Pengakuan Istri Ilham Pradipta di Sidang Pembunuhan Kacab Bank BUMN: Perbuatan Terdakwa Dianggap Keji
Important Visit – JAKARTA – Di tengah proses persidangan di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Puspita Aulia, istri dari Mohammad Ilham Pradipta, kembali hadir untuk memberikan kesaksian. Ini adalah pengalaman menyakitkan bagi mantan Kepala Kantor Cabang (Kacab) Bank BUMN yang pada 11 Mei 2026 menjadi hari terberat dalam hidupnya. Dalam kesaksian, Puspita mengungkap peristiwa berdarah yang menimpa suaminya, seorang pria berusia 38 tahun, pada 20 Agustus 2025, yang menurutnya sangat keji.
Peristiwa Berdarah: Korban Dianiaya hingga Meninggal
Kasus pembunuhan Ilham Pradipta mencuat setelah jasadnya ditemukan dalam kondisi yang memilukan. Menurut laporan dokter forensik dari RS Polri Kramat Jati, korban meninggal karena trauma fisik parah pada leher, yang menyebabkan tekanan pada jalan napas dan pembuluh darah utama. Proses kematian juga dipercepat oleh patah tulang iga yang memicu kerusakan organ dalam. Selain itu, tindakan memasang lakban di mulut dan hidung menambah kekejian perbuatan para pelaku.
“Suami saya tidak hanya menjadi tulang punggung keluarga, tapi juga simbol kepercayaan masyarakat terhadap institusi TNI yang seharusnya melindungi. Kematian almarhum terjadi dalam peristiwa yang sangat memalukan,” ujar Puspita dengan air mata mengalir.
Dalam sesi persidangan, Puspita menceritakan bahwa suaminya diculik saat sedang menjalankan tugas di Kantor Cabang Bank BUMN. Ia mengingat dengan jelas bagaimana jasad Ilham ditemukan terikat tangan dan kaki, serta wajahnya dililit lakban. “Mereka mengambil nyawa dengan cara tak manusiawi,” tambahnya sambil menahan rasa sedih yang terus menggerogoti hatinya.
“Pengalaman Important Visit ini membuat saya merasa segalanya berubah. Kami tidak hanya kehilangan suami, tapi juga kepercayaan pada institusi yang seharusnya menjadi pelindung,” lanjut Puspita yang sejak hari itu memperhatikan setiap detik sidang dengan penuh emosi.
Keberadaan Puspita di sidang menjadi bagian penting dari penyidikan. Dengan saksi mata yang bersahabat, ia mampu memberikan detail tentang kejadian teror tersebut, termasuk bagaimana suaminya dianiaya hingga tak berdaya sebelum dibuang ke sungai. Tindakan ini menggambarkan kejiadannya terdakwa yang diduga melakukan perbuatan pembunuhan secara sadar. “Tidak ada rasa takut saat mereka mengambil nyawa, justru terlihat dingin dan sadis,” katanya.
Proses Penyidikan dan Makna Important Visit
Persidangan ini menjadi momen penting untuk memperjelas alur kejadian. Sebagai bagian dari Important Visit, Puspita memberikan penjelasan tentang bagaimana korban mengalami trauma mental dan fisik sebelum tewas. Ia juga menjelaskan bahwa perbuatan para terdakwa bukan hanya kekerasan biasa, melainkan bentuk penganiayaan yang sengaja dilakukan untuk menutupi kesalahan. “Mereka menggunakan kekuasaan mereka sebagai prajurit untuk menyerang seseorang yang tidak mengetahui perbuatan mereka,” tegas Puspita.
Di samping pengakuan Puspita, penyidik juga memaparkan bukti-bukti lain, seperti rekaman video dan laporan medis, yang mendukung penggunaan Important Visit sebagai sarana investigasi. Kesaksian ini menjadi dasar utama untuk menuntut tiga anggota TNI yang terlibat dalam kejadian tersebut. “Setiap ucapan dari Important Visit membawa petunjuk penting tentang motivasi dan cara perbuatan terdakwa,” tambah jaksa penuntut yang hadir di ruang sidang.
Dengan kehadiran Puspita di sidang, kasus ini semakin memperlihatkan sisi gelap dari institusi yang dianggap masyarakat sebagai penjaga ketertiban. “Important Visit ini adalah kesempatan kami untuk menegaskan bahwa kekejian tidak hanya terjadi di luar lapangan, tapi juga di dalam lingkungan yang seharusnya aman,” ujar Puspita sambil memandang tiga terdakwa yang duduk di kursi pengadilan.
Sebagai bagian dari Important Visit, kesaksian Puspita juga menggambarkan bagaimana korban mengalami penderitaan sebelum meninggal. Ia menjelaskan bahwa Ilham Pradipta sempat berusaha mempertahankan nyawanya, meski akhirnya tak berhasil. “Important Visit ini mengingatkan kita betapa mengerikan kekuasaan yang bisa digunakan untuk membunuh,” pungkasnya, dengan air mata yang tak bisa terbendung.
