Lifestyle

Key Discussion: Anak Sering Tantrum, Ternyata Bukan karena Nakal, Bisa Jadi Belum Mampu Mengungkapkan Emosi

Anak Tantrum Bukan Karena Nakal, Tapi Belum Bisa Ungkap Emosi Key Discussion: Banyak orang tua sering menganggap anak yang melampiaskan emosinya dengan

Desk Lifestyle
Published Mei 19, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Anak Tantrum Bukan Karena Nakal, Tapi Belum Bisa Ungkap Emosi

Key Discussion: Banyak orang tua sering menganggap anak yang melampiaskan emosinya dengan tantrum sebagai anak yang nakal. Namun, menurut Calvin Pang, seorang praktisi terapi seni dan Registered Art Therapist, ini bisa jadi indikasi bahwa anak belum memiliki kemampuan mengungkapkan perasaan mereka secara verbal. Pada sesi Momspiration di kanal YouTube Tribun Health, Selasa (19/5/2026), dia menjelaskan bahwa tantrum adalah cara anak mengeluarkan emosi yang membingungkan atau tidak terduga.

Dalam Key Discussion ini, Calvin memaparkan bahwa anak-anak sering kali kesulitan mengatur emosi karena belum mengembangkan area otak yang bertugas mengontrol perasaan. Area prefrontal cortex, yang menjadi pusat pengambilan keputusan dan regulasi emosi, masih dalam tahap pematangan. Sehingga, saat emosi muncul, anak cenderung bereaksi secara spontan daripada berpikir secara logis. “Anak-anak mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang marah, atau tidak bisa mengekspresikan ketidakpuasan mereka dengan kalimat yang tepat,” terangnya.

Peran Seni dalam Membantu Anak Mengungkapkan Emosi

Calvin menekankan bahwa seni bisa menjadi media alternatif untuk mengungkapkan emosi anak. Dengan melalui gambar, coretan, atau musik, anak dapat menyampaikan perasaan mereka secara lebih intuitif. “Seni memainkan peran penting dalam Key Discussion ini, karena area otak yang terlibat dalam ekspresi sensorial lebih cepat berkembang daripada kemampuan berbicara,” jelasnya. Ia menambahkan, orang tua perlu membuka ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri, baik melalui kata-kata maupun karya seni.

Menurut Calvin, anak yang sering tantrum sering kali memiliki keterbatasan dalam memahami dan mengatur emosi mereka. Mereka mungkin tidak bisa mengidentifikasi perasaan seperti marah, sedih, atau kecewa secara tepat. Sehingga, mereka menggunakan tindakan ekstrem seperti menangis atau melempar barang sebagai cara untuk mengungkapkan kekacauan emosional. “Dalam Key Discussion, penting untuk memahami bahwa tantrum bukan tanda keburukan, tapi ekspresi kebutuhan anak yang belum terpenuhi,” katanya.

Strategi Mengatasi Tantrum dengan Pendekatan Emosional

Calvin memberikan saran kepada orang tua untuk menghadapi tantrum anak dengan cara yang lebih empatik. Ia menyarankan untuk tidak langsung menyalahkan anak, tapi melihat dari sudut pandang kebutuhan emosional mereka. “Dalam Key Discussion ini, orang tua perlu belajar menenangkan diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mencoba menenangkan anak,” tambahnya. Karena jika orang tua terburu-buru, mereka bisa menambahkan tekanan emosional pada anak.

Beberapa metode yang bisa diterapkan, menurut Calvin, antara lain dengan menawarkan kegiatan kreatif, seperti melukis atau menggambar, sebagai sarana untuk mengalihkan perhatian anak dari situasi yang memicu tantrum. Selain itu, ia menyarankan orang tua untuk berkomunikasi dengan anak dalam bahasa yang sederhana dan memberi waktu untuk mengungkapkan emosi secara alami. “Dalam Key Discussion, pendekatan ini bisa membantu anak merasa didukung dan terbantu dalam mengatur perasaan mereka,” jelasnya. Dengan memahami akar emosi anak, orang tua bisa mengurangi kejadian tantrum secara signifikan.

Leave a Comment