Regional

Historic Moment: Mengaku Dapat Bisikan, Warga di Banjar Bacok Ayah dan Tetangga, 1 Tewas

Mengaku Dapat Bisikan, Warga Banjar Bacok Ayah dan Tetangga, 1 Tewas Bisikan Gaib Jadi Pemicu Kekerasan Historic Moment ini terjadi di Desa Pakutik, Kecamatan

Desk Regional
Published Mei 20, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Mengaku Dapat Bisikan, Warga Banjar Bacok Ayah dan Tetangga, 1 Tewas

Bisikan Gaib Jadi Pemicu Kekerasan

Historic Moment ini terjadi di Desa Pakutik, Kecamatan Sungaipinang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada Selasa (19/5/2026) sekitar pukul 08.15 Wita. Seorang pria berinisial L (41) melakukan tindakan kekerasan terhadap ayah kandungnya dan dua tetangga setelah mengklaim mendapat bisikan dari dunia gaib. Insiden mematikan ini mengejutkan warga sekitar dan menimbulkan perhatian publik terhadap fenomena psikologis serta kekerasan dalam lingkaran keluarga.

Detail Kekerasan dan Korban

Menurut Plt Kasihumas Polres Banjar, Iptu Rifani, L menggunakan senjata tajam berupa parang untuk menyerang ayah kandungnya, berinisial M, serta dua tetangganya, S dan N. Dua korban, M dan N, menderita luka serius di bagian tubuh, termasuk bahu, kepala, dan tangan. Sementara korban S, tetangga yang pertama ditemukan meninggal, mengalami luka fatal di leher saat dilarikan ke rumah sakit. Kondisi korban yang masih hidup saat ini dalam pemantauan medis.

“Yang meninggal dalam perjalanan ke RS Ratu Zalecha adalah S, tetangganya. Dua orang lainnya masih dalam perawatan medis,” ungkap Iptu Rifani.

Investigasi untuk memastikan motif dan kondisi psikologis pelaku sedang berjalan sebagai bagian dari proses Historic Moment ini. Polisi memeriksa riwayat gangguan jiwa L, yang sejak usia 15 tahun merasakan pengaruh bisikan-bisikan dari dunia tak kasat mata. Dalam wawancara, L mengungkapkan bahwa bisikan tersebut memberinya perintah untuk melakukan tindakan kekerasan.

Penjelasan Pelaku dan Motif

Menurut sumber di lapangan, L awalnya menyerang ayah kandungnya dengan menghunus parang di depan rumah. Serangan tersebut mengenai bagian bahu, kepala, dan tangan korban. Setelah itu, pelaku melanjutkan aksinya dengan menyerang tetangga S dan N. Korban N menerima luka di leher dan tangan kiri, sementara S tidak sempat bertahan hingga sampai ke unit pelayanan kesehatan.

Dalam pernyataan terpisah, pelaku mengklaim bahwa bisikan gaib menjadi pemicu kekerasan yang dilakukannya. Ia menyebutkan bahwa pengalaman gangguan jiwa telah dirasakannya sejak masa remaja, yang membuatnya lebih rentan terhadap tekanan psikologis. “Bisikan itu mengatakan bahwa mereka harus dibacok,” kata L, menurut pengakuan kepada petugas penyelidik.

Kondisi Lokal dan Dampak Insiden

Insiden ini memicu kehebohan di Desa Pakutik, dengan warga sekitar mengaku terkejut dan prihatin terhadap kekerasan yang terjadi. Beberapa tetangga mengatakan bahwa L dikenal cukup tenang sebelum kejadian, tetapi terkadang menunjukkan tanda-tanda kecemasan. “Ia sering mengatakan melihat hal-hal yang tidak wajar di malam hari,” kata salah satu warga, Ibu Rina, yang tinggal di sebelah korban.

Kepolisian juga meminta keterangan dari keluarga korban dan warga setempat untuk memperkuat investigasi. “Kita sedang mengumpulkan bukti untuk memahami lebih jauh latar belakang pelaku,” jelas Iptu Rifani. Dalam upaya mengungkap Historic Moment ini, pihak berwenang juga akan melibatkan psikolog untuk memeriksa kondisi mental L sebelum kejadian.

Perspektif Masyarakat dan Langkah Pemerintah

Peristiwa ini menarik perhatian media dan masyarakat luas, terutama karena menunjukkan dampak bisikan gaib pada psikologi individu. Sejumlah warga mengungkapkan kecemasan terhadap keberadaan L setelah kejadian, sementara pemerintah setempat berkomitmen untuk memberikan perlindungan lebih kepada korban dan keluarga mereka. “Kita akan memastikan proses penyelidikan berjalan transparan dan cepat,” tegas Rifani.

Sebagai bagian dari Historic Moment ini, pihak berwenang juga berencana mengadakan pertemuan dengan masyarakat untuk mengidentifikasi potensi penyebab gangguan mental pelaku. “Kita ingin mencegah insiden serupa terjadi di masa depan,” tambah Rifani. Kini, kasus ini menjadi fokus utama untuk memahami keterkaitan antara faktor psikologis dan kekerasan dalam lingkungan rumah tangga.

Leave a Comment