Main Agenda: Ruben Onsu Ingin Bertemu Anak di Lingkungan Baik
Konflik Pemisahan Ruben Onsu dan Sarwendah
Main Agenda – Dalam upaya menyelesaikan perselisihan yang terjadi antara Ruben Onsu dan Sarwendah, Main Agenda menjadi pusat perhatian publik. Setelah memutus hubungan perkawinan pada 2024, Ruben mengungkapkan bahwa konflik tersebut sebenarnya bersumber dari keinginan untuk memastikan anak-anaknya berada di lingkungan yang kondusif. Meski sudah menandatangani perjanjian kesepakatan, di mana jadwal pertemuan anak diatur menjadi dua hingga tiga kali seminggu, Ruben masih menghadapi tantangan untuk meraih waktu berkualitas bersama putra-putrinya.
“Main Agenda utamanya adalah memastikan anak-anak tetap merasa nyaman dan diperhatikan,” kata Ruben Onsu dalam wawancara Jumat (12/6/2026). Ia menegaskan bahwa keinginan untuk bertemu anak tidak hanya sekadar kebutuhan pribadi, tetapi juga bagian dari komitmen untuk kebaikan masa depan anak-anak.
Konflik ini memuncak ketika Ruben menyatakan keinginan untuk bertemu anak secara langsung, tanpa melibatkan perantara. Pernyataan ini diungkapkan dalam acara *Pagi Pagi Ambyar*, di mana Ruben mengungkapkan kecemasannya terhadap pengasuhan yang dijalani anak-anaknya. Ia juga menyebutkan bahwa sejumlah orang terdekat Sarwendah dianggap memiliki pengaruh dalam keputusan sehari-hari anak-anak, sehingga memicu kekhawatirannya.
Ruben Onsu menegaskan bahwa lingkungan keluarga yang dibentuk Sarwendah tidak selalu sesuai dengan harapan. “Saya ingin anak-anak tidak hanya diakui secara legal, tetapi juga secara emosional,” ujarnya. Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa Main Agenda dalam kasus ini melibatkan upaya untuk menjaga hubungan emosional antara ayah dan anak, meski mereka sudah terpisah.
Pandangan Hotman Paris tentang Pertemuan Anak dan Nafkah
Selain Ruben, Hotman Paris juga menjadi pihak yang turut memberikan perspektif dalam permasalahan ini. Sebagai ayah angkat Betrand Peto, Hotman menyoroti pentingnya lingkungan yang stabil bagi pertumbuhan anak. “Main Agenda dari pengasuhan anak adalah memberikan kepastian, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara psikologis,” jelas Hotman dalam wawancara terpisah.
“Karena menurut saya, Ruben berhak memastikan anak-anak berada di lingkungan yang tepat,” tambah Hotman Paris. Ia menekankan bahwa keputusan nafkah dan pertemuan anak tidak boleh hanya dibuat untuk kepentingan pribadi, tetapi juga dengan pertimbangan jangka panjang.
Dalam konflik ini, klien Sarwendah, Chris Sam Siwu, juga terlibat. Ruben mengunggah kembali potongan video jumpa pers daring yang dibawakan oleh Chris pada 2025. Dalam video tersebut, Sarwendah ditemui di Kuningan, Jakarta Selatan, dan menjelaskan alasan pembagian waktu bersama anak. Meski terjadi perbedaan pendapat, Main Agenda tetap menjadi tema utama yang menghubungkan semua pihak terlibat.
Konflik antara Ruben dan Sarwendah tidak hanya mencakup pertemuan anak, tetapi juga peran aktif kedua belah pihak dalam pengasuhan. Ruben berharap Main Agenda bisa menghasilkan solusi yang seimbang, di mana anak-anak tetap merasa dicintai oleh kedua orang tua. Sarwendah, di sisi lain, menekankan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan dalam kehidupan keluarga.
Masyarakat umumnya memperhatikan proses ini secara intens, terutama karena Ruben dan Sarwendah adalah selebriti yang memiliki banyak pengikut di media sosial. Main Agenda dalam kasus ini menjadi cerminan dari bagaimana konflik personal dapat memengaruhi kehidupan anak-anak. Selama ini, Ruben terus berupaya untuk menjaga kualitas waktu bersama anak, meski ada hambatan dari pihak Sarwendah.
Konflik ini juga mengingatkan bahwa Main Agenda dalam hubungan orang tua-anak perlu dipertimbangkan secara mendalam. Ruben Onsu menegaskan bahwa keputusan untuk memastikan anak di lingkungan baik adalah bagian dari tanggung jawab seorang ayah, dan ia tak ragu untuk memperjuangkan hal tersebut meski harus melalui proses hukum. Harapan untuk Main Agenda yang sejalan dengan kepentingan anak-anak tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah yang diambil.
