Bisnis

Special Plan: Rupiah Melemah, Anggota DPR Sarankan BI Naikkan Suku Bunga

Rupiah Melemah, Anggota DPR Sarankan BI Naikkan Suku Bunga dalam Special Plan Special Plan - JAKARTA - Pertengahan Mei 2026 menjadi momen penting dalam

Desk Bisnis
Published Mei 18, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Table of Contents
  1. Rupiah Melemah, Anggota DPR Sarankan BI Naikkan Suku Bunga dalam Special Plan
  2. Analisis Perekonomian Global dan Tantangan dalam Special Plan

Rupiah Melemah, Anggota DPR Sarankan BI Naikkan Suku Bunga dalam Special Plan

Special Plan – JAKARTA – Pertengahan Mei 2026 menjadi momen penting dalam perjalanan stabilitas mata uang lokal Indonesia, dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah hingga mencapai Rp 17.600 per USD. Situasi ini memicu perhatian anggota Komisi XI DPR RI, Eric Hermawan, yang menyarankan Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan sebagai bagian dari strategi Special Plan. Menurut Eric, kenaikan bunga menjadi solusi efektif untuk mengurangi tekanan inflasi dan mencegah kenaikan harga barang yang berpotensi merusak daya beli masyarakat.

Upaya BI dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Dalam wawancara, Eric mengungkapkan bahwa BI telah berusaha keras menjaga suku bunga acuan tetap stabil sejak awal tahun 2026. Namun, ia menegaskan bahwa langkah ini harus diimbangi dengan penyesuaian kebijakan yang lebih dinamis dalam rangka implementasi Special Plan. “BI terus melakukan penyesuaian untuk menjaga keseimbangan nilai tukar, dan saya percaya peningkatan suku bunga akan menjadi bagian kunci dari Special Plan ini,” tutur Eric saat dihubungi, Minggu (17/5/2026).

“Bank Indonesia siang malam menjaga BI Rate supaya stabil, dan saya menyarankan ke BI agar menaikkan suku bunga agar ada perimbangan dolar, sehingga (dolar) turun,” kata Eric saat dihubungi, Minggu (17/5/2026).

Eric juga menyoroti peran Special Plan dalam mengatasi dampak pelemahan rupiah yang dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, seperti dinamika perekonomian global dan fluktuasi harga komoditas. Menurutnya, langkah ini tidak hanya berfokus pada penyesuaian suku bunga, tetapi juga memperkuat kerja sama antarlembaga seperti Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menciptakan kebijakan yang holistik. “Special Plan ini adalah kerangka kerja yang dirancang untuk menghadapi tantangan ekonomi, termasuk pelemahan rupiah yang sedang dialami,” jelasnya.

Analisis Perekonomian Global dan Tantangan dalam Special Plan

Dalam menjelaskan penyebab pelemahan rupiah, Eric menyebutkan bahwa faktor-faktor seperti lonjakan permintaan global terhadap komoditas mentah dan tekanan inflasi internasional menjadi bagian tak terhindarkan dalam Special Plan. “Kami memperkirakan bahwa perubahan suku bunga global akan terus memengaruhi nilai tukar rupiah, dan Special Plan harus mencakup antisipasi terhadap hal ini,” tambahnya. Menurut Eric, BI perlu memperhatikan indikator ekonomi domestik sekaligus kondisi eksternal untuk memastikan kebijakan yang tepat.

Eric juga menyoroti bahwa pelemahan rupiah bukan hanya disebabkan oleh dinamika global, tetapi juga oleh ketidakseimbangan dalam perekonomian dalam negeri. Ia menekankan pentingnya pengaturan Special Plan yang terpadu, mencakup peran pemerintah, BI, dan lembaga keuangan lainnya. “Special Plan ini harus menjadi koordinasi lintas sektor, mulai dari kebijakan fiskal hingga pertumbuhan ekonomi makro,” kata Eric. Ia menambahkan bahwa penyesuaian suku bunga bisa menjadi katalis untuk menstabilkan pasar keuangan dan memperkuat posisi rupiah.

Di sisi lain, Eric menyoroti kontribusi Menteri Keuangan dalam menahan laju dolar melalui program-program perbankan yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia membenarkan bahwa kebijakan tersebut adalah bagian dari Special Plan yang bertujuan memperkuat ekonomi mikro sebagai penggerak utama perekonomian nasional. “Special Plan ini juga mencakup peran KSSK dalam memastikan konsistensi kebijakan antarlembaga,” jelasnya.

Langkah OJK dalam Stabilisasi Pasar Modal

Dalam wawancara, Eric menyoroti bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menjadi bagian penting dari Special Plan dalam menjaga kesehatan pasar modal. Ia menegaskan bahwa OJK telah melakukan koreksi kebijakan untuk mencegah dampak negatif dari fluktuasi rupiah, termasuk kebijakan pengawasan terhadap emiten dan instrumen keuangan. “Langkah OJK dalam Special Plan ini sangat wajar, karena pasar modal harus menjadi penyangga ekonomi dalam kondisi yang tidak pasti,” tambahnya.

Selain itu, Eric menekankan bahwa kebijakan moneter BI harus dipertimbangkan bersamaan dengan kebijakan fiskal pemerintah. “Special Plan ini menuntut kolaborasi yang ketat antara BI, Kementerian Keuangan, dan OJK,” kata Eric. Ia juga menyoroti bahwa kebijakan kenaikan suku bunga bisa menjadi alat untuk menarik dana asing dan meningkatkan daya tarik investasi ke Indonesia. “Dengan menaikkan suku bunga, Special Plan akan lebih terarah dalam menciptakan lingkungan ekonomi yang seimbang,” jelasnya.

Dalam konteks jangka panjang, Eric menyarankan bahwa Special Plan harus mencakup langkah-langkah yang berkelanjutan, seperti pengembangan sektor industri dan pengurangan ketergantungan pada ekspor komoditas. “Special Plan ini adalah rencana jangka menengah hingga jangka panjang untuk memastikan rupiah tidak hanya stabil, tetapi juga kuat di tengah tekanan ekonomi global,” tutupnya.

Leave a Comment