Internasional

Latest Program: VIDEO Kesaksian Eks Jurnalis Indonesia Jadi Tahanan Israel: Saya Dihajar Komandan Tentara Israel!

Latest Program: VIDEO Kesaksian Mantan Jurnalis Indonesia sebagai Tahanan Israel: Saya Dihajar oleh Komandan Tentara!

Desk Internasional
Published Mei 22, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

VIDEO Kesaksian Mantan Jurnalis Indonesia sebagai Tahanan Israel: Saya Dihajar oleh Komandan Tentara!

Kisah Haru dari Penyerbuan Kapal Kemanusiaan Mavi Marmara

Latest Program – TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Muhammad Yasin, mantan jurnalis yang menjadi korban serangan militer Israel terhadap kapal kemanusiaan Mavi Marmara pada 31 Mei 2010, kembali mengungkap pengalamannya dalam wawancara eksklusif yang disiarkan oleh Latest Program. Dalam video tersebut, Yasin menyampaikan momen mencekam saat kapal diberhentikan, penumpang ditembaki, hingga dirinya dan ratusan relawan lainnya ditahan dalam kondisi kritis. Kisah ini kembali membangkitkan emosi para penonton sebagai pengingat akan kebrutalan yang terjadi di perairan internasional Laut Tengah.

Kisah Yasin menyoroti bagaimana serangan Israel tidak hanya terjadi secara mendadak, tetapi juga didasari oleh tujuan untuk menutupi fakta-fakta yang bisa merusak citra negara mereka. Selama ditahan, Yasin mengalami kekerasan fisik yang hebat, termasuk dihajar oleh komandan tentara Israel. “Saya adalah salah satu jurnalis yang dihajar oleh Komandan Tentara Israel, karena dinilai menyembunyikan sebuah flash disk,” katanya dalam wawancara terbaru, Rabu (20/5/2026). Fakta ini menunjukkan bagaimana jurnalis menjadi target karena mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

“Karena Israel ingin menutupi kebrutalan yang terjadi di atas kapal Mavi Marmara itu, agar tidak menyebar ke seluruh dunia,” tambah Yasin. Pengakuan ini memperkuat bahwa kejadian tersebut bukan hanya sekadar peristiwa lokal, tetapi juga menjadi isu global yang menimbulkan kontroversi besar.

Saksi mata langsung dari peristiwa penyerbuan kapal tersebut, Yasin menjelaskan dengan jelas bagaimana situasi berubah drastis dalam hitungan menit. Pasukan Israel, tanpa pemberitahuan sebelumnya, langsung menembak ke penumpang dan melempar granat kejut serta asap untuk mengacaukan ketenangan di kapal. Kebrutalan ini menimbulkan rasa takut yang mendalam di antara para relawan, termasuk dirinya sendiri.

Dalam penjelasannya, Yasin juga menceritakan bagaimana ia menjadi korban dalam proses interogasi. Setelah ditahan, pihak Israel tidak hanya melakukan pukulan fisik, tetapi juga mengancam dengan berbagai cara untuk mengakui kesalahan mereka. “Kami dihukum karena dinilai menyembunyikan bukti-bukti yang bisa mengungkap kebenaran,” ujarnya. Fakta ini memberi gambaran betapa pentingnya peran jurnalis dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Peristiwa 16 Tahun Lalu: Penyerbuan Kapal Kemanusiaan yang Membawa Kecemasan Global

Insiden Mavi Marmara, yang terjadi pada tahun 2010, menjadi sorotan internasional. Kapal tersebut membawa bantuan untuk warga Gaza, dan kejadian penyerbuan oleh pasukan komando Israel memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Yasin, yang masih mengingat peristiwa itu dengan jelas, menjelaskan bagaimana kebrutalan yang terjadi di atas kapal memperlihatkan sisi lain dari operasi militer tersebut. “Saya masih ingat betapa mengerikannya tembakan yang dilayangkan tanpa peringatan,” ungkapnya. Ini menunjukkan bagaimana kejadian tersebut tidak hanya merugikan korban, tetapi juga menimbulkan kecaman terhadap Israel di dunia luar.

Dalam wawancara dengan Latest Program, Yasin juga mengungkap bagaimana media di dunia luar membantu menyebarkan kejadian ini ke seluruh dunia. Ia menjelaskan bahwa tindakan jurnalis seperti dirinya menjadi faktor penting dalam menggerakkan opini publik dan tekanan internasional terhadap Israel. “Berkat dokumentasi kami, kebrutalan itu bisa terlihat oleh masyarakat global,” katanya. Dengan memperkuat narasi ini, Latest Program berharap bisa memberikan wawasan lebih dalam tentang kejadian yang terjadi 16 tahun lalu.

Penyerbuan Mavi Marmara tidak hanya memengaruhi para korban, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya kebebasan pers dalam melaporkan fakta. Yasin menjelaskan bahwa kejadian tersebut menunjukkan bagaimana jurnalis bisa menjadi korban dari kekuasaan militer. “Jurnalis adalah mata dan telinga masyarakat, tetapi mereka juga bisa menjadi sasaran serangan,” katanya. Dalam konteks ini, Latest Program berperan sebagai platform yang memperkuat suara para jurnalis dan korban serangan Israel.

Leave a Comment