Sosok Ahmad Bahar: Marah karena Putrinya Disandera GRIB Jaya
Sosok Ahmad Bahar kembali menjadi sorotan publik setelah memicu perdebatan melalui aksi penyanderaan yang dilakukan oleh organisasi GRIB Jaya terhadap putrinya. Konflik ini memperlihatkan sisi emosional dan perjuangan Ahmad Bahar dalam menegakkan keadilan, terutama setelah putrinya menjadi korban tindakan tidak terduga dari kelompok tersebut. Sebagai penulis buku “Gibran The Next President”, ia kini juga menunjukkan kepedulian terhadap isu-isu sosial yang terkait dengan keluarga dan anak.
Konflik berawal dari peretasan akun WhatsApp putrinya, yang menurut Ahmad Bahar menjadi titik awal dari pengambilalihan secara paksa. Ia mengungkapkan bahwa dalam hari itu, kelompok GRIB Jaya mengambil anaknya dari rumah di Depok dan membawanya ke markas organisasi di Kedoya, Jakarta Barat. “Ini bukan sekadar klarifikasi, ini penyanderaan! Karena saat saya tidak ada, mereka langsung mengambil keputusan dengan anak saya,” ujarnya secara emosional.
“Lho, klarifikasi kok ke anak? Ini sepertinya maunya yang diambilkan saya, cuman karena pas saya enggak ada, kok begitu caranya? Ini kan namanya penyanderaan, kan begitu?”
Detail Peristiwa Penyanderaan
Menurut keterangan dari kantor PP Muhammadiyah Jakarta Pusat, kejadian penyanderaan terjadi pada Senin (18/5/2026) malam. Ahmad Bahar menegaskan bahwa para anggota GRIB Jaya menunjukkan tindakan yang tidak terduga, di mana mereka tidak hanya meminta klarifikasi tapi juga mengambil anaknya secara langsung. Aksi ini dipicu oleh tekanan terhadap dirinya sebagai tokoh yang berbicara tentang politik dan budaya. “Saya menanggapi dengan emosi karena merasa tidak dihormati,” tambahnya.
Penyanderaan ini juga menimbulkan kehebohan di media sosial, dengan banyak warganet yang mengkritik tindakan GRIB Jaya. Sejumlah aktivis menyebutkan bahwa organisasi tersebut terlihat menggunakan anak sebagai alat tekanan dalam upaya memengaruhi opini publik. Meski demikian, Ahmad Bahar berupaya mempertahankan sikap tenang sekaligus menegaskan kebenaran peristiwa yang dialami.
Konteks Buku Gibran The Next President
Sosok Ahmad Bahar dikenal karena karyanya yang berjudul “Gibran The Next President”, yang diterbitkan bersama Dr. Aprinus Salam dan Dr. Purwadi. Buku ini menjadi salah satu referensi dalam diskusi budaya dan politik, dengan kumpulan esai yang menggali perspektif baru mengenai kekuasaan, identitas, serta peran lembaga-lembaga kebudayaan. Dalam konteks terbaru, ia terus mempertahankan konsistensi dalam menyampaikan pandangan kebudayaan, meskipun konflik yang terjadi menimbulkan perhatian terhadap kehidupan pribadinya.
Dalam wawancara dengan TribunSolo.com pada Selasa (11/6/2024), Ahmad Bahar menegaskan bahwa bukunya tidak dibuat atas permintaan partai politik atau kelompok tertentu. Ia menekankan bahwa seluruh isi buku muncul dari gagasan para penulis yang terlibat, termasuk keinginan untuk menyampaikan pikiran kebudayaan yang relevan dengan masa kini. “Sosok Ahmad Bahar dalam buku ini adalah representasi dari keinginan untuk menantang struktur dominan dalam masyarakat,” jelasnya.
Kontroversi yang terjadi selama penyanderaan putrinya justru menjadi bahan untuk melihat sejauh mana kontribusi karyanya diakui oleh publik. Banyak orang menyebutkan bahwa isu ini memberikan wawasan tentang bagaimana seorang penulis bisa menjadi sasaran perhatian, baik dalam konteks kebudayaan maupun sosial. Dengan memperkenalkan sisi pribadi, kini sosok Ahmad Bahar semakin menjadi fokus dalam perdebatan yang lebih luas.
