Rupiah dan IHSG Anjlok, DPR: Bank Indonesia Kehilangan Trust
Kritik Anggota DPR terhadap Kebijakan BI
Topics Covered dalam rapat kerja dengan Bank Indonesia (BI) di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, menyoroti kegagalan kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, menyampaikan kecaman terhadap BI karena dinilai tidak mampu memperkuat rupiah yang terus tergerus. Pada hari Senin (18/5/2026), rupiah mencapai level terendah sepanjang sejarah, sementara IHSG mengalami penurunan tajam, memicu kekhawatiran terhadap kredibilitas BI.
“Kita kehilangan kepercayaan publik karena BI tidak mampu memperbaiki situasi. Rupiah kita terpuruk, dan IHSG juga anjlok. Padahal indeks global telah mulai pulih setelah konflik di Iran,” ujarnya dalam pemaparan kebijakan moneter.
Pola Penurunan Rupiah dan IHSG
Topics Covered oleh Primus Yustisio menunjukkan bahwa rupiah tidak hanya mengalami pelemahan terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap mata uang negara lain seperti ringgit Malaysia, dolar Australia, dan dolar Hong Kong. IHSG yang sebelumnya menunjukkan perbaikan juga kembali turun, menambah tekanan terhadap kebijakan BI. Menurutnya, anjloknya rupiah dan IHSG mencerminkan ketidakmampuan BI dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik yang terus berkembang.
“Kenaikan IHSG di negara-negara lain berbanding terbalik dengan penurunan tajam di Indonesia. BI harus lebih proaktif untuk mengembalikan kepercayaan,” tambahnya, menyoroti peran kebijakan moneter dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.
Permintaan Tindakan Konkret dari DPR
Primus Yustisio menekankan perlunya kebijakan yang lebih tegas dari BI untuk mengembalikan stabilitas nilai tukar rupiah dan IHSG. Ia menyoroti bahwa perang tembak rudal di Iran pada 28 Februari menjadi pemicu pemulihan pasar global, namun pasar Indonesia justru semakin rentan. “BI harus segera ambil langkah untuk memperkuat rupiah, jangan hanya mengambil tindakan gentlement,” pungkasnya, mengingatkan Gubernur BI, Perry Warjiyo, untuk menjelaskan strategi yang lebih efektif.
“Kalau BI tidak segera bertindak, maka kredibilitasnya akan terus berkurang. Masyarakat sudah mulai kehilangan kepercayaan terhadap kebijakan moneter kita,” ujarnya, memberikan contoh tentang kegagalan kebijakan yang bisa diukur melalui data pasar.
Analisis Faktor Penyebab Pelemahan Ekonomi
Topics Covered oleh DPR menunjukkan bahwa pelemahan rupiah dan IHSG tidak hanya disebabkan oleh konflik internasional, tetapi juga oleh faktor-faktor internal seperti inflasi, defisit neraca perdagangan, dan kebijakan fiskal yang kurang tepat. Primus Yustisio mengungkapkan bahwa BI perlu meninjau ulang kebijakan keuangan serta intervensi pasar yang lebih kuat. “BI harus memperhatikan kebutuhan rakyat, bukan hanya kepentingan politik,” katanya, mengkritik kurangnya transparansi dalam pengambilan keputusan moneter.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa penurunan nilai tukar rupiah terjadi karena aliran dana keluar dari pasar keuangan Indonesia. Pada masa pandemi dan setelahnya, BI terus mengambil langkah-langkah kebijakan yang dianggapnya belum cukup efektif. Kritik ini menjadi bagian dari Topics Covered dalam rapat kerja, yang mengingatkan BI untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakannya.
Respons BI dan Perspektif Ekonomi Global
Dalam responsnya, BI mengakui adanya tekanan terhadap rupiah dan IHSG, namun menegaskan bahwa kebijakan yang diambil telah sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa BI sedang mempersiapkan langkah-langkah baru untuk memperkuat kepercayaan publik. Meski demikian, Topics Covered dalam diskusi DPR menunjukkan bahwa ada kebutuhan untuk tindakan lebih cepat dan lebih signifikan.
“BI tetap fokus pada stabilitas makroekonomi, tetapi masyarakat ingin lebih banyak kejelasan dan kecepatan dalam merespons krisis,” imbuh Perry, menegaskan komitmen BI untuk menjaga kredibilitasnya di tengah kritik yang terus meningkat.
Perspektif Jangka Panjang dan Langkah Pemulihan
Menurut Topics Covered dalam rapat kerja, rupiah dan IHSG yang anjlok memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pelemahan ini berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, investasi asing, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan nasional. Primus Yustisio menilai bahwa BI perlu meningkatkan koordinasi dengan pihak lain, seperti pemerintah dan lembaga keuangan, untuk menemukan solusi yang lebih terpadu.
Dalam konteks global, pelemahan rupiah dan IHSG juga mencerminkan ketidakstabilan ekonomi negara-negara berkembang yang terus mengalami tekanan. Topics Covered dalam rapat ini menunjukkan bahwa kritik terhadap BI adalah bagian dari upaya untuk mendorong perbaikan sistem keuangan Indonesia. Pihak DPR berharap BI dapat menunjukkan keberhasilan yang lebih nyata dalam menjaga nilai tukar rupiah dan indeks saham, agar kepercayaan publik dapat dipulihkan kembali.
