Serangan AS ke Situs Rudal Iran Sia-sia, Terowongan Bawah Tanah Berhasil Dibuka Lagi
New Policy – Iran kembali menunjukkan ketangguhan dalam memulihkan fasilitas rudal bawah tanahnya setelah mengalami serangan intensif dari Amerika Serikat (AS) dan Israel selama beberapa bulan terakhir. Meski infrastruktur rudal tersebut hancur dalam serangan udara yang dilakukan koalisi AS-Israel, negara itu tetap mampu membangun kembali sebagian besar akses ke terowongan bawah tanahnya. Berdasarkan hasil investigasi CNN yang menggunakan citra satelit komersial, keterbatasan strategi serangan udara AS dan Israel terbongkar melalui upaya Iran dalam memperbaiki fasilitas rudalnya.
Eksperimen Dari CNN
Laporan yang diterbitkan CNN menyebutkan bahwa sekitar 50 dari 69 pintu masuk terowongan rudal Iran berhasil dibuka kembali. Data ini diambil dari analisis gambar satelit yang menunjukkan kemajuan dalam pemulihan infrastruktur militer negara itu. Pemulihan tersebut mencakup 18 fasilitas rudal bawah tanah yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk kawasan utama di Dezful. Dalam waktu dekat, beberapa terowongan tersebut sudah kembali beroperasi, meski masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya.
Sebelumnya, serangan udara AS-Israel dirancang untuk menghancurkan akses ke bunker rudal Iran, serta mengubur pintu masuk terowongan. Tujuannya adalah memutus persediaan senjata di bawah tanah, sehingga membatasi kemampuan Teheran dalam meluncurkan rudal ke luar. Namun, strategi tersebut gagal menghentikan aktivitas Iran, yang justru memperlihatkan ketahanan mereka di tengah kerusakan yang signifikan.
Kembali Beroperasi
Berdasarkan gambar satelit, pasukan Iran terus bergerak untuk membersihkan reruntuhan dan mengembalikan akses ke fasilitas rudal mereka. Proses ini dilakukan secara bertahap, bahkan di tengah ancaman serangan berikutnya yang terus mengintai. Alat berat konvensional seperti buldozer, ekskavator, dan truk jungkit digunakan untuk mempercepat pekerjaan. Meski membutuhkan tenaga besar, upaya ini menunjukkan kesiapan Iran untuk terus menghadapi tekanan militer.
Dalam konteks ini, satelit memperlihatkan bahwa Iran mampu memulihkan sebagian besar kawah ledakan yang sebelumnya menghambat akses logistik. Beberapa jalur utama ke pangkalan militer sudah diuruk kembali, dan bahkan dilapisi aspal baru. Hal ini mengindikasikan bahwa pasukan Iran tidak hanya fokus pada pemulihan struktur, tetapi juga memperkuat kesiapan operasional mereka.
Analisis Pakar Militer
Beberapa ahli militer menilai kemampuan Iran dalam memulihkan fasilitas rudal sebagai bukti kekuatan dan adaptabilitas mereka. Sam Lair, peneliti dari James Martin Center for Nonproliferation Studies, menegaskan bahwa Iran masih mampu menjaga kapasitas operasional, meski sebagian lini produksi sempat terganggu. “Mereka tetap memiliki armada peluncur dan kru yang siap, sehingga tidak ada hambatan untuk melanjutkan serangan,” kata Lair kepada CNN.
“Meskipun sebagian fasilitas produksi rudal mengalami kerusakan, Iran bisa segera memulihkan akses terowongan dan mempersenjatai peluncur yang tersedia. Mereka tidak perlu mengandalkan produksi baru, karena stok rudal yang tersimpan aman di bunker masih cukup untuk menjaga kontinuitas operasi,” ujarnya.
Langkah Iran ini juga menunjukkan ketahanan mental dan strategis. Mereka tidak hanya fokus pada membangun kembali terowongan, tetapi juga berusaha memperbaiki sistem komando dan persediaan senjata. Meski serangan udara AS dan Israel memang sempat mengurangi kapasitas produksi rudal, Iran mampu mengalihkan perhatian ke persiapan logistik dan operasi bertahan.
Klaim Aset Beku Dan Respons Trump
Kebangkitan Iran dalam memulihkan infrastruktur rudal juga didukung oleh klaim bahwa aset bekunya mencapai Rp214 triliun, yang akan segera cair. Hal ini memberikan tekanan tambahan pada koalisi AS-Israel, karena memungkinkan Teheran melanjutkan aktivitas militer tanpa tergantung pada pasokan eksternal. Dalam konteks ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa tidak ada transfer dana ke Iran dalam kondisi saat ini, meski laporan menyebutkan bahwa klaim tersebut dianggap sebagai bukti kemampuan finansial Iran.
Sejak gencatan senjata dicapai pada 8 April, operasi pemulihan oleh militer Iran semakin intensif. Bukan hanya terowongan yang dibuka, tetapi juga kemampuan mereka dalam memperkuat posisi strategis di sepanjang jalur logistik utama. Sebagai contoh, pangkalan rudal di Dezful menunjukkan kemajuan signifikan, dengan empat dari lima pintu masuk bawah tanah kembali berfungsi secara normal. Hal ini memberi gambaran bahwa Iran tidak hanya pulih dari serangan, tetapi juga memperkuat kemampuan operasional mereka.
Kehadiran satelit sebagai alat pengamat menyebutkan bahwa Iran terus memperbaiki infrastruktur, sementara AS dan Israel tetap mengintai untuk menyerang kembali. Namun, dengan kemampuan adaptasi dan ketangguhan militer, Iran menunjukkan bahwa mereka tidak mudah dikalahkan. Meski AS dan Israel mencoba membatasi akses ke terowongan, Iran justru mampu menembus hambatan tersebut dengan strategi yang sederhana namun efektif.
Perkembangan ini memberi pengaruh besar pada dinamika konflik. Pemulihan fasilitas rudal Iran menegaskan bahwa serangan udara AS dan Israel belum cukup untuk menghancurkan kemampuan militer mereka. Sementara itu, sumber daya finansial Iran, seperti klaim dana bekunya, juga menjadi faktor pendukung dalam mempercepat pemulihan. Dengan hasil yang terlihat di lapangan, negara itu terus memperlihatkan kesiapan untuk menghadapi setiap tantangan, termasuk peluncuran rudal berikutnya.
Kembali ke peristiwa awal, serangan udara yang dilakukan koalisi AS-Israel tidak cukup menghentikan operasional rudal Iran. Fakta bahwa 50 dari 69 pintu masuk terowongan sudah dibuka kembali menunjukkan bahwa Iran mampu mengatasi kerusakan yang terjadi. Mereka mengatur strategi secara terpusat, dengan mengalokasikan sumber daya dan tenaga kerja untuk mempercepat proses pemulihan. Dalam konteks ini, satelit tidak hanya menjadi alat observasi, tetapi juga membantu memvalidasi keberhasilan upaya Iran.
Dengan kekuatan taktis dan sumber daya yang tersedia, Iran menegaskan bahwa mereka tetap mampu menjalankan operasi rudal, bahkan di tengah tekanan serangan berulang. Proses pemulihan ini bukan hanya sekadar mengembalikan akses ke terowongan, tetapi juga mencerminkan kemampuan mereka dalam mempertahankan kapasitas militer di tengah konflik. Pihak Barat mungkin telah mengira bahwa serangan udara bisa menghentikan kemampuan Iran, tetapi fakta menunjukkan bahwa negara itu
