah Sutrimo. Jenazah tersebut kemudian segera dibawa ke Banyumas, Jawa Tengah pada hari yang sama sesuai permintaan pihak pengantar. Proses ini dilakukan dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau pihak terkait.
“Iya setelah diperiksa langsung dipulangkan. Permintaan yang nganter. Bilangnya sih ke Banyumas,” tuturnya.
Ahmad menambahkan bahwa RS Muhammadiyah Taman Puring berkomitmen untuk sepenuhnya mendukung pihak kepolisian apabila diperlukan dalam proses penyelidikan lebih lanjut. Rumah sakit tersebut menegaskan bahwa pelayanan kesehatan kepada masyarakat merupakan prioritas utama mereka. Setiap kasus kematian yang terjadi di fasilitas kesehatan mereka akan ditangani dengan profesional dan transparan.
Kasus ini menjadi perhatian publik karena adanya kebingungan mengenai identitas dan hubungan para pengantar jenazah. Tim rumah sakit siap memberikan informasi lebih lanjut apabila diperlukan oleh pihak berwenang atau media. Proses klarifikasi dan investigasi masih terus berlangsung untuk memastikan semua aspek kasus ini dapat diselesaikan dengan baik.

