Latest Update: Muhammadiyah dan MUI Kecam Israel Tangkap Aktivis & Jurnalis, Haedar Nashir Minta PBB Bertindak
Latest Update – Aksi militer Israel yang menangkap aktivis dan jurnalis dalam operasi Global Sumud Flotilla (GSF) kembali memicu perdebatan global. Organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas mengkritik tindakan Israel yang dinilai merusak prinsip keselamatan jurnalis serta nilai kemanusiaan. Peristiwa ini dianggap sebagai bentuk tekanan terhadap upaya perdamaian yang dilakukan Indonesia dan negara-negara lain.
Dalam konteks terkini, tindakan Israel menangkap delapan orang dari pasukan GSF pada perairan internasional telah memicu reaksi kuat dari berbagai pihak. Pihak-pihak tersebut menekankan bahwa jurnalis dan aktivis yang ditahan tidak memiliki maksud politik, melainkan bertugas untuk menyampaikan kebenaran dan membantu masyarakat Gaza. Total sebelas orang dari Indonesia kini berada dalam penahanan, termasuk lima yang ditangkap di laut pada hari Senin (18/5/2026). Selain itu, dua warga negara Indonesia (WNI) juga terlibat dalam penahanan di kapal Zafiro, yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia.
Histori dan Tujuan Misi Global Sumud Flotilla
GSF, atau Global Sumud Flotilla, adalah inisiatif internasional yang diluncurkan pada tahun 2026 untuk membantu distribusi bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza. Misi ini dirancang sebagai bentuk tanggung jawab global terhadap situasi krisis yang mengancam kehidupan ratusan ribu warga Palestina. Dalam perjalannya, kapal-kapal GSF sering kali dihadang oleh pasukan Israel, terutama saat melakukan pengiriman bahan makanan, obat-obatan, dan perlengkapan kebutuhan sehari-hari.
Latest Update – Tindakan Israel terhadap GSF bukanlah pertama kalinya. Sebelumnya, pada bulan Maret, kapal Aid to the Ummah juga ditahan karena mengangkut bantuan kemanusiaan. Kejadian serupa kembali terjadi di bulan Mei, dengan kapal Zafiro yang dihadang di perairan sekitar 250 mil laut dari Gaza. Dalam pernyataan resmi, MUI mengklaim bahwa penangkapan ini melanggar prinsip internasional tentang perlindungan jurnalis dan peserta perjalanan kemanusiaan.
Haedar Nashir: PBB Harus Menjadi Pelindung Kemanusiaan
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan bahwa PBB harus segera bertindak untuk menghentikan kekerasan Israel terhadap WNI. “Latest Update – Mereka (aktivis dan jurnalis) hanya ingin menyampaikan kebenaran, tetapi justru ditahan oleh kekuatan militer yang mengklaim bertindak demi keamanan,” tegas Haedar dalam pernyataannya. Ia menyoroti bahwa perangkat internasional, seperti PBB, seharusnya menjadi penjaminan keadilan dan perlindungan kemanusiaan, bukan sekadar menjadi penonton.
“Ini adalah momen kritis bagi PBB untuk menunjukkan komitmennya terhadap kemanusiaan. Jika tidak, mereka akan kehilangan kredibilitas sebagai organisasi yang menjunjung nilai kesetaraan,” ujar Haedar Nashir, menambahkan bahwa tindakan Israel harus dinilai sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.
Latest Update – Penangkapan ini juga menjadi sorotan MUI, yang memandang bahwa Israel melanggar perjanjian internasional terkait perlindungan jurnalis. Dalam pernyataan terbarunya, Majelis Ulama Indonesia menegaskan bahwa tindakan Israel terhadap kapal kemanusiaan bukan hanya kesalahan militer, tetapi juga bentuk penyimpangan terhadap prinsip kemanusiaan yang diakui secara universal. MUI menyerukan kepada PBB untuk memeriksa kepatuhan Israel terhadap hukum internasional dan mengambil langkah tegas jika diperlukan.
Latest Update – Para aktivis dan jurnalis yang ditahan menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui akan ada serangan Israel sebelumnya. Mereka menjelaskan bahwa seluruh persiapan telah dilakukan dengan hati-hati, termasuk memperoleh izin dari otoritas setempat. Meski demikian, tindakan Israel menangkap mereka di tengah perjalanan masih dianggap sebagai serangan tak terduga yang merusak kepercayaan masyarakat internasional terhadap misi GSF.
Dalam rangka memperkuat kecaman terhadap Israel, berbagai organisasi Islam dan kelompok internasional telah meminta investigasi lebih lanjut. MUI menekankan bahwa tindakan Israel ini berpotensi merusak hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara anggota PBB. Haedar Nashir berharap PBB dapat menunjukkan keberpihakan dengan mengambil langkah konkret, seperti menyatakan kecaman resmi atau menuntut pembebasan para WNI yang ditahan. Latest Update – Sementara itu, masyarakat internasional terus memantau perkembangan kasus ini, dengan harapan bahwa PBB dapat menjadi mediator utama dalam situasi krisis yang memuncak saat ini.
