Pembangunan di Aceh Dinilai Harus Tumbuh Selaras Bersama Alam
Pembangunan di Aceh Dinilai Harus Tumbuh Selaras Bersama Alam – JAKARTA – Safrizal ZA, Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan dari Kementerian Dalam Negeri, menegaskan bahwa kebijakan pembangunan Aceh harus berjalan seimbang dengan lingkungan alam. Ia menekankan bahwa alam bukan hanya sumber daya yang dimanfaatkan, tetapi bagian tak terpisahkan dari proses pengembangan daerah tersebut. Safrizal mengungkapkan bahwa kesadaran akan pentingnya harmonisasi antara pembangunan dan lingkungan alam semakin menjadi prioritas dalam menangani tantangan baru di masa depan.
Pelajaran dari Bencana Alam
Tragedi Tsunami tahun 2004 yang mengorbankan lebih dari 170 ribu jiwa menjadi pembelajaran berharga bagi Aceh. Selain itu, bencana hidrometeorologi besar pada akhir November 2025, termasuk banjir bandang dan longsor, mengakibatkan kerugian mencapai Rp68,67 triliun serta mengungsi 2,2 juta kepala keluarga. Safrizal menyoroti bahwa kondisi ini mengharuskan pemerintah daerah dan pusat memperkuat strategi pembangunan yang tidak merusak ekosistem. “Menjaga hutan bukanlah beban, melainkan investasi untuk kestabilan ekonomi dan keselamatan warga,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Senin (11/5/2026).
Dalam konteks ini, pembangunan di Aceh Dinilai Harus Tumbuh Selaras Bersama Alam menjadi kunci untuk mencegah krisis serupa. Dengan memperhatikan kawasan ekosistem seperti Leuser, yang memiliki nilai ekologis mencapai lebih dari USD 600 juta per tahun, Aceh dapat membangun ekonomi yang sehat tanpa mengorbankan keanekaragaman hayati. Safrizal berharap adopsi pendekatan berkelanjutan ini dapat mengurangi risiko kerusakan lingkungan akibat kegiatan pembangunan yang terburu-buru.
Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembangunan
Keberlanjutan pembangunan Aceh juga didukung oleh warisan kearifan lokal yang telah berk