Demo Tolak Kenaikan BBM: Mahasiswa Jakarta, Bandung, hingga Kendari Turun ke Jalan
Gelombang Demo Tolak Kenaikan BBM – Demo menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kian memanas menjadi gelombang demo tolak kenaikan BBM di seluruh Indonesia. Pada 10 Juni 2026, pemerintah resmi menaikkan harga BBM non-subsidi, dengan Pertamax 92 meningkat dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kebijakan ini langsung memicu aksi unjuk kekuatan dari berbagai kelompok mahasiswa di kota-kota besar, menunjukkan kekecewaan yang luar biasa terhadap keputusan tersebut.
Mahasiswa di Kota Kendari
Pada hari pertama kenaikan BBM, aksi paling besar dilakukan di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Universitas Halu Oleo (UHO) memblokade jalan utama dan membakar ban di Kawasan Bundaran Tank sebagai bentuk protes. Mereka menyuarakan kepedulian terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, yang dianggap semakin mengancam perekonomian rakyat. Ketua BEM, Zacky Fahmi, menyampaikan bahwa dampak kenaikan BBM terasa langsung pada masyarakat, terutama para pekerja dan pengusaha kecil.
“Kenaikan BBM membuat kehidupan masyarakat semakin berat. Kita harus menyuarakan keadaan ini agar diperhatikan oleh pihak yang berwewenang,” kata Zacky Fahmi, dikutip dari Kompas.com, Jumat.
Aksi di Kendari bukan hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga didukung oleh warga sekitar. Ratusan peserta demonstrasi menuntut revisi kebijakan BBM yang dianggap tidak adil, mengingat kenaikan ini dilakukan tanpa adanya pertimbangan yang memadai terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Aksi ini dianggap sebagai bagian dari gelombang demo tolak kenaikan BBM yang semakin kuat di berbagai daerah.
Pelaku dan Dampak di Jakarta dan Bandung
Demo serupa juga berlangsung di Jakarta dan Bandung, dengan mahasiswa dari berbagai lembaga kampus menyuarakan penolakan mereka. Di Jakarta, aksi dijadwalkan pada Jumat (12/6/2026), dan menurut rencana akan lebih besar dibandingkan demo di Kendari. Peserta mengharapkan pemerintah memperhatikan kebutuhan masyarakat yang terbebani oleh kenaikan biaya transportasi dan kebutuhan pokok. Aksi di Bandung menunjukkan solidaritas nasional terhadap isu ini, yang menjadi bagian dari gelombang demo tolak kenaikan BBM yang terus berkembang.
Kenaikan BBM juga memicu perdebatan di media sosial, dengan banyak warganet menyampaikan pendapat dan mendorong pihak berwenang untuk bertindak cepat. Para aktivis menekankan bahwa harga BBM yang tidak lagi subsidi berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi, mengganggu daya beli masyarakat, dan mengurangi kemampuan belanja untuk kebutuhan lain. Ini menjadi isu utama dalam gelombang demo tolak kenaikan BBM yang semakin menjadi sorotan.
Dalam konteks ini, gelombang demo tolak kenaikan BBM tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga menunjukkan kekuatan solidaritas nasional. Aksi di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, dan Kendari memperlihatkan bahwa kebijakan harga BBM menjadi isu yang sangat relevan bagi masyarakat luas. Para peserta demo menginginkan pertemuan dengan pihak pemerintah untuk mendiskusikan alternatif yang lebih adil dan mengurangi tekanan pada kehidupan sehari-hari warga.
