Pedagang Busana Pengantin Beringharjo Bertahan di Tengah Persaingan Toko Online BRILink
Key Issue tengah menguji ketangguhan para pedagang busana pengantin di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Meski kenaikan toko daring semakin mengancam bisnis ritel tradisional, sejumlah pengusaha di sini tetap berupaya untuk bertahan. Salah satunya, Sri Maryati, seorang pedagang yang telah menjalankan usaha keluarganya selama hampir tiga dekade. Dengan menjadi agen Key Issue BRILink, ia berusaha memperkuat posisi usaha di tengah tantangan digitalisasi yang mempercepat perubahan pola konsumen.
Sejarah dan Perubahan Pasar Tradisional
Pasar Beringharjo, terletak di Jalan Beringharjo, Yogyakarta, dikenal sebagai salah satu pusat busana pengantin terbesar di Indonesia. Sejak tahun 1997, Sri Maryati mengambil alih kios yang diwariskan oleh orang tua. Pada masa itu, pasar masih sangat ramai, dengan pengunjung datang dari berbagai daerah untuk membeli koleksi seperti gaun, beskap, kebaya, brokat, dan aksesori adat. Namun, dengan munculnya toko online, frekuensi pengunjung turun, sementara permintaan melalui platform digital meningkat pesat.
Menurut Sri, pergeseran ini membuatnya harus beradaptasi. “Awalnya hanya tiga kios, sekarang sudah ada sebelas tempat usaha, menyebar dari Beringharjo hingga di rumah,” katanya dalam wawancara dengan Tribunnews, Sabtu (13/6/2026). Meski kesuksesan kios-kios baru menunjukkan daya tarik pasar, ia menilai itu juga membawa kompetisi yang ketat. “Toko daring memberi banyak pilihan, tapi kualitas dan pengalaman langsung dengan pengrajin masih tidak tergantikan,” jelasnya.
Strategi Adaptasi dan Dukungan BRILink
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Sri Maryati memutuskan bergabung dengan BRILink, layanan kredit dari Bank BRI yang dirancang untuk mendukung usaha mikro kecil menengah (UMKM). Dengan Key Issue BRILink, ia mendapatkan akses ke fasilitas pembiayaan yang memungkinkan pengelolaan modal lebih efisien. “Dengan Key Issue, saya bisa memperbesar persediaan dan tidak khawatir kehabisan stok saat musim pernikahan tiba,” ucapnya.
Strategi ini berdampak signifikan pada omzet. Dalam satu bulan puasa, penjualan bisnisnya turun 60-70 persen dibandingkan setelah Lebaran, tetapi dengan bantuan BRILink, ia bisa menjaga kelangsungan usaha. “Semenjak ada pedagang online, saya nggak terlalu mikir. Rezeki sudah ada yang ngatur,” tegasnya sambil menunjukkan koleksi yang tergantung rapi di etalase. Meski demikian, ia tetap mengakui bahwa perubahan cara belanja masyarakat, seperti preferensi untuk pesanan cepat dan pengiriman langsung, memaksa para pedagang untuk memperbaiki sistem distribusi mereka.
Di samping Key Issue BRILink, Sri juga menggandeng pengrajin lokal untuk meningkatkan kualitas produk. “Kami masih mempertahankan kesan tradisional, tapi juga memperkenalkan desain yang lebih modern agar menarik pembeli muda,” tambahnya. Hal ini mencerminkan upaya UMKM Beringharjo untuk tetap relevan di era digital. Beberapa pedagang lain mulai memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan usaha mereka, meski masih ada yang bergantung sepenuhnya pada promosi langsung di pasar.
Key Issue di sektor ritel tradisional juga terlihat dari pergeseran pola konsumen. Banyak calon pengantin kini memilih membeli busana secara online, terutama di platform seperti Tokopedia dan Shopee. Namun, para pedagang di Beringharjo berupaya menawarkan keunggulan seperti pengalaman langsung, konsultasi desain, dan pilihan kain tradisional yang sulit ditemukan di toko daring. “Beli online bisa cepat, tapi beli di sini bisa jadi lebih personal,” kata Sri. Ia menilai Key Issue memainkan peran penting dalam membantu pengusaha lokal menjaga keberlanjutan bisnis.
Key Issue ini juga membawa dampak pada hubungan antara pengrajin dan pembeli. Pasar Beringharjo tetap menjadi tempat pertemuan antara para pengusaha dan konsumen yang menghargai tradisi. Meski pesaing online terus menggerus pangsa pasar, komunitas pedagang di sini belum menyerah. Mereka berharap dengan Key Issue BRILink dan strategi adaptasi yang tepat, bisnis mereka bisa bertahan lebih lama. “Asal kita tetap konsisten, pasti bisa hidup,” pungkas Sri Maryati, yang optimis meski di tengah tantangan yang berat.
