Bukan 8, TPNPB-OPM Klaim 10 Penambang Emas Tewas dalam Serangan
Bukan 8—Papua, TRIBUNNEWS.COM—Sebanyak 10 penambang emas tanpa izin gugur akibat serangan oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKB) TPNPB-OPM di Distrik Awinbon, Pegunungan Bintang, Papua, Senin (18/5/2026) lalu. Angka ini menyimpang dari laporan awal yang menyebutkan hanya 8 korban yang tewas. KKB mengklaim serangan tersebut adalah bagian dari perang gerilya yang berlangsung sejak lama di wilayah itu.
Konteks Serangan dan Konflik
Peristiwa serangan di Distrik Awinbon terjadi setelah sejumlah aksi militer oleh TNI-Polri menargetkan pertambangan ilegal di kawasan yang dianggap sebagai jalur pemberontakan. KKB TPNPB-OPM, yang sebelumnya dikenal sebagai organisasi gerilya di Papua, telah lama menyatakan bahwa mereka menargetkan penambang ilegal sebagai bentuk penegakan hukum atas aktivitas eksploitasi sumber daya alam yang mereka anggap merusak lingkungan dan mengganggu keamanan daerah.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis setelah serangan, TPNPB-OPM mengakui bahwa operasi tersebut dilakukan di wilayah Korowai dan Kabupaten Yahukimo. Mereka menyebutkan bahwa sejumlah anggota kelompok mereka berhasil menewaskan delapan aparat keamanan yang sedang menyamar di area tambang. Namun, sumber dari pihak keamanan mengklaim semua korban yang tercatat adalah penambang emas tanpa izin, bukan anggota TNI-Polri.
Alasan Serangan dan Pernyataan Pemimpin KKB
Pimpinan KKB Batalyon Yamue, Ronald Hiluka alias Dejang Hiluka, menjelaskan bahwa aksi serangan di Awinbon adalah bentuk balasan atas kematian dua anggotanya di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, pada Sabtu (17/5/2026) sekitar pukul 02.00 WIT. “Kami melakukan serangan ini untuk membalas tewasnya Yoper Payage dan Marthen Heluka. Kalian mengambil dua nyawa anak buah saya, maka saya balas dengan jumlah yang lebih banyak,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.
“Kedua anggota kami mati di medan perang setelah ditembak oleh pasukan militer Indonesia pada dini hari di ibu kota Distrik Dekai,” terangnya. Dejang Hiluka menambahkan bahwa kejadian tersebut terjadi karena TNI-Polri terus melakukan operasi pengepungan di wilayah pertambangan, yang ia anggap sebagai penyebab utama konflik antara KKB dan masyarakat setempat.
Sejumlah penambang yang tewas dalam serangan tersebut tercatat sebagai warga lokal yang berpartisipasi dalam aktivitas eksploitasi tambang ilegal. Menurut sumber di lapangan, ada sekitar 10 penambang yang masih hilang hingga saat ini, dengan kondisi terakhir mereka belum diketahui secara pasti. Pihak keamanan menegaskan bahwa kejadian ini terjadi karena intensitas konflik antara KKB dan warga semakin tinggi.
Di sisi lain, pemerintah setempat meminta pihak berwenang untuk memastikan proses penyelidikan terhadap kejadian serangan tersebut. Mereka juga menyoroti bahwa konflik di Distrik Awinbon bukanlah kejadian baru, melainkan hasil dari persaingan antara kelompok separatis dan para penambang yang mengklaim hak atas sumber daya alam di kawasan tersebut. “Bukan 8, tetapi angka yang lebih besar menunjukkan bahwa perang gerilya di sini masih belum selesai,” kata salah satu pejabat daerah.
Sejumlah warga setempat menyatakan bahwa mereka tetap mempercayai TPNPB-OPM sebagai pihak yang bertindak atas nama rakyat Papua, meskipun aksi mereka sering kali menimbulkan korban. “Kami menganggap mereka sebagai pengayom warga yang berani melawan kekuasaan pusat,” ujar seorang warga di Distrik Awinbon. Namun, ada pula yang mengkritik cara KKB menargetkan penambang emas karena mereka dianggap sebagai eksploitasi yang merugikan lingkungan dan masyarakat.
Peristiwa ini juga menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat dan pihak berwenang. Sementara TPNPB-OPM menegaskan bahwa mereka bertindak demi kemerdekaan Papua, pihak keamanan menekankan bahwa operasi serangan tersebut memicu kematian warga sipil yang tidak terlibat langsung dalam konflik. “Bukan 8, tapi 10 korban tewas—ini menunjukkan dampak serius dari perang gerilya yang berlangsung di wilayah tersebut,” tambah sumber dari korps keamanan.
