Penyintas Bom Atom Menyoroti Perubahan Kebijakan Militer Jepang
Beritahitam.com – Di tengah upaya penguatan pertahanan nasional, para penyintas ledakan nuklir Hiroshima dan Nagasaki menyuarakan kekhawatiran mendalam. Mereka menilai langkah-langkah pemerintah saat ini berpotensi mengikis fondasi pasifisme yang telah dibangun selama puluhan tahun pasca-Perang Dunia II. Isu ini menjadi semakin relevan seiring dengan kebijakan Jepang Perkuat Militer Penyintas Bom Atom yang sedang berlangsung.
Sejarah yang Mengubah Arah Bangsa
Pada tanggal 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima. Peristiwa tragis ini terjadi di penghujung konflik global terbesar dalam sejarah. Ledakan dahsyat tersebut menewaskan hampir 80.000 jiwa. Tidak lama setelah itu, tepatnya tiga hari kemudian, bom serupa juga menghantam Nagasaki. Kedua kota ini menjadi simbol penderitaan manusia akibat senjata pemusnah massal.
Masako Wada, yang merupakan Wakil Sekretaris Jenderal Nihon Hidankyo atau Konfederasi Organisasi Korban Bom Atom dan Hidrogen Jepang, menjelaskan makna historis peristiwa tersebut. Ia lahir satu tahun sebelum pengeboman Nagasaki dan selamat dari bencana tersebut. Pengalaman hidupnya menjadi bukti nyata dampak jangka panjang radiasi nuklir.
“Jepang mengadopsi konstitusi pasifis sebagai refleksi atas Perang Dunia II,” kata Wada.
Menurutnya, melalui pengalaman pahit tersebut, Jepang berhasil membangun kepercayaan masyarakat internasional sebagai negara yang berjanji tidak akan pernah lagi terlibat peperangan. Prinsip ini menjadi dasar diplomasi Jepang selama beberapa dekade terakhir.
Perubahan Kebijakan yang Dipertanyakan
Namun, dalam beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran signifikan. Jepang meningkatkan anggaran pertahanan secara substansial, melonggarkan pembatasan ekspor senjata, dan memperluas peran militernya. Alasan utama perubahan ini adalah meningkatnya risiko dari tiga negara tetangga, yaitu Cina, Korea Utara, dan Rusia. Masyarakat mulai mempertanyakan apakah arah baru ini sesuai dengan nilai-nilai perdamaian yang selama ini dipegang teguh.
“Pemerintahan saat ini sedang menghancurkan kepercayaan itu,” kata Wada kepada DW, merujuk pada langkah-langkah Jepang yang dinilainya menjauh dari puluhan tahun kebijakan pasifisme pascaperang.
Masashi Ieshima, seorang penyintas Hiroshima berusia 84 tahun, memiliki pandangan serupa. Ia selamat dari ledakan saat berusia tiga tahun. Ieshima berpendapat bahwa peningkatan kekuatan militer Jepang saat ini tidak berbeda dengan menciptakan kembali perlombaan senjata yang pernah membawa negara tersebut menuju Perang Dunia II. Suaranya mewakili ribuan hibakusha lainnya.
Kesaksian dari Generasi yang Tersisa
Saat ledakan terjadi, Ieshima sedang bermain di pintu masuk rumahnya yang berjarak sekitar dua kilometer dari pusat ledakan. Ledakan itu menghancurkan seluruh jendela rumah dan pecahan kacanya mengenai sang ibu. Tujuh puluh tahun kemudian, ia menjalani operasi kanker tiroid yang secara resmi diakui sebagai penyakit terkait bom atom. Ayahnya, yang juga terpapar radiasi akibat pengeboman Hiroshima, meninggal karena kanker laring.
“Saya sangat geram melihat Jepang membenarkan penguatan militernya dan pelonggaran pembatasan ekspor senjata dengan alasan kemungkinan terjadinya konflik di Taiwan,” kata Ieshima, yang menjabat sebagai Ketua Toyukai, organisasi afiliasi Nihon Hidankyo di Tokyo.
“Jika Jepang terus menempuh jalan ini, hal itu dapat mengarah pada perang. Dan jika perang lain pecah, saya percaya itu akan menjadi perang nuklir.”
Usia rata-rata para penyintas bom atom Jepang atau hibakusha kini hampir mencapai 87 tahun. Mereka menghadapi tantangan mendesak untuk mewariskan kesaksian dan pesan perdamaian kepada generasi yang lebih muda, termasuk anak, cucu, dan para pendukung mereka. Setiap kata yang mereka sampaikan menjadi warisan berharga.
Takako Nakamura, penyintas bom atom generasi kedua dari Nagasaki, mulai aktif menyampaikan kesaksian keluarganya sejak Februari 2026 setelah pensiun dari pekerjaannya. Perempuan berusia 73 tahun itu menekankan betapa dahsyatnya kekuatan bom atom. Ia merasa bertanggung jawab untuk meneruskan pesan ini.
“Orang-orang terbunuh tanpa meninggalkan jejak, bahkan tulang-belulang mereka pun tidak tersisa. Itulah hakikat sebenarnya dari bom atom,” kata perempuan berusia 73 tahun itu kepada DW.
Wada mengajak masyarakat dunia untuk menyadari bahwa bahaya senjata nuklir bukanlah sesuatu yang hanya ada di masa lalu, melainkan ancaman yang masih ada hingga saat ini. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak menginginkan rasa kasihan bagi para penyintas, melainkan empati. Pesan ini semakin kuat seiring dengan kebijakan Jepang Perkuat Militer Penyintas Bom Atom yang sedang berlangsung.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Penyintas Bom Atom
Apa itu hibakusha? Hibakusha adalah istilah Jepang untuk para penyintas bom atom yang selamat dari ledakan di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.
Berapa usia rata-rata penyintas bom atom saat ini? Usia rata-rata para penyintas bom atom Jepang atau hibakusha kini hampir mencapai 87 tahun.
Apa saja penyakit yang terkait dengan paparan bom atom? Penyakit yang diakui secara resmi termasuk kanker tiroid, kanker laring, dan berbagai penyakit akibat radiasi lainnya.
Mengapa penyintas khawatir dengan penguatan militer Jepang? Mereka khawatir bahwa kebijakan Jepang Perkuat Militer Penyintas Bom Atom dapat mengikis prinsip pasifisme dan berpotensi memicu konflik berskala besar.
