Ahli Kubu Nadiem Bantah Tidak Independen dalam Sidang Korupsi Chromebook
Historic Moment – Dalam Historic Moment yang menarik perhatian publik, Romli Atmasasmita, seorang ahli hukum pidana dari Universitas Padjajaran, membela kredibilitasnya sebagai saksi dalam sidang kasus korupsi pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) yang menjerat Nadiem Makarim. Kesaksian Romli menjadi fokus utama karena dianggap mampu memperkuat posisi pihak yang didakwa. Sejumlah pengamat hukum menyebut pertahanan ini sebagai titik balik dalam perjalanan persidangan, karena mengungkap kompleksitas hubungan antara ahli dan tim kuasa hukum Nadiem.
Kritik Terhadap Tuduhan Ketidakindependensian
Romli, dalam konferensi pers di Jakarta Selatan pada Rabu (20/5/2026), menjelaskan bahwa hubungan keluarga antara dirinya dan anggota tim hukum Nadiem tidak mengurangi kebebasan bersaksi. Ia menyatakan, “Kehadiran saya di sana tidak melanggar undang-undang, karena hubungan keluarga tidak dilarang dalam peraturan perundang-undangan.” Menurut Romli, tuduhan ketidakindependensian yang diberikan jaksa adalah upaya menimbulkan kesan negatif terhadap kesaksian ahli, yang seharusnya objektif dan tidak memihak.
“Kata-kata ‘tidak etis’ yang digunakan jaksa tidak tepat. Karena tidak ada pelanggaran hukum, berarti tidak ada pelanggaran etis. Yaitu satu yang perlu dipahami,” ujarnya. Ia menekankan bahwa sebagai ahli, Romli memiliki kewenangan untuk memberikan analisis berdasarkan pengetahuan profesional, bukan atas dasar hubungan keluarga.
Menurut Romli, kesaksian yang diberikan dalam Historic Moment ini menjadi penting karena menggambarkan bagaimana ahli hukum harus tetap independen meski memiliki kaitan dengan pihak yang didakwa. Ia menyoroti bahwa dalam sistem peradilan, kesaksian ahli tidak sama dengan kesaksian saksi, sehingga fokus utamanya adalah memastikan keandalan data dan bukti yang diberikan.
Pertanyaan Jaksa yang Dinilai Kurang Relevan
Dalam kesaksian Romli, jaksa penuntut umum mempertanyakan kepemilikan korporasi oleh anggota tim kuasa hukum Nadiem. Romli mengkritik pertanyaan tersebut karena dianggap tidak langsung terkait dengan kebebasan bersaksi. “Misalnya, diberi contoh, ahli ini ada orang yang punya korporasi, tapi dia tidak menjelaskan bahwa orang itu sudah meletakkan jabatan,” ujarnya sebagai ilustrasi.
“Lalu saya tanyai sekalian, apakah korporasinya didakwakan apa saja? ‘Oh, belum.’ ‘Loh, kok jangan tanyakan dong, bukan fakta kan?’ ” kata Romli. “Jadi itu dianggap meng-counter, padahal hanya meluruskan kesalahpahaman Jaksa.” Romli menyatakan bahwa pertanyaan seperti itu justru memperumit penyampaian fakta, karena menyangkut aspek tidak langsung.
Romli menegaskan bahwa hubungan keluarga antara ahli dan kuasa hukum terdakwa tidak bisa dianggap sebagai konflik kepentingan, selama ahli tetap menjaga objektivitas dalam analisisnya. Ia menambahkan, “Sebagai ahli, saya memberikan penjelasan berdasarkan fakta dan peraturan, bukan atas dasar hubungan pribadi.” Argumen ini diharapkan mampu memperkuat reputasi Romli dalam Historic Moment ini.
Konteks Kasus Korupsi Chromebook
Kasus korupsi Chromebook dan CDM telah menjadi sorotan media sejak beberapa bulan lalu, karena menghubungkan Nadiem Makarim dengan dugaan penggelapan dana publik. Dalam Historic Moment ini, kesaksian Romli menjadi bagian penting dalam membongkar proses pengadaan yang menurutnya memiliki transparansi yang cukup. Ia menyebut bahwa data yang diberikan oleh tim jaksa belum sepenuhnya jelas, sehingga memerlukan penjelasan dari ahli untuk memperjelas proses hukum.
Romli juga menyoroti bahwa dugaan korupsi ini memperlihatkan bagaimana sistem pemerintahan bisa menjerat pejabat dengan tuduhan yang memicu perdebatan publik. “Ini bukan hanya kasus hukum, tapi juga refleksi kebijakan pengadaan yang perlu dipertanggungjawabkan,” katanya. Ia berharap, kesaksian dalam Historic Moment ini bisa menjadi dasar untuk memperbaiki sistem yang terlibat.
Analisis Hubungan Ahli dengan Kuasa Hukum
Romli menjelaskan bahwa hubungan keluarga antara dirinya dan anggota tim hukum Nadiem Makarim adalah hal yang wajar dalam praktik profesional. “Keluarga bisa menjadi penghubung antara ahli dan kuasa hukum, tetapi tidak memengaruhi kredibilitas kesaksian jika semua penjelasan berdasarkan fakta,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sertifikasi sebagai ahli hukum pidana sudah mencakup kebebasan dalam memberikan pendapat, tanpa terikat pada keterlibatan pribadi.
Kritik Romli juga mengarah pada cara jaksa menekankan aspek hubungan keluarga sebagai bagian dari kredibilitas ahli. “Ini bisa disebut sebagai upaya mengalihkan fokus ke aspek tidak relevan, sementara fakta utama belum terungkap,” katanya. Menurut Romli, Historic Moment ini menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kinerja jaksa dalam menyajikan argumen yang jelas dan berimbang.
Dalam kesimpulannya, Romli berharap kebebasan bersaksi yang dijamin oleh hukum bisa dijaga, terutama dalam Historic Moment seperti ini. Ia menegaskan, “Kita harus menghargai peran ahli dalam memperkaya pemahaman publik tentang kasus korupsi.” Kesaksian Romli diharapkan menjadi langkah awal dalam menyelesaikan perdebatan tentang independensi ahli dalam sidang yang menarik banyak perhatian.
