Special Plan MBG Laporan Hasil Survei DEN ke Prabowo, Temukan Keterlibatan UMKM Lokal
Special Plan – Presiden Prabowo Subianto telah menerima laporan hasil survei mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilakukan oleh Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dalam kerangka Special Plan. Luhut Binsar Pandjaitan, ketua DEN, mengatakan bahwa survei ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak ekonomi program tersebut secara menyeluruh, termasuk peran ekosistem lokal dan keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam distribusi bahan pangan.
Pelaksanaan dan Tujuan Survei MBG dalam Special Plan
Survei MBG dilakukan di 800 titik lokasi strategis seluruh Indonesia, melibatkan sampel yang dipilih secara acak menggunakan algoritma komputer. Dalam Special Plan ini, DEN fokus pada pengukuran keberhasilan program dalam membangun jaringan pemasok lokal, sekaligus menilai sejauh mana kontribusi UMKM terhadap kelancaran distribusi bahan makanan. Luhut menyampaikan bahwa laporan ini disusun secara profesional, dengan data yang dihimpun secara sistematis untuk memberikan gambaran objektif tentang program tersebut.
“Kami dipanggil oleh presiden untuk menyampaikan hasil survei DEN mengenai pelaksanaan MBG. Kami memastikan semua poin dijelaskan secara detail karena Special Plan ini bertujuan mengukur dampak ekonomi pada wilayah terpencil dan memperkuat peran UMKM lokal,” ujar Luhut di Istana Merdeka, Jakarta, pada hari yang sama.
Sebagai bagian dari Special Plan, survei ini tidak hanya menilai efisiensi program MBG tetapi juga mengeksplorasi dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. Septian Hario Seto, anggota DEN, menjelaskan bahwa pemilihan sampel dilakukan secara mandiri untuk memastikan representatif, dengan fokus pada daerah-daerah yang kurang terjangkau oleh pasar besar. Metode ini dirancang agar hasil survei bisa menggambarkan kondisi nyata pelaku usaha di tingkat lokal.
Keterlibatan UMKM dalam Ekosistem MBG
Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 86,9 persen dari SPPG (Sistem Penyediaan Pangan Gambut) saat ini bekerja sama dengan penyedia bahan makanan berskala kecil atau UMKM. Angka ini menegaskan bahwa Special Plan MBG berhasil menciptakan keterlibatan yang signifikan antara program pemerintah dan komunitas lokal. Septian menambahkan bahwa distribusi bahan pangan dalam program ini berada di lingkungan yang sama dengan SPPG, sehingga memperkuat ketergantungan ekonomi masyarakat pada usaha kecil.
“Ekosistem pemasok dalam Special Plan MBG berfokus pada UMKM lokal, bukan perusahaan besar. Ini menunjukkan bahwa program ini bukan hanya memenuhi kebutuhan masyarakat tetapi juga memberdayakan usaha mikro di wilayah penyaluran,” kata Septian, yang juga menyoroti bahwa sekitar 64-65 persen dari UMKM yang terlibat berada di daerah yang sama dengan SPPG.
Dalam Special Plan ini, DEN juga mengungkapkan bahwa 99 persen tenaga kerja dalam MBG berasal dari masyarakat lokal. Fakta ini membuktikan bahwa program MBG berdampak langsung pada perekonomian daerah, dengan sebagian besar tenaga kerja terlibat dalam distribusi dan pemanfaatan bahan pangan. Sepanjang survei, DEN memastikan data yang dikumpulkan tidak hanya bersifat kuantitatif tetapi juga kualitatif, termasuk survei kepuasan terhadap kinerja penyedia barang.
Dengan Special Plan, DEN menegaskan bahwa MBG tidak hanya menjadi program sosial tetapi juga mengubah dinamika ekonomi lokal. Hasil survei menunjukkan peningkatan akses masyarakat terhadap bahan pangan bergizi, sekaligus memperkuat peran UMKM dalam sistem distribusi. Dalam konteks ini, DEN berharap program MBG bisa menjadi model yang dapat dikembangkan dalam kebijakan pemerintah di masa depan, terutama dalam membangun ekonomi inklusif.
